
Cuaca pagi hari itu sangat cerah, burung-burung terlihat berceloteh di ranting-ranting yang terlihat berayun lemah.
Seorang wanita cantik duduk di kursi taman, wajahnya terlihat lebih segar daripada biasanya. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya.
Seorang pria muda menghampirinya dan segera mengambil tempat untuk duduk di sisinya. Tangan kanannya terulur, memberikan sebuah paper cup berisi cappucino hangat dari mesin pembuat kopi.
Lia menatap tangan yang terulur itu dan menerimanya. "Terima kasih." Perlahan di sesapnya cappucino yang masih panas itu secara perlahan.
Radith tersenyum sambil mengacak rambutnya sendiri. "Leon sudah mulai membaik. Mungkin besok kau bisa membawanya pulang."
Lia menoleh, ditatapnya wajah dokter muda di sampingnya. Wanita itu tersenyum, "Terima kasih, sudah merawatnya untukku."
"Tentu saja, itu sudah merupakan suatu kewajiban bagiku."
Lia menghela napas, "Life must go on, right? Kita harus kembali menjalani hidup kita masing-masing." Digenggamnya papercup itu dengan kedua tangannya, mengalirkan kehangatan di kedua tangannya.
"Jadi apa yang akan kau lakukan setelah kepulangan Leon?" tanya dokter muda itu sambil menggigit bibirnya.
"Menyibukkan diri. Kurasa aku akan kembali membuka usaha yang dirintis oleh Ray." Wanita itu mengangkat bahunya seolah tak yakin akan keputusan yang diambilnya.
"Jangan ragu untuk menghubungiku kapanpun kau membutuhkan aku."
Lia tertawa, "Apa kau yakin? Ini adalah kesempatan bagimu menjauh dariku."
"Kurasa aku tak mungkin menjauh darimu, Lia. Kurasa aku-- " Pria muda itu kembali menggaruk kepalanya. Ia menggigit bibirnya kembali.
Lia mengerutkan keningnya, menunggu kalimat yang tertahan di bibir dokter muda di sampingnya.
"Kurasa aku telah memikirkanmu semalaman. Dan kurasa aku-- " Radith kembali menghela napas panjang. "Aku menyukaimu Lia."
Kedua mata Lia membulat, ia merasa terkejut, tak percaya akan apa yang di dengarnya.
"Ta-- tapi, bukankah kau akan menghadapi suatu kegelapan jika tetap bersamaku?" tanya Lia dengan gugup. "Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu?"
Radith tersenyum tipis. "Aku akan mengambil resiko apapun. Lagipula aku tak dapat melawan rahasia alam. Kurasa aku harus tetap menjalaninya dengan ikhlas dan tetap berusaha yang terbaik."
Dokter muda itu menatap sepasang mata wanita di sampingnya yang masih membulat tak percaya akan keputusan yang telah diambilnya.
Diraihnya tangan wanita di sisinya. "Kurasa kita bisa mengatasi segalanya bersama."
^^^Ray, kuharap kau memberikan solusi yang baik untuk kami. Semoga ia bisa menjaga ku dan Leonard dengan baik menggantikanmu. Dan kuharap kau dapat bahagia dan tenang di sana.^^^
__ADS_1
🐥🐥🐥🐥🐥
Wajah berseri sang bocah kecil menyambut kedatangan mereka.
"Mami," panggilnya sambil mengulurkan kedua tangannya. Senyum lebar nampak di bibirnya.
Lia menghampiri dan memeluk putranya. Dikecupnya keningnya. "Kau sudah merasa lebih baik?"
Bocah itu mengangguk, "Aku ingin pulang, aku ingin bermain biolaku lagi."
Lia menatap Radith sambil menghela napas. "Biolaku, di rumah kan, mam?"
Sepasang mata bulat cerah bocah kecil itu kini menatap sepasang mata ibunya, menuntut sebuah jawaban.
"Leon, jangan khawatirkan biolamu. Pulihkan badanmu dan kita akan membeli biola baru untukmu."
Leon tampak sedih, "Tapi itu pemberian grany. Leon rindu grany."
Lia duduk di ranjang, tepat di samping Leon. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dan melakukan panggilan video.
"Hai, Leonard. Sayang. Apa kau sudah sehat?" tanya seorang wanita tua dalam layar ponselnya.
Sementara itu, Radith keluar secara diam-diam dari ruangan itu. Ia merasa ini adalah sebuah kesempatan baginya mendekatkan diri pada Leonard. Sebuah biola, ya... dengan sebuah biola.
🐥🐥🐥🐥🐥
"Om dokter, grany akan datang. Dia berjanji akan datang jika Leon sembuh dan pulang," celoteh bocah itu sore hari saat Radith mengunjunginya.
Radith tersenyum. "Sabarlah Leon, kau akan pulang besok. Saat kau pulang nanti, apa kau akan melupakan aku?" Disentuhnya ujung hidung bocah kecil itu.
"Hmm... mungkin iya," sahut bocah kecil itu. Suatu jawaban yang sangat jujur.
Radith menggelitik perutnya, "Itu berarti aku harus sering mengunjungimu agar kau mengingatku, bukan." Pria itu tertawa menggoda sang bocah yang tertawa karena rasa geli yang tak tertahan di perutnya.
Lia tersenyum melihat kegembiraan yang mulai terpancar dalam hidupnya.
"Apa kau juga ingin bertemu grany, om dokter? Dia sangat baik dan cantik," kata bocah kecil itu. Leon selalu bersemangat jika menceritakan tentang grany Diane Savero.
Radith tersenyum, "Tentu saja, aku tidak akan melewatkan pertemuan dengan orang sehebat Grany Diane." Sebelah matanya berkedip. "Kau boleh memanggilku untuk menemuinya jika ia telah sampai."
__ADS_1
"Tentu saja. Aku janji akan memanggilmu untuk ikut bertemu dengannya." Mereka berdua menautkan jari kelingkingnya menandakan sebuah janji seorang sahabat. Janji yang harus ditepati.
Radith keluar dari ruangan itu dengan sebuah senyuman lebar. Lia mengikutinya, "Jadi apa rencanamu?"
"Melamarmu di hadapan Grany Diane." Tanpa ragu-ragu, pria itu menyatakan niatnya.
Lia hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu ketika dilihatnya seorang pria berdiri di hadapan mereka. Sepasang matanya menatap kedua pasang manusia di hadapannya dengan pandangan dingin.
Pria itu segera berjalan melalui tengah-tengah mereka untuk memisahkan keduanya. Ia masuk ke dalam ruang rawat inap Leonard.
"Mr. Samuel!" teriak Leon dengan girang.
Lia berbalik kembali menemani putranya. Hatinya kembali merasa gundah.
"Leon, kau adalah putraku." Pria itu tak ingin membuang waktu lagi, "Seharusnya kau memanggilku, Daddy bukan?"
Kali ini Leonard dengan kebingungan menatap ibunya. Ia cemas akan perasaan ibunya. Lia menganggukkan kepalanya.
"Daddy." katanya lirih.
"Jadi bagaimana keputusanmu Lia?" tanya Sam dengan pandangan yang mengintimidasi.
Kedua kaki Lia terasa lemah. Perlahan dia mundur dan duduk di sofa. Sam mendekatinya, mendekatkan bibirnya di samping kepala Lia. "Apa kau akan menolakku dan menikah dengan dokter muda tadi?" lirihnya.
Sebuah senyuman menyeringai terlihat di wajahnya. "Aku akan menyingkirkannya. Menyingkirkan semua yang menghalangi langkahku."
"Sam, kau tak boleh menyakitinya," kata wanita itu.
Sam menatap kedua pasang manik mata wanita yang ada d hadapannya. Kedua wajah yang hanya berjarak beberapa senti itu bertemu pandang. Kedua jantung mereka berdegup dengan kencang. Perasaan takut, benci, rindu dan rasa ingin memiliki bercampur aduk menjadi satu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Gimana makin seru ga sih, ceritanya...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...
Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰
Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗
__ADS_1
사랑 해요
salang haeyo 😘