
"Maafkan papa, Lia. Papa tidak bisa membantumu. Seandainya bisa, papa akan berikan segalanya untuk Leon," lirih pria tua itu sambil mengusap air mata yang menggenang di matanya.
"Jadi-- golongan darah papa?"
"B positif sama denganmu, Lia."
Lia tertunduk lemah di lantai. Kedua pasang tangan ayah dan anak itu masih saling menggenggam berusaha saling menguatkan hati mereka masing-masing.
"Lia, sebaiknya kau mencoba menghubungi ayah kandungnya." Tiba-tiba Pak Hartomo memberikan saran yang cukup mengagetkannya.
Lia menggelengkan kepalanya. "Tidak Pa, aku bahkan tidak yakin dia akan mengakuinya."
Pak Hartomo menggelengkan kepalanya perlahan. "Benar, kau tidak akan mengetahui reaksinya sebelum kau mencoba memberitahunya."
Lia menatap pria tua dihadapannya. Ia menggenggam tangan putrinya, seolah memberikan semangat dan sebuah pengharapan baginya.
"Pergilah anakku. Jemput dia, beri dia kesempatan menjalankan kewajibannya sebagai ayah." Pak Hartomo menepuk tangan Lia yang ada dipangkuannya. "Berikan juga kesempatan pada papa untuk bertemu dengan Leonard, sayang."
Pria tua itu kembali mengusap pelupuk matanya yang mulai berkaca-kaca. "Anak yang malang, papa sungguh bodoh menyia-nyiakan kalian."
Lia menangis tersedu, sudah lama ia ingin mencurahkan seluruh perasaan yang dipendamnya. Pak Hartomo hanya diam, sementara tangannya menepuk lembut punggung putrinya yang malang.
"Semuanya akan berakhir dengan baik. Percayalah putriku. Perjalananmu masih sangat panjang."
🐥🐥🐥🐥🐥
Lia melangkah dengan gontai menuju rumah Samuel Augusto. Rumah yang sering dikunjunginya saat Leon menjalankan masa karantina audisinya itu terlihat sangat sepi.
Lia terlihat sangat kusut. Matanya sembab karena banyak menangis. Bahkan dia tak sempat merapikan rambutnya. Hanya sebuah penjepit rambut besar untuk menarik rambutnya ke atas, agar ia lebih rapi dan leluasa bergerak.
Ditekannya tombol bel pintu di gerbang. Seorang pria bertubuh besar berlari dengan tergopoh-gopoh untuk segera membukakan pintu untuknya.
Tanpa basa-basi, Lia masuk ke dalam rumah. Tekadnya sudah bulat, ia harus membawa Sam untuk memberikan darahnya pada anaknya.
Lia mendorong pintu ruang kerja Samuel Augusto dengan perasaan kacau. Mendengar suara pintu dibanting terbuka, Samuel yang kala itu sedang duduk menghadap pada laptopnya menjadi terkejut dan segera bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Sam, tolonglah Leon. Dia sangat membutuhkanmu." Suara Lia terdengar bergetar. Ia ingin sekali menyeret pria di hadapannya tanpa harus berbasa-basi.
"Ada apa dengan Leon?"
"Dia mengalami kecelakaan dan sekarang membutuhkan banyak darah."
Sam memandang Lia acuh. "Mengapa harus aku? Mengapa kau tak menghubungi PMI."
"Golongan darahnya langka. Tolonglah Sam, kumohon. Aku sudah tak tahu lagi harus mencari kemana."
"Apa yang membuatmu berpikir, aku memiliki golongan darah yang sama dengannya? Bagaimana kau tahu golongan darahku?" Sam tertawa merasa itu suatu hal yang lucu.
"O negatif. Darah seorang anak, pasti sama dengan salah satu orang tuanya." Lia mengatakannya dengan sangat jelas.
Sam mulai tertarik. Ia berjalan mendekati Lia. "Bagaimana kau tahu aku memiliki golongan darah O negatif? Dan apa yang baru saja kau bilang? Anak dan orangtuanya?"
Lia merasa putus asa. Bagaimana caranya meyakinkan orang yang sama sekali tak tahu dan bahkan tak merasa memiliki putra. Kedatangannya terasa percuma.
Ia hendak berbalik meninggalkan ruangan Samuel, ketika tiba-tiba pria itu berseru padanya. "Tunggu. Apa itu kau lebah kecilku?" Sam menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas tatto yang terlukis di tengkuk Lia.
Pria itu berlari mendekati Lia yang berhenti tepat di depan pintu. Lia menghela napas, melepaskan gagang pintu yang hendak diputarnya dan membalikkan badannya.
Tak mau menunggu lama, pria itu segera memeluk Lia. Wanita yang telah lama dicarinya. Wanita dimana ia kembali jatuh cinta pada pertemuan keduanya. Dan betapa bodohnya ia tak segera mengenali wanita yang telah meninggalkan kesan mendalam dalam satu malamnya itu.
Lia menangis, saat ini hatinya berada di saat-saat terapuh dalam hidupnya. Ketika mendapatkan sebuah pelukan, wanita itu seakan mendapat suatu perlindungan dan kesempatan untuk meletakkan semua beban yang begitu berat untuk dipikulnya.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Leon membutuhkanmu. Dia membutuhkan darah ayahnya." Lia segera menarik tangan Samuel bergegas meninggalkan rumah itu.
Sepanjang perjalanan, Samuel masih disibukkan dengan berbagai macam pikirannya.
"Jadi, katakan padaku. Setelah malam itu, kemana kau menghilang?"
"Aku rasa, sangat tidak mungkin bila aku tiba-tiba muncul dan mengatakan kehamilanku. Itu benar-benar gila. Bahkan papaku sendiri mengusirku. Jadi aku memutuskan membesarkan Leon sendiri." Lia membuang wajahnya, menatap jalanan kota yang terlihat ramai.
Sam kembali mengingat malam delapan tahun yang lalu. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Jadi, Leon putra kita, sayang?" Pria itu tiba-tiba menggapai tangan Lia. Lia begitu terkejut, dengan cepat ia menarik tangannya.
__ADS_1
"Sam. Aku sudah bersuami," katanya.
"Jadi, dimana suamimu? Mengapa dia membiarkanmu berkeliaran bahkan mencariku sebagai donor bagi anaknya?"
Lia menatap Sam dengan pandangan kebencian bercampur kepedihan. "Kau benar, seandainya dia masih hidup, dia tak akan membiarkanku berkeliaran mencari donor seperti ini. Dia orang baik dan sama sekali tidak egois. Dia bukan seorang yang arogan dan emosional."
Lia kembali meneteskan air mata. Ingatannya kembali pada Ray. "Maaf, aku jadi emosional. Bahkan kami baru saja menikah."
Kali ini Sam hanya berdiam diri. Ia tak mampu mengatakan apapun. Entah kenapa, melihat air mata wanita ini, hatinya ikut merasa hancur. Sam menghela napas panjang sementara mobil tetap melaju menuju rumah sakit tempat Leon berada.
🐥🐥🐥🐥🐥
"Lia, aku akan memberikan darahku sejumlah yang kau butuhkan. Dengan sebuah syarat-- " kata Samuel.
"Syarat? Bahkan untuk menolong anak kandungmu sendiri, kau memberiku sebuah syarat?" geram Lia. Ah-- pria ini benar-benar keterlaluan.
Sam tak ingin kehilangan kesempatannya. Ia mengerutkan keningnya. "Aku sudah katakan padamu, aku akan memberikan darahku. Sekarang semua tergantung pada keputusanmu, Lia."
"Sebutkan syaratmu, apa kau menginginkan sejumlah uang?" tanya Lia dengan geram. "Aku akan menyediakannya segera."
Sam menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku sama sekali tidak membutuhkan uang, sayang," lirihnya di telinga Lia. "Aku hanya menginginkan lebah kecilku kembali padaku."
Wajah Lia memucat, kakinya melangkah mundur perlahan menjauhi Samuel. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul perasaan benci pada pria di hadapannya.
Ia memanfaatkan kesempatan di saat Lia ada dalam himpitan masalah!
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.
Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.
__ADS_1
사랑 해요
salang haeyo 😘