
Jari-jari kecil Leonard bergerak dengan lincah diatas papan ketik laptopnya. Sesekali bocah kecil itu menghela nafas kemudian kembali fokus dengan tulisan pada layarnya.
"Uncle Nicho, tolong aku untuk memanggil pengacara perusahaan dan aku membutuhkan sebuah materai untuk surat perjanjian yang sedang kubuat." Sekali lagi Leonard tidak mendengarkan perkataan Black.
Black mengangkat bahunya, dengan kesal dia menatap Ardyan yang masih tertunduk lesu dan pasrah.
.
"Nona Evelyn, silahkan masuk." Black mempersilahkan seorang wanita berusia sekitar awal 40 an.
Wanita berjas dengan penampilan rapi dan stiletto hitamnya yang terdengar menghentak di lantai ruangan itu menatap tajam ke arah Leonard.
"Apa kau sedang bercanda denganku!" geramnya kesal pada Black yang sedang menutup pintu di belakangnya.
"Kami tidak sedang bercanda Nona Evelyn. Bukankah anda yang mengurus surat-surat granpa? Seharusnya anda familiar dengan namaku, Leonard." Leon balas menatap tajam wanita yang berdiri beberapa kaki di hadapannya.
"Kau Leon? Si jenius cucu Tuan Hartomo?" tanya wanita itu dengan mata membulat.
"Baiklah. Aku sudah menulis beberapa hal penting untuk sebuah surat perjanjian. Aku perlu mengikat dia sebelum aku memutuskan tindakanku selanjutnya." Leon menyerahkan selembar kertas pada pengacara wanita itu.
Nona Evelyn mulai memahami keinginan kliennya. "Aku sangat paham kalimat-kalimatmu sangat lugas di sini. Kurasa ini sudah lebih dari cukup untuk menahan dia. Apa kau punya materai? Aku bisa membantumu untuk melegalkannya."
Leon tersenyum puas.
"Namun, usiamu belum cukup, Leon. Kau belum bisa menandatangani apapun." Wanita itu mengingatkannya.
"Bagaimana dengan ayahku?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Walimu satu-satunya dalam hal ini adalah ibumu. Ibumu harus segera sadar, Leon!"
__ADS_1
Tanpa sadar bocah kecil itu menggebrak meja di depannya karena kesal.
"Baiklah, sekarang kita lakukan satu-satunya cara yang bisa kita lakukan!"
"Leon, kuharap kau bisa memutuskan hal ini dengan bijak. Kau memang masih sangat muda. Tapi aku yakin kau mampu." Wanita itu menyemangatinya sebelum mohon diri meninggalkan mereka.
.
"Hanya ada satu cara. Ikuti dia, aku harus tahu kebenarannya. Apakah dia berbohong padaku ataukah itu sebuah kebenaran." Leon tersenyum miring.
Black bertepuk tangan, "Kau terlihat seperti ayahmu sekarang. Aku sangat menyukai ini. Ah... aku harus meregangkan tubuhku. Aku benar-benar tak sabar menhalankan misi ini."
"Tapi Uncle Nicho, jangan melakukan apapun tanpa perintahku. Hanya awasi saja." Leon menegaskan.
Dan demikianlah yang terjadi, Black mengawasi Ardyan selama 24 jam. Berdiam lama di depan rumah KPR bertype 21 itu, menunggunya dan mengikuti kemanapun ia pergi. Seperti pekerjaannya sebelum tinggal bersama Sam.
Ardyan keluar dari rumahnya, berjalan diatas jalanan makadam kembali menuju jalanan beraspal. Setelah berdiri agak lama, pria berjaket hitam itu melambaikan tangannya ke arah sebuah angkutan kota berwarna biru.
Bukan hal yang mudah mengikuti angkutan kota, karena akan sangat mudah baginya kehilangan jejak sasarannya. Ia mengambil beberapa foto dengan ponselnya.
Pria itu tercengang ketika Ardyan tiba-tiba masuk ke halaman rumah sakit tempat dimana Lia dirawat. Black terus mengikutinya, masuk ke dalam gedung rumah sakit berlantai 6 itu.
Ardyan memasuki lift, Black mengikutinya masuk, bersama beberapa orang yang telah menunggu di depan lift. Melirik jemari yang menekan tombol angka di pintunya. Lantai 4.
Denting lift seperti menghentak Ardyan yang terlihat kurang fokus. Pikirannya melayang entah kemana, bersama wajah sendu sang pria bertubuh kurus ini melangkah keluar dari lift dan berjalan menuju kamar di ujung lorong.
Seorang perawat menghampirinya, menepuk-nepuk pundaknya sambil terus menemaninya. Black berhenti melangkah. Ketika ia melihat yang ada di ujung lorong.
Kamar mayat!
__ADS_1
Ardyan dan perawat itu masuk ke dalamnya. Black diam-diam kembali mengambil beberapa foto.
Pria bertubuh kurus itu tampak sedih. Namun tak setetes air matapun keluar dari kantung matanya.
"Ma, akhirnya kau pergi? Kau tak ingin tinggal bersamaku lagi. Maaf ma, aku tak bisa memberikan kebahagiaan bagimu. Aku bahkan tak bisa membuatmu bangga," sesalnya.
Perawat itu menepuk-nepuk punggungnya.
"Berikan aku waktu." Adryan meminta ijin lebih untuk melihat ibunya lebih lama.
Perawat itu mengangguk. "Aku akan menunggumu di luar."
Adryan kembali menatap wanita tua yang telah membesarkannya itu. Wajah pucatnya. Lebih terlihat layaknya sedang tertidur lelap. Diciumnya kening wanita yang tubuhnya mulai dingin dan kaku itu.
.
Black terkejut ketika sang perawat keluar dari pintu kamar mayat. Perawat muda itu menatap tajam padanya.
"Apa kau keluarganya?"
"Bisa kau jelaskan, mengapa dia meninggal?" tanya Black.
"Nyonya Silvia? Leukimia. Pada usianya sangat sulit untuk menjalani pengobatan." Perawat cantik itu menghela nafas. "Kasihan sekali, anaknya telah melakukan segala upaya hingga kemoterapi. Tetapi ia meninggal setelah menjalaninya."
"Jadi kau mengikutiku sampai kemari."
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.
"Aku tahu, tak akan mudah bagi kalian merelakan uang sejumlah itu." Ardyan menghampiri mereka. "Bahkan jika aku katakan aku hendak meminjamnya. Semuanya tak akan sesulit ini jika Pak Hartomo masih di Indonesia. Bahkan mungkin mamaku masih akan hidup lebih lama."
__ADS_1
"Kenapa kau tak mencoba mengatakannya baik-baik pada kami? Tidak seharusnya kau menghakimi kami sebagai manusia yang tak punya hati, sehingga tak mengatakan apapun dan langsung melakukan tindakan yang tak seharusnya." Suara bocah kecil itu mengejutkan mereka.