
Bocah itu tersenyum pada Black. Sementara tangan kecilnya mendekat pada lakban yang menutup mulutnya.
"Om, tenanglah, jangan berteriak. Atau aku akan mendapat masalah." Bocah kecil itu berbisik.
Ia mengulurkan botol air mineral dan meneteskannya perlahan di mulut Black.
"Bocah kecil, siapa kau? Apa kau seorang malaikat? Apakah aku sudah akan mati?"
Bocah kecil itu tertawa pelan. "Apakah aku terlihat seperti malaikat?"
Bocah kecil itu menjejalkan sebuah biskuit ke dalam mulut pria itu. "Om, berapa kali om masuk penjara?"
Black tertawa, namun tak lama kemudian ia terbatuk. Ia tersedak oleh remahan biskuit yang tersangkut di tenggorokannya. "Mami said, kalau sedang makan tidak boleh bicara. Biar aku saja yang bicara. Oke?"
"Memangnya Om punya cita-cita tinggal di penjara, ya Om? Kalau dipikir-pikir enak juga ya. Tinggal di penjara, dapat makan gratis, tinggal gratis, sakit juga dapat rawat gratis." Bocah itu kembali menyuarakan hal-hal yang menari-nari di otaknya.
Black kembali tersedak. Kali ini dia langsung menjawab. "Tahu apa kau tentang kehidupan penjara. Tak ada seorangpun yang akan betah tinggal di sana."
Bocah kecil itu duduk di lantai, dengan tenangnya ia menjejalkan kembali biskuit di tangannya ke dalam mulut Black. "Hmm... Aku rasa kau seorang pembohong, Om. Kau mengatakan bahwa kau tidak betah di dalam penjara, tapi kau tetap akan terus berbuat kejahatan bukan? Aku rasa kau sebenarnya sangat merindukan tempat itu lagi."
"Hei bocah, sebenarnya apa keinginanmu," tanya Black mulai terlihat gusar. Bocah kecil itu terus menjejalkan biskuit di tangannya.
"Om diam, dengarkan aku. Nanti kalau bicara terus tersedak loh."
Black tak dapat menjawabnya. Bocah itu menjejalkan biskuit yang lebih banyak lagi ke dalam mulutnya.
"Om, kesempatan itu tidak akan datang berulang kali. Seperti sekarang, aku bisa memberimu makanan, tapi belum tentu besok aku bisa kemari menemuimu. Sebuah kesempatan itu harus Om pergunakan sebaik-baiknya."
__ADS_1
"Apa maksudmu anak kecil?" tanya Black masih tak mengerti.
Bocah kecil itu menjewer telinga Black. "Aku tak tahu, apakah kau tuli atau tak bisa mencerna perkataanku. Tapi aku kasihan padamu. Bagaimana bisa kau menolak sebuah kebebasan, kedamaian dan sejumlah uang untuk kehidupan barumu dan malah berniat kembali ke sel tahanan."
"Biskuit sudah habis. Mungkin aku tak akan datang kemari lagi, karena aku tak ingin terlibat masalah dengan kedua orang tuaku." Bocah itu meremas kemasan biskuit yang telah habis masuk ke dalam perut Black. Ia kembali meminumkan air mineral ke dalam mulut pria itu. Black terlihat sangat haus.
"Dah Om. Aku akan menemui Om ketika Om kembali ke sel penjara karena kasus penculikan ibuku." Bocah itu beringsut akan keluar dari lubang kecil di dinding ruang penyekapan.
"Hai, tunggu bocah!" seru Black. "Aku berhutang padamu."
Ya, bagaimanapun juga, Leonard sudah menyelamatkan perutnya sore itu.
🐿🐿🐿🐿
Samuel masih merasa kesal karena rencananya membujuk Black berpindah ke pihaknya, gagal. Ia duduk di depan layar televisi sementara jari jemarinya menekan sembarang tombol di remote secara acak. Pikirannya melayang tanpa arah.
"Ia tetap keras kepala dan menyebalkan," sahut Samuel. "Tak pernah ada seorangpun yang bisa mengatur atau menghalanginya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika ia tetap menolak tawaran yang kau berikan?"
Samuel menggelengkan kepalanya. "Aku belum memutuskannya. Tapi aku tak mungkin membebaskannya, karena aku yakin itu akan membahayakan keselamatan keluarga kita." Pria itu menghela nafas, seperti menyesali perbuatan yang telah dilakukan di masa lalu. "Semoga dia menerima tawaran itu, sebelum aku terpaksa melakukan hal yang tak kuinginkan."
"Kau akan melakukan apa, Sam." Nada suara Lia tiba-tiba berubah. Kalimat itu terdengar seperti sebuah ancaman yang tegas untuk Sam.
Ketegangan suasana berakhir ketika Leonard membuka pintu rumah dan menyapa mereka dengan senyuman cerahnya. Pakaian yang dikenakannya terlibat kotor dan berdebu.
"Oh my God, Leonard! Darimana saja kau, mengapa pakaianmu terlihat lusuh?" tanya Lia. Tentu saja ia terkejut. Leon tak suka bermain kotor di luar, kecuali jika ia sangat berniat untuk melakukan hal-hal penting seperti sebuah pengamatan atau menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
Lia menggandeng tangan putranya masuk ke dalam kamar mandi. "Mandilah, setelah itu mami ingin mendengar petualangan apa yang kau lalui hari ini." Wanita itu membantu Leon menarik kaosnya ke atas. Bocah itu tertawa geli, dengan kedua tangan terulur lurus ke atas.
Lia mempersiapkan pakaian ganti untuk putranya, sementara pikirannya melayang-layang tak tentu arah. Berpikir tentang apa yang hendak dilakukan oleh suaminya pada pria di gudang halaman belakang rumah, tentang bagaimana menyikapi pria itu jika menolak tawarannya dan juga apa sebenarnya yang putranya lakukan baru saja.
"Mami." Suara bocah kecil itu mengejutkan ibunya. Rambut hitamnya basah, menetes ke wajahnya.
Lia membantu mengeringkan badannya, ia tersenyum dan mulai mengorek cerita petualangan putranya.
"Jadi, apa yang baru saja kau kerjakan sayang? Petualangan baru apa yang baru saja kau alami?"
"Leon cuma bermain di halaman belakang rumah, Mam. Ada sebuah lubang di sebuah pondok misterius. Dan di dalam sana ada seorang pria tergeletak dengan posisi tangan dan kaki terikat." Bocah itu menjawab dengan santainya. Ia mengancing kemejanya satu per satu.
Lia menggigit bibirnya, ia menyadari bocah kecilnya telah menemukan Black!
"Leon, lalu apa yang kau lakukan pada pria itu?" tanya Lia. Ia lebih menekan suaranya. Ia harus bisa mengontrol emosinya di depan putranya.
"Aku memberinya makanan dan minuman," jawabnya dengan santai karena ia merasa telah melakukan hal yang benar.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Samuel berdiri di depan pintu dengan wajah tegang. "Kau tak seharusnya bermain di sana, Leon. Bagaimana jika kau celaka. Apa kau tahu siapa dia?"
Leon mengangguk dengan yakin. "Dia pria yang kulihat menculik mami di depan sekolahku."
Samuel mulai menyadari bahwa putranya memahami segalanya. Pria itu masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas ranjang putranya, tepat di sisi istrinya.
"Mami daddy tak perlu khawatir. Dia mengatakan bahwa dia berhutang padaku setelah aku memberikan makanan, minuman dan berbicara padanya. Aku yakin, pria itu tak akan menyusahkan kalian lagi." Leon merapikan rambutnya yang basah dengan jari-jari tangannya yang mungil.
"Daddy, tapi aku lupa menutup mulutnya saat kembali ke rumah, tadi." Leon mengatakan segalanya dengan jujur.
__ADS_1
Samuel melompat dari duduknya dan segera mengambil kunci gudang. Dia hendak memastikan Black tidak kabur dan apabila mungkin, menerima tawarannya.