
"Mami, daddy."
"Ya sayang." Sepasang pria dan wanita itu menjawabnya hampir bersamaan.
Leon tersenyum. "Kalian benar-benar kompak."
Lia hanya diam, sedangkan Ray tertawa terkekeh. "Apa yang ingin kau sampaikan, sayang?"
"Bisakah kita kemari setiap weekend?" tanya Leon.
"Kau menyukainya?" tanya Samuel. Bocah itu menganggukkan kepalanya.
"No, no, no," kata Lia. "Jangan katakan kau akan menyetujuinya, Sam."
"Apa aku bisa menolak keinginan putraku?"
Lia menghela napas. "Maka aku harus menutup toko di jam-jam sibuk mereka?"
"Ayolah, bukankah kau bisa mencari seorang manager untuk mengelolanya?"
Lia mengangkat bahunya. "Baiklah, aku akan mencoba mencari seorang manager."
"Yeay!" sorak bapak dan anak itu secara bersamaan.
Mereka duduk di sekitar api unggun, menikmati kehangatan di tengah udara dingin. Terlihat Nissa dan Leon yang sedang bercanda dengan riang.
Sam menepuk bahu Lia, dilingkarkannya tangannya untuk merangkulnya. "Jadi, sampai kapan aku harus menunggumu? Kita sudah membuang waktu terlalu lama untuk sampai pada kebahagiaan kita. Mengapa kau terus menundanya, lagi dan lagi," bisiknya.
Lia merasa kegugupan menguasainya. Ia mencoba membuang perasaannya jauh-jauh. Apakah dia harus menerimanya kembali?
Satu persatu orang meninggalkan seputaran api unggun. Mereka lebih memilih menghabiskan malam mereka di dalam camp, dibalik kehangatan selimut bersama keluarga mereka.
Lia merebahkan dirinya di samping Leon. Pandangan matanya menuju langit-langit ruang kemahnya. Sementara pikirannya melayang tak tentu arah.
Leon memeluk ibunya, "Mami, apa daddy akan kembali bersama kita lagi?"
"Mami masih memikirkannya, Leon. Mami hanya tak ingin salah melangkah." Lia membelai rambut putranya.
Sementara sayup-sayup di luar tenda terdengar suara petikan gitar dan suara lembut mengalunkan sebuah lagu.
"Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa,
yang mengalun indah mengisi jiwa.
Merindukan kisah kita berdua,
yang tak pernah bisa akan terlupa.
Bila rindu ini masih milikmu,
kuhadirkan sebuah tanya untukmu.
Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggumu.
Didalam masa indah saat bersamamu,
__ADS_1
yang tak pernah bisa akan terlupa.
Pandangan matanya menghancurkan jiwa
dengan segenap cinta aku bertanya.
Bila rindu ini masih milikmu,
kuhadirkan sebuah tanya untukmu.
Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggumu.
Dalam hati kumenunggu.
Dalam lelah kumenunggu aku.
Dalam hati kumenunggu.
Dalam lelah kumenunggu aku masih menunggu.
Bila rindu ini masih milikmu,
kuhadirkan sebuah tanya untukmu.
Harus berapa lama aku menunggumu aku menunggumu.
Dalam hati kumenunggu.
Dalam lelah kumenunggu.
Dalam hati kumenunggu.
Dalam lelah kumenunggu.
Dalam sedih kumenunggu.
Dalam hati kumenunggu."
"Daddy!" seru Leon keluar dari camp-nya dan langsung memeluk leher ayahnya.
"Kau ingin mencobanya, Leon?" tanya Sam sambil mengulurkan gitarnya.
"Itu terlalu besar untuknya. Jari-jarinya tak akan sampai memegangnya." Suara Lia terdengar dari dalam tenda. Tak lama kemudian wanita itu keluar dengan rambut tergulung rapi ke atas.
"Benar, ini mudah Leon. Besok kita akan beli gitar lele untukmu." Sam langsung memutuskan.
Lia hanya dapat menatap kedua laki-laki di hadapannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Yah-- mereka terlalu kompak.
🐧🐧🐧🐧
Pagi yang cerah, cuaca di camping ground masih agak sedikit berkabut. Dingin, lembab dengan sedikit cahaya matahari yang mulai mengintip di balik pepohonan.
Lia mulai menggerak-gerakkan badannya. Dipasangnya headset di telinganya sebelum mulai berlari menyusuri daerah tak beraspal itu. Udara yang segar sangat langka di perkotaan, sehingga pantang baginya untuk melewatkan pagi itu tanpa menikmatinya.
Wanita itu terus berlari, rambutnya yang terikat ke belakang ala ekor kuda itu pun bergerak dengan lincah ke kiri dan ke kanan hingga seseorang berlari mendahuluinya.
__ADS_1
"Hai." Pria itu menarik salah satu headset yang ada di telinganya. "Pantas saja kau tak mendengarku tadi."
Pria itu terkekeh. "Bagaimana jika kita bertaruh," katanya kemudian.
"Bertaruh?"
"Kau lihat pohon diujung sana. Mari kita bertaruh, jika kau sampai lebih dulu, aku akan menggendongmu sampai ke camp ground." Sam mengatakan tantangannya.
"Tapi jika sebaliknya, maka aku menggendongmu?" tanya Lia. "No, no... kamu pasti sedang bercanda bukan?"
Sam menganggukkan kepalanya, "Atau jika aku lebih dulu sampai, maka kau harus menerimaku ke level selanjutnya. Menjadi kekasihmu. Bagaimana?"
Lia tertawa. "Kau sangat konyol Sam." Lia kembali berlari. Sam menyusulnya dengan lebih cepat. "No no no, aku tidak menyetujui pertaruhan konyol ini. Semua hanya menguntungkanmu."
Sam tertawa keras. "Jika aku adalah dirimu, aku akan berusaha keras. I don't wanna be a loser."
"Damn!" maki Lia sambil berlari lebih kencang. Melihat usaha Lia, tiba-tiba Sam merasa cemas, apakah Lia belum siap untuk menerimanya kembali.
Sam memperlambat larinya membiarkan wanita itu berlari mendahuluinya. Ya-- apapun keputusannya, biarlah dia yang menentukan. Ia tak lagi mempunyai niatan untuk memaksakan keinginannya. Saat ini dia hanya menginginkan ketulusannya.
Samuel tersenyum melihat wanita itu menari dengan bahagia menikmati kemenangannya di bawah suatu pohon besar yang rindang.
Sam segera menyusulnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas rerumputan yang basah karena embun pagi itu. Matanya menatap lurus ke atas, seolah akan membelah langit yang di atas sana.
Lia berjongkok di sebelahnya. "Jadi, kau akan menggendong pemenangnya hingga ke camping ground."
Tiba-tiba Sam menarik leher wanita di hadapannya itu.
"Tentu saja, aku bahkan akan menggendongmu kemanapun kau mau," lirihnya.
Lia dengan segera kehilangan keseimbangan, badannya jatuh terjerembab menimpa ke tubuh Sam. Dan tanpa sadar, kedua bibir mereka bertemu.
Lia segera berdiri dan duduk dengan panik. Wajahnya terasa panas, ia memandang ke arah lain seolah sengaja menghindari tatapan mata Sam.
Samuel tertawa. "Berapa berat badanmu? Kenapa tubuhmu terasa berat sekali."
Mendengar pertanyaan ini, Lia tanpa sadar segera menatap lelaki di sampingnya. Pandangannya terlihat sangat kesal. Tentu saja, bagi wanita berat badan adalah hal yang paling utama, selain banyak hal lain tentunya.
"Apa maksudmu? Apa kau pikir dengan kalimatmu itu kau bisa mengelak dari taruhan yang sudah kau tetapkan sendiri?" tanya Lia dengan nada kesal.
Sam tertawa terkekeh. Ia duduk sehingga posisinya kini sejajar dengan posisi Lia. Pria itu menatap sepasang mata wanita yang dicintainya itu dengan pandangan lembut dan dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Lia.
🐧🐧🐧🐧
Hah... hari ini up satu bab dulu setelah kemaren vakum nulis. Authornya masih lemes gengs, baru keluar dari rumah sakit.
Tapi pasti disempatin dong setidaknya up satu bab bagi pembaca yang super duper othor cintai.
Makasih banyak atas dukungan kalian. Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...
Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰
Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗
사랑 해요
__ADS_1
salang haeyo 😘😘😘