Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 28. Mari Kita Menikah


__ADS_3

"Baiklah, jika kau mau, kau boleh mencurahkan isi hatimu padaku. Aku tak ingin suamimu terus bersedih menatapmu dan tak bisa melanjutkan perjalanannya," katanya sambil mengacak rambutnya sendiri.


Lia menatap wajahnya dengan pandangan tak percaya. "Apa katamu? Kau melihat dia?"


Radith menganggukkan kepalanya. Ia menunjuk ke samping kanan Lia. Tiba-tiba Lia merasa tubuhnya dingin.


"Baiklah, katakan padanya. Aku tidak akan menangis lagi. Aku akan berusaha bahagia. Aku akan berusaha melupakan dia." Suara Lia tercekat karena air matanya kembali mengalir turun dari pelupuk matanya.


Radith mendekatinya, ia memeluk Lia dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Benar, Lia hanya butuh sebuah sandaran untuk mengistirahatkan hatinya dari segala kekacauan yang sudah terjadi.


πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯


Sebuah buket bunga berdiri dengan anggun di meja ruang rawat inap tempat Leonard berada. Lia menatapnya dengan nanar, hatinya begitu kesal.


Pikiran buruk hinggap di kepalanya. "Apa pria ini berniat mengingatkannya atau bahkan menagih harga darah yang di donorkan untuk Leon?"


Sebuah ketukan di pintu, menyadarkan dia dari lamunannya. Sebuah senyuman menghias wajah dokter muda yang melangkahkan kakinya ke dalam ruang inap.


"Wajahmu terlihat begitu suram. Aku rasa itu akan memancarkan energi buruk pula untuk putramu." Dokter muda itu memegang pergelangan tangan Leon. Sekilas matanya melirik wanita yang sedang duduk di sofa ruang inap VIP.


"Bawa bunga itu keluar dari ruangan ini." Suaranya terdengar lirih. Tapi berhasil di dengar oleh Radith. Ia menatapnya dengan heran kemudian tertawa.


Radith mengambil sebuah kartu nama di atas rangkaian bunga itu lalu mengantunginya. "Anggap bunga itu dari Dokter Radith."


"Radith, aku akan menagih janjimu." Tiba-tiba Lia memberanikan diri bersuara.


Radith yang sudah melangkah ke depan pintu pun berbalik mendengar perkataannya.


"Tentang apa?" tanyanya.


"Tentang mencurahkan isi hatiku. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa kau sampaikan pada suamiku. Aku berharap dia bisa memberikan solusi atas masalah ini."


Radith menghela napas. "Baiklah. Aku menunggumu di atap. Kebetulan shiftku sudah berakhir."



Dokter muda itu berdiri menatap atap-atap rumah yang nampak berbaris dari atas gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Di tangannya terlihat sebuah papper cup berisi americano hangat.


Dengan relax, disesapnya perlahan minuman itu dari gelasnya sambil menikmati tiupan angin yang menerpa wajahnya.


Lia berjalan perlahan mendekatinya. Wanita itu menarik napas dan berdiri di sampingnya. Kini mereka berdua menikmati pemandangan yang sama. Matahari yang mulai terbenam di ufuk barat dengan langit biru yang mulai berubah menjadi kemerahan.

__ADS_1


Pria muda itu menatapnya. "Jadi silahkan mengatakan isi hatimu."


"Ini tentang dia. Dia mendonorkan darahnya dengan sebuah syarat. Dia ingin memilikiku." Suara Lia terdengar parau.


Radith benar-benar terkejut, "Lalu apa yang akan kau lakukan? Menikah dengannya sesuai keinginannya?"


Lia menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," katanya. "Tak bisakah kau menanyakan pada suamiku, apa yang harus kulakukan?"


Radith menggeleng. "Dua dunia yang berbeda tak dapat saling berkomunikasi. Aku hanya dapat melihat, namun tak dapat berkomunikasi dengan mereka. Aku melihat suamimu bersedih," sahutnya. "Selama ini dia selalu berada di sampingmu."


Tiba-tiba Radith terdiam. Matanya membulat menatap tempat kosong di samping Lia. Radith menggerakkan tangannya seolah menolak.


"Radith, ada apa? Apa dia mengatakan sesuatu?"


Dokter muda itu tertawa. "Tidak, tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu."


"Kau menyembunyikan sesuatu, Radith?"


Dokter muda itu tertawa dengan canggung. "Suamimu memintaku untuk menggantikannya menjagΓ mu. Bukankah ini tidak mungkin."


Dia menyesap americanonya kembali dengan tergesa-gesa.


"Mengapa tidak mungkin?"


"Apa kau bercanda Lia?" tanyanya setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.


"Tidak. Aku tidak mempunyai ide lain untuk menghindar dari Samuel," sahut Lia.


Radith menggaruk kepalanya. "Ah ini benar-benar kacau. Rahasia alam benar-benar tak dapat kuhindari. Tapi bagaimana kalau aku mencoba menghindarinya lagi? Aish... ini benar-benar rumit."


Pria muda itu menyesap habis kopi di paper cup-nya sebelum melangkah pergi dari hadapan Lia. Ia meremas dan membuangnya ke dalam tempat sampah.


"Kau mau kemana, Radith!" serunya.


"Mencoba menghindarimu!" serunya sambil melambaikan tangannya.


"Radith!"


πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯


Radith mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba Lia masuk ke dalam ruang kantornya.

__ADS_1


"Hmm-- " katanya sambil kembali asik dengan artikel di dalam laptop yang dibacanya.


"Baiklah, jika itu adalah solusi yang diberikan oleh Ray. Mari kita menikah!" seru Lia tanpa berbasa-basi.


Radith mengangkat wajahnya sejenak dan kembali dengan kesibukannya. Lia merasa kesal dan hendak melangkah kembali keluar dari ruangan itu.


"Apa kau tidak akan menyesal dengan pilihanmu?" pertanyaan yang tiba-tiba membuatnya menghentikan langkahnya.


"Apa kau mempunyai cara lain agar dia tak lagi menerorku?" tanya Lia.


Radith menghentikan jari-jarinya yang bagai sedang menari di atas keyboard laptopnya. Fokusnya telah buyar karena percakapan ini.


"Duduklah. Mari kita bicarakan." Dokter muda itu menghela napas dan mulai mengatur kata-katanya agar lebih mudah dicerna dan tak membuat lawan bicaranya salah paham.


"Aku seorang indigo. Aku telah mengetahui bahwa kau adalah jodohku dan kita dipertemukan walau apapun usahaku menghindarinya."


Wanita di hadapannya itu mendengarkan dengan penuh perhatian. "Aku juga sudah menceritakan padamu, aku tak dapat melihat masa depan setelah bertemu denganmu. Apa sekarang kau tetap tidak merasa takut? Apa kau masih tetap ingin bersamaku?"


Wanita itu berdiri dan berjalan hendak keluar dari ruangan itu ketika Radith kembali memanggil namanya.


"Lia, apa kau tersinggung dengan perkataanku?"


Lia tersenyum, "Tidak. Aku rasa aku hanya emosi karena itu adalah permintaan Ray. Bahkan harus ada rasa cinta dalam sebuah ikatan pernikahan, bukan."


Radith hanya memandang wanita cantik itu berlalu menjauh darinya. Wanita yang diam-diam telah menaburkan benih-benih cinta di dalam hatinya. Dokter muda itu menghela napas dan tersenyum.


Lia benar, bahkan untuk sebuah pernikahan dibutuhkan sebuah rasa cinta. Dan rahasia alam akan kembali terbukti menjadi sebuah kenyataan.


Lia pun mulai merasakan hangat kehadiran Radith di hatinya. Perlahan tapi pasti bara asmara mulai muncul di hati mereka.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Gimana makin seru ga sih, ceritanya...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❀ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik πŸ‘ di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...


Semakin banyak πŸ‘ dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


μ‚¬λž‘ ν•΄μš”


salang haeyo 😘


__ADS_2