Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 32. Mencuri Hatimu


__ADS_3

"Baiklah para pengunjung sekalian ...." Terdengar suara seorang petugas memberikan informasi bahwa saat pemberian makan pada sang ikan predator telah tiba. Mereka juga menyalakan timer pengukur kecepatan para ikan di dalam akuarium dalam menghabiskan beberapa kilo daging yang akan dimasukkan oleh mereka.


Beberapa orang mulai berkumpul, menyalakan alat perekam mereka dan beberapa lagi menikmati pemandangan yang tersuguh di hadapan mereka.


"Bagaimana jika kita menangkap beberapa dari mereka untuk kita santap?" lirihnya di telinga Lia.


"Itu sangat tidak lucu, Sam. Mereka spesies yang sangat mengerikan," sahut Lia.


"Tapi aku sudah sangat lapar, Lia."


Lia menutup kedua telinganya, "Berhentilah merengek, bahkan kau terlihat seperti Leon sekarang."


"Bukankah itu bagus, seorang putra mirip dengan ayahnya," sahutnya.


"Tapi tidak sebaliknya, seorang ayah terlihat kekanakan seperti putranya."


Sam tertawa keras, hal ini berhasil mengejutkan Leon. Bocah kecil itu menoleh, dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya.


Leon datang menghampiri mereka. "Apa kita akan pulang?"


"Kita akan bertemu di foodcourt, Leon. Kau bebas mencari kami di sana. Your daddy already hungry. Dia sudah ingin memakai daging ikan piranha yang ada di dalam akuarium itu," jawab Lia.


Leon tertawa. Tampak gigi geliginya yang putih tertata rapi. "Baiklah. Aku akan segera menyusul ke sana."


"Hah-- dia sangat manis sepertiku," lirih Samuel. Lia mengerutkan kening sambil melirik pria di sampingnya.


"Mungkin dia akan sangat dingin dan kejam jika hidup bersamamu," sahut Lia.


"Apa kau belum merasakan bahwa aku sedang bersikap manis hari ini?" tanyanya.


"Ya, kau benar. Kau terlihat manis hari ini, dan aku benar-benar tak bisa mempercayai jika kau akan bertahan melakukannya sepanjang tahun bersamaku." Lia merasa lega setelah berhasil mengatakan hal yang benar-benar mengganjal di hatinya.


Mereka berjalan keluar dari tempat itu, melewati pintu keluar yang merupakan tempat penjualan souvenir.


Sam menghentikan langkahnya, pandangannya jatuh pada sebuah boneka berbentuk gurita berwarna biru dengan mata lucu yang besar. Ia segera mengambil satu dan memberikannya pada sang kasir.


Lia tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ya-- setelah meninggalnya Ray, akhirnya dia bisa mulai menerima kenyataan. Ia bisa menikmati keceriaan dalam hidupnya.


"Kenapa kau tertawa?" tanyanya.


"Luar biasa. Aku tak pernah menyangka jika kau sekanak-kanak itu. Bahkan Leon tak pernah merengek untuk sebuah boneka," sahutnya.

__ADS_1


Sam menyodorkan boneka itu padanya. "Tapi aku ingin memberikannya padamu. Saat ini aku ingin menjadi seekor gurita dengan banyak tangan di tubuhnya. Tentu akan sangat mudah mencuri hatimu, jika aku mempunyai banyak tangan, Lia."


Lia menggeleng, "Kau salah, tak ada yang dapat mencurinya dariku. Aku hanya akan memberikannya pada orang yang tepat."


Sam menghela napas. Perjuangannya terasa begitu panjang untuk mendapatkan hati wanita pujaannya kembali.


🐝🐝🐝


"Granny Diane!" teriak bocah kecil itu sesaat setelah membuka pintu rumahnya.


"Leonard, baby." Wanita tua itu membuka kedua lengannya lebar-lebar bagi bocah kecil yang sedang berlari menujunya.


"Granny, I miss you." Bocah itu memeluk erat pinggang wanita berambut putih itu.


Diane tertawa terkekeh hingga kacamatanya turun ke ujung hidungnya. "Oh my God, Leon. Kau terlihat lebih besar sekarang dan semakin tampan."


Leon tertawa mendengar lelucon Diane, dia sangat paham, tak mungkin dia akan tumbuh secepat itu dalam waktu beberapa bulan saja.


"Granny, tinggallah di sini bersama kami," rangeknya.


Lia segera menyapanya setelah selesai menurunkan barang bawaannya.


"Leon, Granny memiliki pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan terlalu lama," sahut Diane. Ia melebarkan kedua tangannya kembali untuk Lia.


Diane terkekeh. "Baiklah, aku akan tinggal beberapa hari untuk cucu kesayanganku."


Kali ini pandangan Diane tertuju pada Samuel. Dia terkejut mengenali wajah yang mirip dengan bocah kecil di pelukannya.


"Lia, apakah dia adalah --"


Lia mengangguk perlahan. Dengan santai Samuel mendekat padanya. Ia mengulurkan tangannya pada wanita tua di hadapannya.


"Jadi --" Lidah Diane menjadi kelu, ia seperti tak bisa mengungkapkan begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam otaknya. Wanita tua itu membalas uluran tangannya.


"Namaku, Samuel Augusto."


Wanita tua itu segera melepaskan genggaman tangannya. Ia kembali duduk di kursinya.


"Leon, istirahatlah sayang. Granny perlu membicarakan sesuatu pada mami." Lia memerintahkan anaknya masuk ke dalam kamarnya.


"Jadi, apa rencana kalian sekarang?" tanya Diane tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Kami be --" Kata-kata Lia segera dipotong oleh Samuel.


"Kami akan segera merencanakan pernikahan kami. Karena bagaimanapun juga Leon membutuhkan kedua orang tua mereka." Samuel mengatakan kalimat itu dengan sangat lugas.


Wanita muda di sampingnya segera membulatkan matanya. "Sam! Bukankah sudah kukatakan padamu, aku bahkan belum padamu."


"Kau akan yakin, seiring dengan waktu, Lia. Apa kau akan menyia-nyiakan waktu sehingga Leon tumbuh semakin besar tanpa ayahnya?" sahut Samuel membenarkan dirinya.


Diane menatap keduanya dengan kebingungan.


"Jika boleh aku menengahi. Samuel, apa kau mencintai Lia?" tanya Diane. Pandangan matanya terlihat tajam dari balik kacamata tebalnya.


"Yess Mam. Saya sangat mencintainya." Samuel menjawab dengan lantang.


"Dan kau Lia?" Wanita itu membagi pertanyaan yang sama pada putri angkatnya.


"Aku tidak yakin, Mom. Karena sikap sebelumnya, dia begitu dingin, pemaksa dan kasar." Lia menjawab dengan keraguan.


Wanita tua itu mendorong kembali kacamatanya ke tempat semula sambil menghela napas.


"Cinta tak bisa dipaksakan, Samuel. Namun sebagai orang tua juga tidak boleh bersikap egois. Anak membutuhkan kedua orang tuanya secara utuh," kata Diane. Ia menyandarkan punggungnya di kursinya.


"Jadi itulah tugas kalian berdua. Pikirkanlah baik-baik. Oh, aku sangat capek. Penerbangan bagi wanita seusiaku terasa sangat menyiksa." Wanita tua itu memijit bahu dan lehernya dengan tangannya.


"Dan Samuel, tolong hargai Lia. Kau tak tahu bagaimana penderitaannya ketika harus meninggalkan negara ini karena mengandung putramu. Kau tak tahu bagaimana terpuruknya dia di masa-masa itu. Bagaimana susahnya menjadi seorang ibu tunggal di masa mudanya," nasehat Diane.


Air mata tiba-tiba menetes dari netranya. Kenangan masa lalu kembali menyeruak di dalam pikirannya. Kenangan saat ia harus menerima hukuman dari ayahnya, hingga melahirkan tanpa dukungan seorang suami.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Gimana makin seru ga sih, ceritanya...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...


Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰


Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗


사랑 해요

__ADS_1


salang haeyo 😘


__ADS_2