
Wanita itu menatap wajah Black. Sepasang matanya membulat karena terkejut. Alexa memiringkan kepalanya, berusaha mengingat wajah pria di hadapannya. Ia mengerutkan keningnya dengan wajah kebingungan. Tak lama kemudian, wanita itu memegang kepalanya dan berteriak-teriak histeris.
Beberapa orang menghampiri mereka dengan tatapan nanar seolah menghakimi Black dan Lia. Sam menarik tangan Lia menjauh dari suasana riuh itu.
"Ada apa? Kenapa wanita itu tiba-tiba histeris?" tanya Samuel. Leon terlihat menyimak pembicaraan mereka.
"Alexa Wijaya? Apa kau mengenal wanita itu, Black?" tanya Lia, wajahnya terlihat begitu tegang.
"Aku rasa dia wanita yang meninggalkanku." Black menjawab singkat.
"Kau tak ingin menceritakannya pada kami?" tanya Lia.
"Dia menghilang begitu saja setelah aku menolak ajakannya untuk kawin lari."
"Aku rasa ada sesuatu yang tidak beres di sini," kata Samuel. Jari jemari tangannya mengurut keningnya seakan memikirkan sesuatu.
"Aleandro. Aku rasa ada hubungan antara Black, kontrak, dan Alexa," lanjutnya.
"Sebenarnya siapa Aleandro?" tanya Lia. Ia semakin penasaran dengan hal yang sedang terjadi. "Dan seandainya dia adalah Alexa yang Black kenal, mustahil ia berteriak histeris seperti itu."
"Lia, Aleandro adalah mafia obat terlarang. Aku tidak secara kebetulan mengenalnya. Dan aku rasa--" Sam menghentikan ucapannya ketika seorang pria mendekati dan menggandeng Alexa untuk pergi dari tempatnya. Sebuah senyum menyeringai terlihat di wajahnya ketika bertemu tatap dengan Sam.
"Dia banyak mencekoki Alexa dengan barang itu." Sam mengatur volume suaranya.
"Daddy, kita harus menolongnya, bukan?" Tiba-tiba Leon bersuara setelah begitu lama diam dan menyimak perkataan orang di sekelilingnya.
"Hampir tidak mungkin kita dapat menolongnya. Tapi kita coba memikirkan sebuah cara untuk itu." Samuel mencoba menghibur Leon. Sebagai orang tua tidak mungkin dia mengajarkan supaya tidak membantu orang yang membutuhkan.
🐢🐢🐢
__ADS_1
Sam mengemudikan mobilnya di sepanjang pantai Kuta, ketika wanita itu kembali terlihat berlari seperti menghindari sesuatu. Leon yang duduk di kursi belakang segera berdiri dari kursinya, mendekatkan wajahnya ke jendela mobil dan berseru pada ayahnya. "Dad, kita harus bantu dia. Wanita itu."
Sam menghentikan mobilnya di samping wanita itu, sementara Black dengan sigap menariknya masuk ke dalam mobil yang dengan segera membawanya menjauh dari tempat itu. Semua terjadi dengan begitu cepat. Tak ada seorangpun yang sempat melihat kejadian itu. Namun tak lama kemudian, serombongan pria berbadan tegap berlari menyebar di jalanan.
Black menarik wanita itu agar membungkuk. Semuanya akan sia-sia jika mereka melihatnya dan kembali menangkapnya, bahkan keluarga Sam akan menjadi taruhannya.
Mobil berlalu dan menjauh dari jalanan pantai itu, bergerak mendekati kota Denpasar menuju arah bandara.
"Black, apa dia memiliki identitas? Dia harus mempunyai pengenal untuk keluar dari pulau ini," kata Sam.
Leon dan Black saling berpandangan. "Kurasa kita tak bisa pulang hari ini."
"Baiklah, kita bermalam lagi. Kurasa aku tahu cara mendapatkan kartu identitas baru untuknya dengan cepat," jawab Sam.
Black menatap Alexa, wajah wanita itu tak berubah. Ia tetap cantik, dengan beberapa guratan kesedihan di wajahnya. Wajah yang terlihat bingung dan tak berdaya.
"Semuanya akan kembali normal, Alexa. Percayalah." Black menepuk punggung tangan wanita itu. Namun seperti sebuah gerak reflek, dengan tiba-tiba wanita itu mengangkat tangannya menjauh. Sepasang bola matanya bergerak tak menentu dan ia mulai memegang kepalanya sambil mengerang kesakitan.
Alexa seperti merasakan kerisauan Black. Ia mulai tenang dan menangis terisak di dalam dekapannya. "Tolong aku, save me!" lirihnya diiringi suara tangisnya.
🐢🐢🐢
Seperti biasa, tanpa sebuah booking di awal akan sulit untuk mendapatkan sebuah hotel favorite di kota tempat tujuan wisata itu. Setelah beberapa kali keluar dan masuk hotel, akhirnya Sam mendapatkan dua buah kamar untuk mereka. Sebuah family room dan sebuah kamar single.
Sam tersenyum puas. Ia berhasil menemukan tempat bermalam untuk keluarganya. Sebuah kebahagiaan tersendiri baginya. Ia segera menghubungi kenalannya yang membantunya memproses identitas baru.
Black menerima kunci ruang kamarnya lalu membimbing Alexa menuju kamarnya. Berjalan menyusuri lorong hotel yang cukup panjang sambil menggandeng tangannya, menguatkan hati dan pikirannya bahwa ia tidak sendiri.
Black membuka pintu kamarnya. Alexa tampak ragu, terlihat seperti sebuah trauma berada dalam ruangan. "Jangan takut. Aku berjanji akan melindungimu sekarang. Alexa, aku sudah kuat, bukan seorang pemuda yang lemah lagi. Percayalah padaku," lirihnya di telinga wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu terlihat pasrah, walau di matanya masih tampak rasa ketakutan. Black mendudukkannya di atas ranjangnya. Ia menatap sepasang mata wanita di hadapannya. "Lexa, apa kau masih mengingatku? Aku Nicho, Nicholas."
Sepasang mata itu bergerak-gerak cepat, bibirnya terlihat bergetar, kedua tangannya terangkat memegang kepalanya. Cairan bening mulai memenuhi pelupuk matanya lalu secara perlahan mengalir ke pipinya.
"Kau mengingatku?"
Alexa menangis sesenggukan. Kisahnya terlalu panjang untuk diceritakan. Dan bahkan dia tak tahu harus memulainya dari mana. Semua penderitaan ini berawal dari sebuah kontrak.
🐢🐢🐢
Semuanya berawal pada sepuluh tahun yang lalu.
"Pa, Lexa tak ingin menikah dengan pria tua teman papa itu."
"Lexa, calon yang papa pilih itu akan mencukupimu dan keluarga kita. Kau tak akan kekurangan. Percayalah sama papa," bujuk Pak Wijaya.
"Enggak, Pa. Lexa tidak mau!" Gadis itu keluar dari rumah dan membanting pintunya.
Dengan kesal ia berjalan menuju taman kota, menemui kekasihnya yang sedang duduk termenung melihat orang yang sedang berlalu lalang di depannya.
"Nicholas!" gadis berseragam putih abu-abu itu duduk di sebelahnya, ia mencubit gemas pipi kekasihnya. "Sebentar lagi kita akan segera lulus. Tapi aku rasa itu akan merupakan perpisahan bagi kita."
"Apa kau akan sekolah di tempat yang jauh?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya, aku ingin pergi dari rumah bersamamu. Kita kawin lari, yuk!" lirih gadis itu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya membentuk sebuah corong sambil tetap menampakkan wajah cerianya.
"Kau bergurau? Bahkan aku tak akan bisa memberikanmu kehidupan yang layak. Aku bukan berasal dari keluarga berada, seperti yang kau ketahui."
Gadis itu menatapnya dengan wajah sedih. "Jadi sebaiknya kita tidak bertemu lagi. Mari kita saling melupakan dan menjalani kehidupan kita masing-masing."
__ADS_1
Gadis itu berdiri dari duduknya. Ia harus berjuang sendiri sekarang jika tak ingin menikah dengan pria tua itu. Ia harus melarikan diri, sendiri!
Seorang pria berusia 30 an tersenyum padanya, "Sepertinya kau butuh bantuan dan kurasa aku bisa membantumu jika kau mau ikut denganku."