
Aleandro merentangkan tangannya. Ia tak merasa takut sedikitpun. Ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Lexa. Sebuah keyakinan bahwa wanita di hadapannya tak akan berani melakukannya.
"Lexa, gadis kecilku yang malang." Kata-kata itu berhenti ketika sebuah cairan merah merembes dari perutnya. Alexa ketakutan. Pisau itu terlepas dari genggamannya. Dengan tangan bergetar, ia menghampiri Aleandro.
Pria itu nampak tertawa menyeringai. Tangannya menarik tubuh kecil wanita itu dengan kuat. "Lexa, mengapa kau menyakitiku disaat aku selalu melindungimu."
"Kau cukup berusaha memuaskanku, maka aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini," lirihnya.
*
Nafas Lexa terdengar memburu. Ia membuka matanya dan melihat sebuah suasana yang sama sekali baru baginya. Sebuah kamar yang sempit dengan seorang pria mengulurkan segelas air putih kepadanya.
"Kau mimpi buruk?" tanya pria itu. "Aku juga mengalami mimpi buruk selama sepuluh tahun terakhir."
"Dia akan kembali mengejarku," lirihnya seolah perkataannya akan didengar oleh seseorang. "Dia tak akan melepaskanku begitu saja."
"Demikian pula aku, tak akan menyerahkanmu padanya begitu saja." Black berusaha menenangkan kegundahan hatinya. "Besok kita akan meninggalkan tempat ini. Aku harap dia akan segera menyerah karena kehilangan jejakmu. Sam bahkan telah memberikan sebuah identitas baru bagimu."
Bukan suatu hal yang mudah untuk menenangkan jiwa yang mengalami luka akibat trauma. Demikian pula Black dengan sabar menjaganya dan berusaha memulihkan emosinya. Hingga pagi menjelang, Lexa tak dapat memejamkan matanya.
Black pun perlahan-lahan menceritakan masa lalunya, berharap Alexa mengingat sekecil apapun kenangan mereka. Saling memandang, bercerita dan bertukar pikiran membuat mereka berdua semakin dekat.
"Bagaimana kau tiba-tiba ada bersama Aleandro?"
"Aku tidak tahu. Aku sempat mengalami koma selama bertahun-tahun karena sebuah luka tembak di perutku. Dia tak membawaku ke rumah sakit, tapi memanggil seseorang untuk menyembuhkanku." Alexa menunjukkan sebuah bekas luka di perutnya.
__ADS_1
Perlahan-lahan Black menyulurkan tangannya untuk menyentuhnya. Sebuah luka tembak membekas di kulitnya yang bersih. Sentuhan Black di kulitnya, bukan sesuatu yang tak berarti. Seperti sebuah puzzle, mungkin ingatan-ingatan itu telah bertebaran. Namun perasaan mereka tetap sama.
"Luka itu tak membuatmu terlihat buruk." Black mendekatkan wajahnya, menatap sepasang mata cantik di sampingnya. Dan dengan perlahan mengecup bibirnya.
"Jadi, siapa namamu?"
"Nicholas. Aku tetap Nicholas yang sama, namun sekarang aku lebih tangguh dan lebih matang."
Black kembali mengecup bibir Lexa, ********** hingga kehabisan nafas. Tanpa basa-basi ia menjelajahi tubuh Lexa dengan kecupannya. Lexa mengerang lirih merasakan sensasi yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata itu.
"Lexa, apa kau mencintaiku?" tanya Black saat merasakan tubuh pasangannya mulai menggelinjang. Lexa tak menjawab, ia mengulurkan kedua tangannya, meraih tengkuk pasangannya dan mengecup bibirnya sebagai sebuah jawaban.
Black menganggapnya sebagai sebuah ijin baginya untuk melakukan lebih. Dan ia meloloskannya. Memberikan sebuah sorga kenikmatan melalui inti tubuhnya.
"Alexa, menikahlah denganku." Black memeluk tubuh wanita bertubuh mungil di hadapannya saat sampai pada pelepasannya. Wanita itu menggigit bibirnya, kedua tangannya mencengkeram kuat rambut Black.
Black kembali mengecup bibirnya sebelum merebahkan tubuhnya di samping kekasihnya. "Menikahlah denganku, Lexa."
"Bagaimana jika mereka menemukan kita?"
"Bagaimana jika kita pergi ke tempat yang jauh?" tanya Black kembali.
.
Kediaman Aleadro gempar. Tepat saat pria itu sadar, ia tak dapat menemukan Lexa dimana pun. Kemarahannya memuncak seketika ia menyuruh semua anak buahnya untuk mencarinya di seluruh penjuru kota. Terutama bandara!
__ADS_1
"Temukan dan bawa dia ke hadapanku. Aku tak akan menerima kegagalan saat ini!" teriaknya karena murka.
Semua anak buahnya segera berangkat dan menyebar untuk mencarinya.
"Lexa! Berani benar kau meninggalkan aku!" teriaknya. Kemarahannya benar-benar mencapai puncaknya sehingga membuat badannya bergetar. "Saat aku menemukanmu, tak akan ada lagi ampun bagimu."
Banyak anak buah Aleandro berkeliaran di bandara. Hal ini benar-benar mempersulit Black untuk menyembunyikan Alexa. Kemungkinan besar mereka telah mengetahui wajah wanita yang dicarinya baik melalui foto ataupun pernah mereka temui.
Alexa menunjuk seorang laki-laki berkemeja biru. Di lehernya terdapat tatto seekor ular. "Itu mereka. Mereka bertatto dan menggunakan kemeja yang sama."
Black mengambil kacamata hitam dan sebuah topi. Ia mengenakannya pada Lexa. "Baiklah Lexa, mereka tak akan nengenalimu sekarang."
Black merapatkan diri pada Lexa dan berjalan melalui mereka. Seorang dari mereka mencurigainya dan mengajak temannya untuk mengikutinya.
"Sam. Kita bertemu di gate penerbangan. Aku perlu waktu untuk mengecoh mereka." Black meminta Samuel untuk meninggalkannya sesaat. Akan berbahaya jika Lexa terlihat bersama Sam.
"Aku mengerti. Berhati-hatilah, teman." Sam menepuk bahunya sebelum berpisah.
Black mengajak Lexa ke gate yang berbeda. Mereka berpura-pura menunggu sambil asyik bercumbu. Hal yang membuat kedua anak buah Aleandro merasa tak nyaman. Mengintai sepasang kekasih yang sedang bercumbu. Astaga!
Kedua pengintai itu saling berpandangan dan mengangkat bahunya. Seperti berpikiran sama, mungkin mereka bukan wanita yang dimaksud. Apalagi gate penerbangan mereka adalah ke... Batam! Untuk apa Lexa ke sana.
Tiba-tiba Lexa mencopot kacamatanya melihat berkeliling ingin mengetahui pengintainya. Dan tepat saat itu, kedua pengintai itu melihatnya.
__ADS_1