Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 24. Tragedi


__ADS_3

"Ray." Lia mengoles roti bakar itu dengan mentega dan meletakkan sebuah keju slice di atasnya. Dia mengulang dan mengulang lagi untuk beberapa porsi. "Bisakah aku minta tolong, Leon harus menghadiri talkshow sore nanti."


Ray memberikan perhatian pada perkataan istrinya. "Kau mau aku mengantarnya?"


Lia mengangguk. "Aku ada janji dengan tukang AC sore nanti."


"Baiklah, aku antar dia sepulang dari kios." Ray menyesap kopinya. "Biar aku antar sekalian dia ke sekolah pagi ini."


Lia tersenyum senang. "Terima kasih, sayang."


Ray segera menghabiskan rotinya setelah melihat Leon telah siap dengan tas ransel di bahunya.


"Leon, jangan lupa bekalmu." Lia segera menutup kotak bekal berisi sandwich itu dan memasukkannya ke dalam lunchbox.


"Thank you, mami."


"Your welcome, dear."


🐥🐥🐥🐥🐥


Hari-hari Leon di sekolah kembali normal. Tak ada keributan berarti setelah ia dipindahkan ke jenjang pendidikan dua tahun di atasnya.


Tak ada lagi yang bisa dilakukan para pendidik. Bahkan di kelas 3 SD pun, dia lebih menguasai materi dibandingkan murid-murid kelasnya.


Lia benar-benar menikmati harinya dalam kesendirian. Hingga sore menjelang, Sam mengantar Leon kembali pulang.


Sam beberapa hari ini selalu menjemput Leon dari sekolah. Mereka sedang mengerjakan proyek suatu album musikal di rumah produksinya.


"Mami!" seru bocah itu sambil memeluk pinggang ibunya dari belakang.


"Hai sayang, kau sudah pulang." Sambut Lia. Tangannya membelai rambut putranya.


"Segeralah mandi dan bersiap-siap. Daddy akan mengantarmu ke acara talkshow-mu sebentar lagi," perintah Lia.


"Mami tidak ikut?" tanyanya.


"Tidak, mami ada janji dengan tukang AC sore ini," sahutnya. "Tidak masalah, bukan. Mami akan menonton lewat televisi."


"Baiklah." Sebuah senyuman kembali mengembang di bibirnya.


Leonard telah siap dengan penampilan yang rapi ketika Ray tiba di rumah.

__ADS_1


"Daddy, acara akan dimulai 30 menit lagi. Apa kita akan segera berangkat?" tanya bocah kecil itu.


"Baiklah, sebaiknya kita berangkat jika kau tidak ingin terlambat." Ray tak jadi masuk ke dalam rumah. Ia melihat istrinya tertawa padanya.


"Aku berangkat lagi, sayang!" serunya ke dalam rumah.


"Hati-hati di jalan, sayang," sahut Lia. Ia melambaikan tangannya. Sementara ia tetap mengawasi pekerjaan para tukang AC.


Mobil melaju dengan tenang di jalanan. Ray melihat bocah kecil itu mendekap hardcase di dadanya, layaknya sebuah benda berharganya.


"Mengapa hardcase itu tak kau letakkan saja di kursi belakang, sayang?" tanya Ray. "Apa kau sangat menyayangi biolamu?"


Leon mengangguk. "Mami dan grani membelinya untukku. Aku sangat menyukainya."


Tiba-tiba sebuah mobil minibus menabrak sisi kiri mobil mereka. Ray membanting kemudinya ke kanan dan menabrak taman pembatas jalan dengan keras. Kepalanya menghantam kaca samping mobil hingga pecah. Dan naas baginya, karena benturan itu, pohon pun tumbang menimpanya.


Mobil minibus itu melaju meninggalkan mereka. Sementara lalu lintas berubah menjadi kemacetan yang panjang karena letak pohon dan mobil yang melintang menghalangi mobil di belakangnya.


Beberapa pengemudi mobil di belakangnya turun. Mereka mencoba memberikan bantuan. Hingga polisi dan mobil ambulan berhasil mencapai tempat kecelakaan.


Suara sirine ambulan berbunyi dengan keras ketika kedua korban berhasil dikeluarkan dari mobil dan diangkut ke rumah sakit. Sedangkan mobil segera di derek dengan menggunakan mobil kepolisian.


🐥🐥🐥🐥🐥


Langkahnya semakin berat saat ia mulai mendekat ke lokasi. Demikian pula napasnya menjadi berat dan jantungnya berdebar sangat kencang. "Ray, itu bukan kamu kan? Kita bahkan baru saja menikah." Tanpa sadar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat kabur pandangannya. "Bagaimana jika itu benar dia."


Pintu ruang kamar mayat dibuka. Polisi wanita itu mengajak Lia mendekati sebuah meja. Diatasnya tampak tubuh seseorang yang terbujur ditutup oleh selembar kain putih. Diatasnya terdapat sebuah lampu yang sangat terang.


Polisi wanita itu membuka kain penutup di bagian wajah mayat pria itu. Lia mundur perlahan, lututnya menjadi lemas, kepalanya terus menggeleng. "Tidak Ray, kau tidak mungkin meninggalkan aku. Tidak Ray. Kau sudah berjanji padaku. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku, tapi tidak secepat ini."


Lia menangis. Ia terus meratapi kepergian suaminya.


"Maaf Ray. Seharusnya aku membiarkanmu beristirahat. Seharusnya aku yang mengantar Leon. Seharusnya aku membatalkan rencana membersihkan AC rumah." Lia mulai merutuki dirinya sendiri.


Polisi wanita itu memapah Lia, menggenggam tangannya untuk menguatkan hatinya.


"Ibu, bersabarlah dan bersikap lebih tenang. Yang sudah pergi, biarkan ia pergi dengan tenang." Polisi wanita itu membisikkan kata-kata bijak yang menenangkan. "Ibu harus kuat untuk mendampingi putra ibu yang sedang dalam perawatan."


Lia berjalan dengan lemah, rasa shock yang teramat sangat masih dirasakannya. Tentu saja, ini sebuah musibah yang sangat dahsyat baginya. Suaminya meninggal dan putranya sedang berjuang untuk hidupnya.


Tiba-tiba seorang perawat menghampiri mereka. "Ibu Cornelia. Anda orang tua dari ananda Leonard, bukan? Kami kehabisan darah. Kami sudah mencoba menghubungi PMI namun golongan darah ananda sedang tidak tersedia."

__ADS_1


"Apa golongan darah Leon sangat langka?" tanyanya. "Mengapa kalian tak dapat mengusahakannya."


"Golongan darahnya O negatif, bu. Maaf, kami tak dapat banyak membantu." kata perawat itu. "Sebaiknya ibu menghubungi kerabat ibu. Biasanya selalu ada yang sama dalam satu garis keturunan."


Lia tak punya pilihan lain. Ia harus bergegas. Anaknya membutuhkan dia.


Ayahnya. Mungkinkah memiliki darah yang sama dengan Leonard, cucunya? Tak ada salahnya untuk mencoba menghubunginya.


🐥🐥🐥🐥🐥


Lia masuk ke dalam rumah yang sudah sangat lama tak di kunjunginya itu. Seorang pria tua sedang duduk di sofa, menatap televisi di depannya. Sebuah berita kecelakaan yang telah terjadi sore itu membuatnya mematung, seperti kehilangan separuh nyawanya.


"Pa." Suara Lia terdengar bergetar memanggil ayahnya.



Pria tua itu menoleh, tertegun menatap Lia yang kini berdiri di hadapannya. Anak yang delapan tahun lalu diusirnya dari rumahnya.


"Lia, kemarilah nak." Suara itu kini telah berubah. Tak ada lagi kepongahan seperti delapan tahun yang lalu, saat dia mengusir putrinya hanya demi mempertahankan martabat sebuah perusahaan yang dipimpinnya.


Lia berjalan mendekat, ia memeluk ayahnya dengan hati yang sangat hancur. Benar-benar hancur.


"Papa, Lia kemari karena Leon," katanya lirih.


"Cucu papa, namanya Leon?" tanyanya.


"Cucu papa sedang membutuhkan darah. Golongan darah O negatif sangat langka. Apa golongan darah papa sama dengan Leon?" tanya Lia.


Pria tua itu menggelengkan kepalanya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.


Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.


사랑 해요

__ADS_1


salang haeyo 😘


__ADS_2