Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 42. Suatu Rahasia


__ADS_3

"Kau akan pensiun dalam usaha ini, Sam?" Troy membelalakkan matanya. Pria itu terlihat sangat terkejut. Setelah selama ini dia dengan mudah mendapatkan barang yang diperlukannya ini, sekarang dia akan kesulitan mencari distributor yang lain.


Sam mengangkat bahunya.


"Pikirkanlah baik-baik. Apa kau tidak akan menyesal kehilangan sumber pendapatan yang luar biasa ini?" Troy menepuk-nepuk lengan kawannya itu. "Baiklah, aku tak bisa berlama-lama di sini. Selamat menikmati bulan madu kalian."


Troy melambaikan tangannya sebelum menghilang dari pintu lobby hotel.


🐧🐧🐧🐧


Sepasang suami istri itu menghabiskan malam berdua, menatap langit yang berbintang bersama deburan ombak dari jendela kamar mereka. Saling memadu kasih dalam satu irama dan hembusan nafas.


Samuel menatap istri cantiknya dengan pandangan lembut. Wanita yang sedang berada di bawah kekuasaannya itu, menggigit bibirnya, menahan luapan gairah yang membara.


Sesekali dikecupnya bibir istrinya dengan lembut dan menjelajah bagian leher dan bagian lainnya sehingga membuat tubuh wanita itu menggelinjang menahan sensasi yang dirasakannya.


Deburan ombak yang terdengar cukup keras, menjadi peredam yang cukup efektif untuk menutupi suara yang timbul karena aktivitas mereka. Hingga terdengar suara erangan tertahan Samuel mengakhiri kerja keras malam itu.


Sam terkapar di samping istrinya. Sebuah senyuman terlihat di wajahnya. Ia melirik wajah kelelahan wanita di sampingnya.


"Bagaimana jika tiba-tiba aku menjadi botak?"


Lia tertawa, "Bagaimana bisa?"


"Apa kau tak sadar jika kau selalu menjambak rambutku dalam aktifitas kita?" Pria itu tertawa terkekeh. "Dan lihatlah, berapa banyak luka di bahuku."


Lia tertawa, ditatapnya suaminya dengan pandangan kasihan. "Maaf, aku tak bisa menahannya. Itu semua terjadi begitu saja dan tak bisa kukendalikan."


Sam tertawa. "Syukurlah, kau menikmati permainan kita." Pria itu membelai lembut rambut panjang istrinya. "Aku cukup senang dapat membuatmu puas, Lia."


Wajah Lia memerah karena malu. Kata-kata Sam benar-benar membuatnya merasa malu. Sam terlalu terbuka dalam setiap pembahasan hubungan mereka.


Kemesraan mereka terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari handphone Sam yang diletakkannya di dalam nakas.

__ADS_1


Sam segera mengambil handphonenya dan melihat nama yang tertera di layarnya. Ia tak segera mengangkatnya. Dipakainya pakaian seadanya dan segera keluar dari kamar.


"Ya," katanya setelah berhasil menjauh dari kamarnya.


"Maaf Tuan, sepertinya seseorang mengikutiku," suara pria dari dalam telepon.


"Jangan kembali ke markas. Berputar-putarlah dahulu lalu menginaplah di suatu tempat setelah kau berhasil meloloskan diri. Ingat jangan gegabah. Apapun yang terjadi jangan membuka satu nama pun." Sam memberikan perintahnya. "Kita harus tetap menjaga kerahasiaan."


"Aku mengerti."


Pria itu menutup teleponnya. Tangannya mengepal dan bergetar karena marah. Dan tanpa bisa dikontrol, kepalan tangan itu telah menghantam dinding pilar bangunan hotel yang sangat kokoh itu.


Darah keluar dari tangannya, mengalir turun menuju buku-buku jarinya dan menetes ke lantai. Pria itu dengan pikiran kalut, masuk kembali ke dalam kamarnya.


Lia menatapnya dengan keheranan. Apalagi ketika ia melihat tangan Sam yang berdarah.


"Astaga, apa yang terjadi?" tanya Lia. Terlihat sangat panik, Lia melompat dari ranjangnya dan mengambil tisu dari atas nakas untuk menutup luka penuh darah.


"Tidak apa, aku hanya terjatuh tadi. Dan tanganku terkena pecahan lantai keramik saat menopang badanku," jawabnya dengan tenang.


Sam sendiri sibuk menenangkan pikirannya. Ia berpikir tentang Leon yang sedang sendirian di rumah. Bagaimana jika terjadi celah diantara semua hal yang telah direncanakannya dengan seksama dan berakibat membahayakan putranya.


💣💣💣


Sebuah mobil patroli polisi berhenti di depan rumah kediaman Samuel malam itu. Rumah itu terlihat lengang, tak tampak aktifitas sedikitpun dari luar.


Seorang polisi muda menekan tombol bel di pintu gerbang. Seorang wanita muda dengan tergopoh-gopoh keluar menemuinya.


"Mereka di dalam?" tanya sang polisi itu.


"Tidak. Aku tak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam," jawab wanita muda itu. "Mereka meninggalkan putranya sendirian di rumah denganku. Yah-- kurasa karena mereka sepasang pengantin baru."


"Aku tak bisa berlama-lama di sini, putranya akan segera mencurigaiku," kata wanita itu sambil menoleh ke arah sebuah jendela yang tirainya terlihat sedikit bergerak.

__ADS_1


Polisi muda itu menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan wanita muda itu. Ia membenarkan letak topi di kepalanya. Dan tersenyum manis pada wanita itu.


"Dalam penyamaran pun, kau tetap terlihat cantik mempesona." Polisi muda itu menggoda sang wanita dari balik pintu gerbang yang tertutup itu. "Tetap pasang mata, aku harap kecurigaanku segera terbukti karena kelengahan mereka."


"Yah-- aku juga berharap begitu agar tugas penyamaran yang memuakkan ini segera berakhir," sahut wanita itu dengan nada kesal. "Tapi aku mulai menyukai bocah laki-laki itu. Dia sangat manis, membuat aku tak merasa kesepian di dalam sana."


"Bocah pemenang audisi itu?"


"Sudahlah, aku akan kembali ke dalam." Wanita itu membalikkan badan hendak melangkahkan kakinya ketika polisi muda itu kembali berbicara.


"Setelah semuanya berakhir, aku akan segera meminangmu. Kita akan memiliki seorang bocah yang tampan dan pintar seperti dia."


Wanita itu berbalik menatapnya. "Aku harap kita semua akan selamat dan melalui semua ini dengan baik. Roni, pastikan rencana kita berjalan dengan lancar."



Pria itu menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyuman manis yang merekah di bibirnya. Ia kembali masuk ke dalam mobil patrolinya dan dengan segera menghilang dari depan rumah Samuel.


Marni menutup kembali pintu rumah, ketika suara Leonard mengejutkannya. "Bik, kenapa polisi itu datang kemari?" Pertanyaan yang belum sempat terpikirkan jawabannya.


Wanita itu menggaruk ujung hidungnya. Bola matanya bergerak-gerak tanpa fokus yang jelas.


"Itu, mereka mencari sebuah alamat. Karena aku belum mengenal daerah ini, aku katakan saja aku tak tahu alamat itu." Wanita itu mengangkat kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


Leon menganggukkan kepalanya. "Bibik, jangan lupa kunci pintunya, ya. Leon sudah ngantuk, mau tidur dulu."


Bocah kecil itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Sebelum masuk, ia melongokkan kepalanya sejenak melihat sang asisten rumah tangga yang sedang mengunci pintu depan rumah. "Bik, besok aku ingin omelet dan roti bakar dengan keju meleleh untuk sarapanku, ya."


"Baik, bibik akan buatkan itu untuk sarapanmu besok." Marni menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tulus.


"Selamat malam, Bik." Leonard menutup pintu kamarnya, lalu menguncinya dari dalam.


"Bik Marni membuat sebuah kebohongan. Siapa polisi itu?" tanya Leon dalam hati.

__ADS_1


Ia mengangkat pesawat teleponnya dan menekan sebuah nomer yang dihafalnya di luar kepala.


"Dia berbohong. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu," kata Leon perlahan pada seseorang di sana.


__ADS_2