
"Pensiun?" Sepasang mata cantik itu membulat sempurna. "Papa mau kemana?"
Hartomo tertawa, "Waktunya Papa menikmati hari tua. Papa ingin menikmati keindahan dunia sebelum kaki renta ini tak mau lagi diajak kompromi."
"Apa Papa ingin kutemani?" tanya Lia. "Papa ingin kemana?"
"Tidak, tidak perlu. Papa ingin menikmati kebebasan, sayang."
Hartomo melihat keluar jendela dari kursinya. Ia tersenyum melihat wajah ceria cucunya yang tampan sedang bermain bola dengan ayahnya. Bocah itu terkekeh, melihat sang ayah tak dapat menerima bola yang dioperkannya.
"Apa dia bersikap baik padamu?" tanyanya tiba-tiba.
"Papa, aku tak akan menikah dengannya jika dia bukan pilihan terbaik bagiku. Leon selalu terlihat bahagia berada di dekat ayahnya."
"Baiklah. Sudah saatnya membicarakan rencana papa." Hartomo menghela nafas. Ia meyakinkan diri bahwa ini adalah sebuah keputusan yang paling tepat.
Kening Lia berkerut. Rasa penasaran muncul dalam hatinya. Sebuah perubahan besar yang terlihat pada diri ayahnya. Dulu ia adalah seorang yang bertangan besi pada perusahaannya bahkan pada keluarganya. Namun kini ia terlihat lebih santai seperti tak lagi memikirkan usahanya itu.
"Papa ingin kamu melanjutkan usaha yang papa rintis ini, Lia." Dengan santainya pria tua mengucapkan rencana besarnya.
"A-aku, Pa?" Lia terlihat gugup. Ini bukan suatu hal yang mudah. Lia tak pernah ikut campur dalam usaha ayahnya selama ini.
Hartomo mengangguk, ia tersenyum pada putrinya yang terlihat sangat cemas. "Aku sudah mempersiapkan orang-orang handal yang kupercayai. Semuanya akan berjalan dengan baik, Lia. Aku berharap Leon akan meneruskannya kelak. Aku menitipkannya padamu sampai ia cukup usia."
"Ta-tapi Pah. Lia tidak yakin sanggup."
"Percayalah. Papa yakin kamu bisa." Pria tua itu berdiri dan menghampiri jendela kaca besar yang menghadap taman samping. Ia menatap bocah kecil yang asik mengoper dan menangkap bola dengan tawa cerianya.
"Papa, aku tak tahu apa yang papa rencanakan. Tapi aku mohon, papa pertimbangkan kembali keputusan ini." Lia berdiri di samping ayahnya.
__ADS_1
Hartomo tertawa. "Artomoro Santoso tak akan hancur secepat itu tanpaku. Dan aku rasa kau sudah menemukan kebahagiaanmu di sini."
Pria itu menepuk pundak putrinya. "Aku akan tenang menikmati masa tuaku."
Lia menatap ayahnya dengan penuh keraguan. "Jangan khawatir. Ayah akan mengurus semuanya atas nama Leon, dan kau sebagai walinya."
Hartomo mengerutkan keningnya, ia membaca kegalauan hati putrinya. "Aku akan menelpon dan mengirimkan kartu pos pada kalian. Jangan terlalu cemas."
Hartomo menyerahkan perusahaan kepada seorang bocah kecil karena ia telah banyak mendengar kepandaian Leon. Bukan suatu hal yang mustahil bagi Artomoro Santoso akan semakin berkembang karena kecerdasan dan strategi Leon di kemudian hari. Otak dan ide yang masih fresh dibutuhkan untuk kemajuan perusahaan textil yang telah berdiri selama 25 tahun itu.
Beberapa hari kemudian, Lia telah mendapatkan sebuah arsip yang di kemas dalam sebuah amplop coklat. Sang sopir mengatakan bahwa ayahnya telah berangkat dengan pesawat pagi.
🐢🐢🐢
Leon tertawa bahagia. Ia berdiri di atas keranjang troli berisi tumpukan koper yang didorong Black. Lia dan Sam berjalan di belakangnya.
Sebuah villa di daerah Canggu. Terlihat cukup luas berdesain tropical dengan cat tembok dominasi merah dan kuning yang cerah. Sebuah private swimming pool menyapa di depan pintu masuk dengan kasur gantung yang terayun, begitu menggoda untuk dicoba.
Senyum Leon mengembang begitu melihat sebuah pelampung besar di sudut ruangan. "Mami, bolehkah aku berenang?"
"Tentu saja." Lia menganggukkan kepalanya. Leon melompat gembira, dengan bersemangat, ia menarik kopernya masuk ke sebuah kamar di dekat kolam.
Sam menyeret koper-koper mereka ke kamar sebelahnya. Lia membanting tubuhnya ke atas ranjang yang empuk. Terdengar suara Leon tertawa senang.
Sam ikut meletakkan punggungnya di atas ranjang setelah mengunci pintu kamarnya. Ia menatap wajah istrinya yang sedang berbaring dan menutup matanya. Sam bangkit dan tersenyum mengamati wajah cantik dengan bibir yang terlihat selalu tersenyum itu. Ia mengecupnya dengan lembut.
Kecupan lembut yang hanya sebentar namun diulang dan diulang lagi hingga menjadi sebuah kecupan yang semakin memanas. Lia memeluk leher Sam mendekat. Terdengar suara desah nafasnya mulai tak beraturan ketika suaminya mulai mencumbunya.
"Sam, aku lelah," lirihnya di telinga suaminya yang sedang mengungkungnya. Nafasnya masih tak beraturan.
__ADS_1
"Bukankah aku sedang memijitmu, sayang?" Sam mengeksplore tubuh istrinya, membuatnya menggelinjang bahkan menggigit bibir karena menahan rasa yang tercipta.
Lia menghujamkan kuku-kuku jari tangannya pada lengan suaminya saat suaminya mulai bergerak memasuki intinya. Menyatukan tubuh mereka. Suaranya terdengar lirih mengiring nafasnya yang tidak teratur. Semakin cepat hingga mencapai puncaknya.
Sam mengerang saat Lia kembali menggigit bahunya. Ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Jari-jari tangannya mempermainkan rambut hitamnya yang terurai.
"Kau adalah sebuah kebahagiaan untukku. Berjanjilah tak akan meninggalkanku lagi. Sudah cukup bagiku merasakan sebuah mimpi buruk selama delapan tahun ini."
"Oh ya? Apa kau benar-benar bermimpi tentangku?" tanya Lia. Wanita itu menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya, sementara jari tangannya membentuk sebuah lingkaran di perut berotot suaminya.
"Tentu saja. Mana mungkin aku tidak bermimpi buruk saat kau tiba-tiba menghilang pagi itu. Kadang aku berpikir, seharusnya aku mengikatmu saat itu," Sam terkekeh mengingat pemikiran konyolnya saat muda. Ah- saat jiwa mudanya bergolak tanpa dapat dikekang.
"Hai tuan arogan, apa kau sebegitu besarnya mencintai istrimu ini?"
"Sangat -- sangat -- sangat mencintai lebah kecilku." Pria itu kembali memeluk istrinya, menghujaninya dengan kecupan-kecupan mesranya.
"Sam, hentikan." Lia terkekeh merasa geli. Suaminya sama sekali tak memberikan kesempatan untuk menolak. Walaupun tubuhnya terasa capek, tak urung wanita itu merasa bahagia.
Pria itu adalah pria yang sama, cinta pertamanya, pria pertama yang menciumnya, pria pertama yang menyentuhnya, dan dialah ayah dari putranya, Leonard.
"Dan satu hal lagi pertanyaan untukmu, suamiku, tuan arogan. Bagaimana perasaanmu saat pertama kali bertemu dengan putramu, Leonard? Tidakkah kau merasa suatu ikatan di antara kalian?" tanya Lia.
Sebuah pertanyaan yang selama ini tersimpan di hatinya, kini telah dilontarkannya begitu saja. Sam yang terlihat angkuh dan arogan sebagai seorang dari team inti juri kompetisi pencarian bakat itu, tidakkah dia merasakan suatu hubungan antara mereka?
Sam terdiam, ia memejamkan matanya. Membayangkan kembali awal pertemuannya dengan Leon. Seorang peserta terkecil audisi bakat yang dinilainya. Ia kembali mengingat permainan biolanya, pernyataan rekan-rekannya. Sebuah tawa terdengar dari bibirnya.
Hai teman-teman. Jangan lupa bantu like ya. Support kalian sangat berarti buat aku. Biar aku semangat up lagi dan lagi.
Yang udah like dan ikutin cerita ini, makasih banyak 🥰
__ADS_1