
"Terima kasih," ucap Sam, menyambut uluran tangan seorang kawan artisnya.
Sebuah senyuman menggoda terlihat di wajahnya. "Wah cara ngelamar lo, emang emejing, Sam. Kayaknya bakal jadi tren ntar lagi."
"Astagaa, Vick. Itu gue saking takutnya ditolak lagi sama Lia." pria itu menyenggol lengan istrinya. Seorang wanita cantik dengan pakaian panjang berwarna putih itu tersenyum dengan anggun.
"Tapi napa lo nikah sama mamaknya si Leon? Apa karena bocah itu mirip banget sama lo?" Joe rekan jurinya dalam pencarian bakat itu terlihat keheranan.
"Apapun kata lo, gue dah buat jadi kenyataan." Pria itu menerima uluran tangan selamat dari rekannya. Sebuah tawa tersungging di bibir keduanya.
Hall yang dihias dengan mewah itu padat oleh pengunjung yang mayoritas adalah kalangan artis kenalan Sam. Lia mulai merasa capek karena harus terus berdiri dengan sepatunya yang terbilang cukup tinggi.
Setiap kali ia merasa gelisah, diliriknya Leon. Bocah itu tersenyum, seperti memberikan kekuatan pada sang ibu untuk terus bertahan melewati acara ini.
Tiba-tiba Leon berlari mendekati MC. Seperti memberikan sebuah petunjuk ia terlihat memerintahkan sesuatu kepada pria berpakaian setelan berwarna unik itu.
Sang MC memberikan kode agar kedua mempelai duduk, dan Leon pun mulai menggesek biolanya sambil naik ke atas panggung. Sebuah melodi lagu yang lembut, mengalun dari gesekan senar biolanya dan busurnya. Lagu A Thousand Years terdengar indah.
Sam mengulurkan tangannya. Lia menerimanya, dan sepasang mempelai itu berdansa dengan suasana yang begitu romantis. Suasana begitu hening, semua tamu seperti terhipnotis akan permainan biola Leonard yang sangat indah. Hingga akhir permainan, gemuruh suara tepuk tangan terdengar di seluruh penjuru ruangan.
🐧🐧🐧🐧
Lia melepas semua aksesoris yang menempel di rambutnya. Wanita itu tampak kesulitan melepas karena sasakan yang diberikan oleh periasnya.
Sam mendekatinya, ia membantu melepaskan aksesoris yang berbentuk bunga yang berkilau itu satu persatu dengan lembut dari rambut istrinya tanpa banyak bicara. Lia menatap wajah suaminya dari pantulan cermin di hadapannya.
Sebuah lengkung terlihat di bibirnya ketika pria itu mendapatinya menatap dirinya. "Kau benar-benar sangat cantik hari ini," pujinya. Matanya terlihat berbinar penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Setelah acara pernikahan itu, Sam membawa Lia untuk tinggal di rumahnya. Leon sudah asik kembali menikmati kamarnya. Kamar khusus baginya ketika harus menjalani audisi. Namun kamar itu kini telah disulap penuh dengan kejutan menarik khas anak laki-laki. Dengan sebuah mesin game, perangkat komputer dan sebuah perangkat audio video.
Lia tersenyum, "Kau tahu, penampilan seperti ini terasa sangat menyiksa bagiku. Sanggulan tinggi yang terasa berat, kepalaku jadi pusing. Sepatu tinggi yang menyiksaku ketika harus berdiri lama, dan baju ini menyusahkanku ketika aku harus melangkah."
Sam tersenyum dengan sabar. "Aku tak akan memintamu untuk memakainya lagi. Sudah cukup satu kali kau memakainya untukku. Bagiku kau selalu cantik apa adanya." Pria itu mengecup lembut pipi istrinya.
Ia membantunya membuka tali pengikat gaun yang terletak di punggungnya. Tali itu terikat cukup kencang, sehingga Sam merasa cukup kesulitan untuk membuka dan membuatnya menjadi longgar.
"Aku akan mandi dulu, kepalaku terasa sangat berat." Lia hendak beranjak dari tempatnya berdiri. Sam memeluk pinggangnya, mengecup tengkuk istrinya yang bergambar tatto lebah.
"Sam," lirihnya.
"Bolehkah aku bergabung, aku bisa membantu menggosok punggungmu," godanya.
Pria itu tak melepas pelukan dipinggang istrinya. Ia terus mengecup tengkuk, telinga dan lehernya hingga sang istri menggeliat dan memekik tertahan.
🐧🐧🐧🐧
Lia menggigit bahu Sam ketika sensasi rasa itu telah mencapai puncaknya. Sam terkejut dan memekik tertahan karena reaksi yang diberikan oleh istrinya.
Nafas kedua insan yang memburu setelah pelepasannya. Sam kembali memagut bibir istrinya yang terlihat kelelahan itu. Lalu ia menarik selimut untuk menutup kedua tubuh yang terbaring di atas ranjang itu.
"Aku menginginkan seorang putri yang cantik seperti ibunya." Sam membuka percakapan mereka sementara ia memulihkan kembali tenaganya yang telah terkuras karena aktivitas mereka.
"Seberapa besar keinginanmu?" tanya Lia. Ia menyandarkan kepalanya dengan manja di dada suaminya sementara wajahnya mendongak menatap wajah tampan pria yang telah menikahinya.
"Seperti ini." Dia memberikan sebuah ukuran menggunakan jari tangannya. "Mungkin juga ini, tapi aku rasa aku tak sanggup lebih dari itu."
__ADS_1
"Lima, enam, tujuh?" Lia tertawa pelan. Ia tidak mengerti kode jari yang diberikan oleh Sam. "Apa maksudmu? Apa kau tidak begitu menginginkannya?"
"Bukan. Aku menginginkannya dengan sangat. Mungkin aku akan membuatnya sebanyak lima - enam atau tujuh kali sehari denganmu," jawabnya dengan santai. Sepasang matanya melirik nakal pada istrinya.
"Apa kau gila?" Lia terkejut dan memekik tertahan.
Sam tertawa terkekeh. "Kita baru membuatnya sebanyak dua kali hari ini. Masih tersisa lima kali lagi."
"Sam!" Wajah Lia terlihat memerah karena malu. Wanita itu membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Sam menatapnya dengan geli. "Kau sudah menjadi istriku, tapi kau masih juga merasa malu." Pria itu mengecup gemas bibir istrinya. Ia mulai menggodanya dengan sentuhan-sentuhan nakal jari jemarinya dan kecupan-kecupan di sekujur tubuhnya. Lia memekik tertahan ketika Sam memulai serangannya.
Ranjang yang berhias kelopak bunga mawar itu telah berubah kembali menjadi medan pertempuran bagi sepasang insan yang sedang mereguk kebahagian sepasang suami istri.
Sam berbaring di samping istrinya sambil mengatur nafasnya. Diliriknya jam dinding, sudah pukul dua dini hari. Sam membelai lembut punggung wanita di sampingnya. "Tidurlah, kau terlihat sangat lelah."
Dengan patuh, Lia memejamkan sepasang matanya. Sam menatap wajah istrinya dengan penuh kerinduan. Sementara pundak dan punggungnya terasa sedikit pedih. Ia tersenyum mengingat reaksi istri cantiknya saat merasakan puncak kenikmatan dengan begitu ekstrem.
🐧🐧🐧🐧
Sinar matahari menerobos tirai kamar di pagi hari itu, Lia dengan perlahan membuka sepasang matanya. Sebuah senyuman melengkung di bibir pria yang menatapnya, mendaratkan sebuah kecupan hangat nan mesra pada keningnya.
Kecupan yang kemudian datang bertubi-tubi menyerangnya. Menggelitik sekujur tubuh yang baru saja sadar dari tidur lelapnya. Sementara jari-jari tangannya dengan nakal bermain dengan licahnya.
Lia mengerang tertahan karena sensasi yang dirasakannya. Tubuhnya menggelinjang tak tertahankan. Bibirnya memekik tertahan. Sam segera memagutnya seakan tak memberinya kesempatan. "Ah-- ssh."
Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan di pintu. Sam tampak kebingungan, ia meletakkan telunjuknya ke depan bibirnya memberi tanda agar istrinya tak bersuara.
__ADS_1
Pria itu semakin cepat menghantamkan tubuhnya dengan bersemangat. Lia memekik tertahan sementara buku-buku jari tangannya yang lentik menghujam ke kulit lengan tangan suaminya yang dengan kuat diremasnya.