Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 44. Jangan Sentuh Dia


__ADS_3

Lia mengecup bibir suaminya dengan lembut sambil menarik lehernya mendekat dengan kedua tangannya.


"Apa yang membuatmu berpikir aku tak mencintaimu?" lirihnya di telinga suaminya. Digigitnya cuping telinganya untuk menggodanya.


"Ah-- Lia." Sam menggigit bibirnya menahan gairah yang tiba-tiba datang dan memuncak. Wanita itu tertawa sambil bergelayut manja memegang lengan suaminya.


Suara dering telpon menghentikan langkah mereka. Dengan wajah tegang, Sam mengangkatnya.


"Semua sudah beres. Aku menunggu bagianku."


"Baiklah. Kau akan segera menerimanya," jawab Sam. Tampak wajahnya lebih tenang. Ia sangat mengenal Black. Pria menyebalkan namun sangat bisa diandalkannya setiap waktu.


Lia menatap wajah suaminya. "Apa itu sesuatu yang penting?" tanyanya. Sebuah panggilan dengan sebuah jawaban singkat, terasa aneh bagi Lia.


Sam tertawa, melepaskan sebuah perasaan lega sekaligus sebagai usahanya menenangkan hati istrinya. "Aku sedang menyelesaikan sebuah transaksi untuk promo album music perdana Leon. Sepertinya aku harus segera melunasinya karena dia menginginkan pembayaran dimuka."


"Astaga, tak bisakah mereka menundanya hingga besok pagi. Sungguh luar biasa," sahut Lia.


"Apa kau merasa terganggu, sayang? Baiklah, aku akan mematikan ponselku sekarang," jawab pria itu sambil menekan tombol power off pada ponselnya. Dimasukkannya ponsel itu ke dalam sakunya dan kembali membimbing istrinya masuk ke dalam kamar.


πŸ’£πŸ’£πŸ’£


"Mami, daddy!" Leonard meletakkan roti bakarnya kembali ke atas piringnya begitu melihat kedua orang tuanya melangkah masuk ke dalam rumah. Kedua tangannya mengarah kepada mereka dan memeluk keduanya secara bersamaan.


Lia menatap Marni dan tersenyum pada wanita muda itu. Wajah polosnya terlihat tersenyum membalas. "Bagaimana Leon semalam, Bik? Apa dia membuat suatu masalah?"


"Tidak, Nyonya. Tuan muda bahkan sangat mandiri. Dia belajar lalu dengan tenang berlatih biola di kamarnya. Saya merasa senang bekerja di sini. Seperti mendengar sebuah konser gratis." Marni menjawab dengan sejujurnya ia tersenyum senang.


"Terima kasih, Bik. Sudah menjaga Leon semalam," Lia menepuk bahu asisten rumah tangganya.


Sam meletakkan sebuah amplop coklat di meja, tepat di hadapan wanita muda itu. "Tapi maaf, Marni. Aku tidak bisa memakaimu lagi di rumah ini. Aku baru saja mendapatkan surat undangan untuk mulai melakukan audisi pencarian bakat berikutnya. Kami akan meninggalkan rumah dalam waktu yang lama."

__ADS_1


"Tapi, Sam --" Lia terkejut mendengar sebuah keputusan yang diambil oleh Sam secara sepihak.


Sam meninggalkan Lia begitu saja tanpa memberinya sebuah kesempatan untuk bertanya. Lia menepuk pundak asistennya yang masih tertegun dan segera mengejar suaminya.


"Sam, tunggu. Apa maksudmu dengan --"


Sam menarik tangan Lia masuk ke dalam kantornya yang kedap suara. "Ssst... Dengarkan. Aku sangat mempercayai Leonard. Aku tak bisa mempercayai Marni lagi."


"Tapi kasihan Marni jika dia hanya menjadi sasaran imajinasi seorang anak kecil," sahut Lia dengan menekan suaranya. Ia jengkel, namun ia tak ingin berdebat dengan suaminya. "Dan kau tahu, tidak mudah untuk mencari seorang asisten rumah tangga jaman sekarang. Bahkan jika kau memesan melalui seorang calo, dia hanya akan mengatur mereka untuk berhenti bekerja dalam sekejab hanya untuk mengambil komisinya."


"Iya, aku tahu. Tapi kenyamanan Leonard dan keluarga ini lebih penting daripada semua itu." Pria itu tetap pada pendiriannya. "Dan aku rasa kita akan menemukan asisten rumah tangga yang jauh lebih baik dan bisa dipercaya."


Lia mengangkat kedua bahunya. Dia menyerah, dia tahu tak akan menang dalam perdebatan yang mengatasnamakan kenyamanan putra mereka itu.


Lia berbalik dan hendak membuka handle pintu ketika tiba-tiba suaminya memeluknya. "Aku harap kau selalu mendukung semua keputusan yang kubuat. Aku selalu memikirkan segala yang terbaik bagi kalian berdua karena saat ini kalianlah hartaku yang paling berharga."


Pria itu mencium rambut istrinya. Ia mengharapkan sebuah persetujuan karena merasa bersalah memutuskan secara sepihak.


Lia menutup pintu ruang kantor itu. Ada rasa kesal di hatinya, namun setelah pembicaraan itu ia mulai belajar memaklumi keputusan yang diambil oleh suaminya itu.


🐾🐾🐾🐾


"Black!" sapa Sam pada pria di dalam teleponnya. "Aku sudah mentransfer sesuai janjiku. Apakah semuanya berjalan sesuai rencana?"


Pria di seberang telepon tertawa dengan suara menyebalkan. "Semuanya berjalan sesuai rencana. Mat Bewok sudah selesai di dunia ini."


"Apa kau meninggalkan jejak?"


Terdengar kembali suara tawa Black, "Hai! Jika kau tidak mempercayai cara kerjaku, sebaiknya kau lakukan segalanya sendiri!" teriaknya dengan marah.


"Black, tidak bisakah kau berubah lebih manis pada pelangganmu?" sahut Sam mulai kesal.

__ADS_1


"Aku sudah bersikap manis padamu, Sam. Sementara kau bersenang-senang dengan istri cantikmu, kau mengotori tanganku dengan darah seseorang," kata Black dengan kesal. "Bahkan kau mematikan ponselmu disaat aku belum menyelesaikan pembicaraanku."


"Baiklah, maafkan aku. Aku hanya tak ingin istriku curiga dengan pembicaraan kita." Sam terdengar menekan perasaan kesalnya.


"Istrimu benar-benar cantik, Sam. Bolehkah aku memilikinya untuk beberapa malam saja? Aku ingin merasakan kebahagiaan yang kau rasakan di setiap malamnya." Pria di dalam telepon itu tertawa terkekeh.


Sam semakin kesal, tapi ia mencoba meredam kekesalannya. Ia tertawa, "Black, kau bisa dengan mudahnya mencari wanita cantik manapun dengan uang yang telah aku berikan. Tapi sebaiknya bukan istriku. Seorang teman tidak akan mencuri milik temannya, bukan?"


"Hahaha..." Black tertawa sangat keras. "Apa kau yakin aku adalah temanmu?"


"Tentu saja. Kau adalah temanku."


"Kau tahu, temanku. Aku rasa aku harus mencuri istri cantikmu darimu. Aku mulai menyukainya." Black tertawa pelan.


"Black. Jangan bercanda!" Sam merasa sangat kesal.


"Wanita yang sangat cantik. Dia melambai pada putranya yang tampan. Senyumnya sangat memabukkan." Black mengidentifikasikan posisi Lia berada. Di sekolah Leon.


"Black, jika kau berani melukai dia, aku tak akan mengampunimu. Aku sendiri yang akan menghabisimu!" teriak Samuel dengan sangat marah.


"Rambut panjang berwarna hitam pekat. Dan bibirnya yang dipoles dengan lipstik berwarna coklat pucat. Sam, kau benar-benar pria yang beruntung."


Sam semakin terlihat gelisah. Di keluarkannya gadgetnya dan mulai melacak keberadaan Lia. Ia melihat sebuah titik berwarna merah berada di depan sekolah Leon.


"Baiklah Sam, aku harus segera bergerak, sebelum istrimu menghilang." Black tertawa terkekeh.


"Black, sialan! Jangan sentuh istriku, atau kau akan menyesalinya!" seru Sam. Ia berjalan ke lemarinya, menyingkirkan sebuah buku tebal dan menekan sebuah tombol di baliknya. Sebuah laci terdorong keluar dari dinding, didalamnya terdapat sebuah pistol revolver berukuran medium, 357 magnum, dengan laras 4 inci.



Sam menutup panggilannya. Dengan amarah yang berkobar dia keluar dari rumah.

__ADS_1


__ADS_2