
Lia duduk di taman samping coffeeshopnya. Sementara kedua tangannya sibuk melakukan perhitungan di layar monitor laptopnya.
Di sebelahnya secangkir mochacinno hangat menemani. Sesekali ditegakkannya tubuhnya.
Seorang pria muda menghampirinya. Ia berhenti sejenak sebelum memutuskan untuk duduk di hadapan wanita cantik itu.
"Hai," sapanya dengan senyuman lebar yang menampilkan sederet giginya yang putih dan tersusun rapi. "Lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Radith. Apa kabar?" balas wanita itu dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Aku baik-baik. Apa kau tak menerima undangan dari kami?"
"Ah-- undangan itu, maafkan aku. Ada pasien yang tak bisa aku abaikan hari itu," sahut dokter muda itu.
"Baiklah. Bukan suatu masalah, aku bisa memahaminya," sahut Lia. "Bagaimana? Apa kau sudah dapat melihat kembali gambaran masa depan, aku rasa kita sudah membuat sebuah perubahan besar."
Dokter muda itu tertawa, "Belum, dan entah kenapa suamimu terus mengusikku."
"Ray? Apa dia mengganggumu?" tanya Lia dengan heran. Ray bukan type seperti itu. Ia bukan seorang yang agresif, cenderung pendiam dan suka kedamaian.
Pria muda dihadapannya mengangkat kedua bahunya. "Aku dapat melihat mereka, namun aku tak dapat berkomunikasi dengan mereka," jawabnya.
"Pria indigo abal-abal," sahut Lia sambil tertawa terkekeh.
"Aku tak pernah mengharapkan mendapat penglihatan ini. Bahkan ini sangat menggangguku. Jadi -- " Pria itu mengangkat bahunya. "Aku tidak pernah berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan mereka."
Tiba-tiba Samuel muncul di depan pintu. Wajahnya terlihat dingin, menutup sebuah kemarahan dalam hatinya.
Lia berdiri dari kursinya, "Kau sudah datang?" Wanita itu menyambut suaminya dengan sebuah senyum di wajahnya.
Radith berdiri, pria muda itu mengulurkan tangan kanannya. "Selamat atas pernikahan kalian." Sebuah senyum lebar terlihat di wajahnya.
"Ah-- ternyata kau sudah tahu bahwa kami telah menikah," sahut Sam dengan ketus tanpa membalas uluran tangan itu.
__ADS_1
Dengan perasaan serba salah, Radith menurunkan tangannya yang telah terlanjur terulur. Dokter muda itu menggaruk rambutnya dengan canggung. "Maaf, aku tak dapat menghadirinya karena seorang pasien yang tak dapat kutinggalkan."
"Karena kau sudah tahu, Lia adalah istriku sekarang, jadi aku harap kau menjaga sikapmu." Sam dengan kasar mendorong tubuh Radith.
"Sam! Kau tak perlu bersikap kasar seperti itu!" seru Lia. Ia menarik tangan suaminya menjauh dari Radith. "Apa yang kau pikirkan tentang kami? Apa kau tidak mempercayaiku?"
Sam menatap sepasang mata di hadapannya. Sepasang mata wanita yang dicintainya itu terlihat sedih dan mulai berkaca-kaca.
"Untuk apa pernikahan ini jika kau tidak memiliki sebuah rasa yang dinamakan kepercayaan itu," lanjut Lia. "Apa sebaiknya kita akhiri semuanya sampai di sini?"
Sam begitu terkejut atas perkataan istrinya itu. Mengapa ia tak bisa mengontrol emosinya. "Tidak, aku sudah lama menunggumu. Aku sudah bersabar sekian lama untukmu. Bagaimana mungkin aku dengan mudahnya melepaskanmu demi dokter itu," katanya dalam hati. "Tidak. Aku harus bersabar. Aku harus mempertahankanmu. Kau hanya milikku."
Sam menarik napas panjang. Ia memaksakan sebuah senyum di wajahnya yang dingin. "Maaf. Bisakah kita berangkat sekarang?" katanya dengan nada yang lebih lembut.
Lia menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Ia menepuk punggung Radith, "Sampai ketemu lagi, Radith."
Radith tersenyum dan mengangguk. Ia masih dapat melihat bara kemarahan di mata Samuel saat sepasang suami istri itu meninggalkannya.
🐧🐧🐧🐧
Lia beberapa kali memegang topi lebarnya agar tak tertiup angin. Demikian pula rok panjangnya yang melambai-lambai dengan indah.
"Apa kau ingin bertaruh lagi? Siapa yang paling lambat sampai di batu karang itu, harus menggendong pemenangnya," kata Samuel sambil menunjuk sebuah batu besar di pinggir pantai.
"No, no, no. Kau curang. Tentu saja kau pemenangnya. Bagaimana jika kubalik. Pemenangnya menggendong yang kalah." Tentu saja pertaruhan ini sama sekali tak menguntungkan bagi Lia.
"Baiklah. Pemenangnya menggendong yang kalah, tetapi yang kalah harus mencium pemenangnya." Sam tersenyum lebar dan mulai berlari.
"Ha-- Mengapa kau selalu menyebalkan. Memberikan aturan yang semuanya menguntungkanmu." Mau tak mau Lia harus berlari mengejar suaminya.
Sam tertawa lepas, sesekali dia menengok ke belakang memastikan bahwa istrinya aman dan tetap berada di dekatnya. Menyadari hal itu, Lia menghentikan langkahnya. Ia duduk di atas pasir pantai dengan tangan menopang ke belakang badannya.
"Kau capek, sayang?" tanya Sam yang kembali setelah melihat istrinya tak lagi mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Capek. Berlarian di tanah sangat berbeda dengan di atas pasir, Sam."
Sam tertawa. Ia menyodorkan botol air mineral yang sejak tadi dipegangnya, lalu duduk di samping istrinya.
"Lihatlah," kata Sam sambil menunjuk ke arah barat. "Bukankah itu terlihat sangat indah, sayang?"
Matahari terlihat telah masuk ke dalam peraduannya, sinar cahaya merah keemasannya terpantul indah di air laut yang tenang. Sementara Lia kembali memegang topi lebarnya yang kembali diterpa angin nakal. Sam menatap wajah istrinya yang kemerahan karena hangat matahari.
Dengan gemas, ia mencubit pipinya yang kemerahan. Wanita itu mengerutkan keningnya dan tangannya dengan cekatan mencubit hidung runcing suaminya.
Sam tidak mengelak, ia mendekatkan wajahnya pada Lia dan mengecup lembut bibir istrinya. Pria itu memeluk pinggang istrinya dan sang istri membalasnya dengan memeluk leher suaminya.
Tiba-tiba suara telepon berdering membuat kedua insan yang sedang menikmati indahnya kehidupan itu terkejut. "Ah-- maaf Lia. Pasti salah seorang temanku. Kita kembali ke hotel, yuk," ajak Sanuel.
Lia mengikuti langkah suaminya dengan patuh. Mereka kembali jalan berpelukan menyusuri pinggiran pantai menuju hotel yang mereka inapi.
🐧🐧🐧🐧
"Troy, apa kabarmu." Sam melakukan hi-five dengan rekan artisnya itu.
"Baik, lah," sahutnya sambil membalas dengan melakukan hi-five. "Apa dia istrimu?"
Troy menunjuk pada Lia yang berdiri di belakang Sam. Sam tersenyum, "Tentu saja. Hanya dia wanita yang aku cintai."
Troy menghantam lengan Sam perlahan sambil terkekeh. "Kau selalu pintar dalam memilih. Pantas kau di daulat sebagai seorang dari tiga juri inti kontes pencarian bakat itu."
Sam berpaling pada istrinya. "Lia, pergilah ke kamar dan tunggulah aku di sana. Aku tak akan lama melayaninya," katanya lirih di telinga istrinya.
Lia tersenyum dan mengangguk. "Baiklah. Aku harap kau tidak berlama-lama. Atau aku akan menghilang karena kebosanan."
Sam mengerutkan keningnya.
Lia tertawa terkekeh. Ia membungkuk sopan pada Troy sebagai tanda undur diri dan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Sam mengeluarkan sebuah kotak dengan pita berwarna keemasan. "Aku harap kau menyukainya, Troy. Mungkin aku akan mengakhiri bisnis ini. Aku ingin hidup tenang menghabiskan masa tuaku."