
Leonard melambaikan tangannya pada ibunya. Tapi sepasang matanya menangkap sosok manusia yang mencurigakan. Pria berpakaian serba hitam dengan tinggi lebih dari 175 cm. Pria itu terlihat asik berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, sambil sesekali menatap ibunya.
Leonard masuk ke dalam sekolahnya, namun ia kembali mengintip keluar. Dilihatnya ibunya mulai sadar bahwa seseorang sedang menguntitnya. Leonard kembali berlari keluar mengejar ibunya.
Sebuah kecerobohan terjadi, ketika Leonard tanpa sengaja berpapasan dan menabrak Angela. Buku-buku Angela berceceran di trotoar. Angela tersenyum ramah padanya.
"Apa kau begitu tergesa-gesa?" tanya gadis kecil itu.
"Iya. Sepertinya seseorang sedang menguntit ibuku. Aku harus menolongnya." Leonard mengambil buku-buku yang berceceran itu dan memberikannya pada Angela. Tepat saat itu, ia melihat Thomas, seekor German Shepherd jantan anjing peliharaan Angela. Muncul sebuah ide di kepalanya.
"Angela, maukah kau membantu aku?" pintanya dengan wajah manis.
"Nonono... itu sangat berbahaya. Kau masih terlalu kecil," kata gadis kecil itu.
"Semuanya akan aman jika ada dia," Leon menunjuk seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya keluar dari jendela mobil.
Angela tertawa. "Leon. Kau memang pintar. Baiklah, dia bernama Thomas. Berkenalanlah dahulu. Kau boleh memakai mobilku juga, ada Mang Ateng yang bisa mengantarmu."
"Yeay... Terima kasih Angela. Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu." Leonard melompat kegirangan.
"Dan satu lagi, tolong sampaikan pada Miss Pritha guru kelas 5, aku tidak masuk hari ini karena harus menolong ibuku." Leonard masuk ke dalam mobil Angela.
"Hai Thomas," sapa Leon sambil mengulurkan tangannya memberikan sebuah cemilan anjing berbentuk sepotong tulang. Angela terkejut melihat Thomas begitu cepat mengakrabkan diri pada anjingnya.
"Mang Ateng, bantu temanku, ya. Antarkan dia, daripada Mamang bengong nunggu aku di sini." Gadis kecil itu tersenyum ramah pada sopirnya yang berusia setengah baya itu.
"Iye non."
Gadis kecil itu melambaikan tangannya pada Leon yang mulai meninggalkan parkiran sekolahnya.
__ADS_1
"Aku harus pulang dulu, Mang. Ambil perangkat untuk melacak posisi mami." Leon memberikan perintahnya.
🐾🐾🐾🐾
Leonard tak butuh waktu lama untuk mengambil perangkat yang berada di kamarnya. Ia mulai melacak posisi ponsel ibunya. Mengapa ibunya ada di rumah sakit. Eh, sekarang titik berwarna merah itu bergerak menjauh dari kota. Ke sebuah tempat yang tidak dikenalnya.
"Baiklah. Kita kesana. Semoga tidak terjadi hal buruk pada mami." Bocah kecil itu menghela napas. Tangannya kembali sibuk membelai-belai kepala anjing berbadan besar itu.
"Thomas. Kau akan ikut berperan serta dalam aksi kali ini. Jadilah anjing yang baik, ya. Aku harap kita tidak datang terlambat." Mendengar kata-kata Leon, Mang Ateng seperti mendapat lecutan, ia pun mempercepat laju kendaraan beroda empatnya itu.
"Apa pria berbaju hitam tadi adalah sasaranmu, tuan muda?" tanya Mang Ateng.
"Panggil Leon saja, Mang. Iya. Aku tak tahu ada persoalan apa sehingga dia berniat mengusik mami." Bocah kecil itu sedikit menceritakan kecurigaannya.
"Pria itu sepertinya bukan orang baik-baik, Tuan Leon. Apa tidak sebaiknya kita melapor pada kepolisian?" Pria setengah tua itu memberikan sarannya.
"Mang Ateng. Jika kita melapor sekarang, mungkin kita akan sangat terlambat dalam memberikan pertolongan," jawab Leon dengan nada putus asa.
Leon berpikir, ia mencari cara agar dapat masuk melalui kedua pengawal berbadan besar itu. Ia melihat sebuah mobil keluar dari pintu gerbang. Dan pria berpakaian hitam itu ada di dalamnya.
Setelah pria itu keluar, kedua pria berbadan besar itu masuk ke dalam rumah.
"Mang Ateng, bantu Leon ya. Kita akan masuk ke dalam dengan cara kita. Mang Ateng berpura-pura jadi petugas Indohemo, mau perbaiki jaringan internet, gitu. Aku rasa kedua orang itu hanya badannya yang besar," Leon tersenyum. Ia mempunyai sebuah rencana yang bagus.
Agak lama mereka menunggu, ketika kedua penjaga kembali ke pintu gerbang. Mang Ateng keluar dari pintu. Ia terlihat sedikit bercakap-cakap pada kedua penjaga itu dan tak lama kemudian, mereka membuka pintu gerbang untuknya.
Tak membuang waktu, Leon keluar dari mobil dan memerintahkan Thomas untuk menyerang mereka.
"Thomas. Gigit orang-orang jahat di dalam sana!"
"Huff!"
__ADS_1
Thomas segera melompat dari mobil dan mengejar kedua orang yang menjaga di pintu gerbang. Leon tertawa melihat kedua orang berbadan besar itu berlari tunggang langgang.
"Mang Ateng, benar yang aku katakan, bukan. Mereka hanya berbadan besar." Leon tertawa terkekeh bersama Mang Ateng.
"Aku akan masuk. Tolong, jika dalam 30 menit aku tidak keluar dari rumah itu, panggillah polisi," pesan Leon, kali ini dengan nada serius.
"Tuan Leon, berhati-hatilah. Kita tidak tahu siapa yang akan kau hadapi di dalam," pesan pria setengah baya itu.
Leon tersenyum, ia sangat menghargai pria tua yang baru saja dikenalnya itu. "Tentu Mang. Doakan aku berhasil."
Leon berlari masuk ke dalam rumah mewah itu. Pintu rumah pun telah dibukakan oleh kedua pria yang ketakutan karena ulah Thomas. Sepertinya kedua pria itu masuk ke dalam sebuah kamar. Leon terkekeh melihat Thomas duduk menghadap ke pintu sebuah kamar dengan sobekan kain di mulutnya.
"Thomas. Come here!" perintah Leon.
Leon mengintip ke sebuah ruangan, ia melihat ibunya terikat di sebuah ranjang berukuran besar. Dan seorang pria muda menampar wajahnya.
Rupanya pemandangan seperti ini sangat mengusik bagi seekor anjing penjaga jenis ini. Thomas segera mendorong pintu itu dengan kepalanya dan berlari mendekati pria itu. Thomas berhasil menggigit panttat pria itu. Pria itu melompat ke atas ranjang. Tapi Thomas tak ingin melepaskannya. Ia melompat dan terus mengejarnya.
Pria itu berlari keluar dari kamar dengan tak mempedulikan Leon yang berdiri di samping pintu.
Leon segera masuk ke dalam kamar. "Mami, apakah aku datang terlambat?"
Sang ibu menangis, ia ketakutan namun merasa lega. Ia tak pernah menyangka bahwa putranya akan datang menyelamatkannya.
Leon segera melepaskan ikatan di kedua tangan ibunya. Thomas sangat berjasa dalam misi ini. Ia benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai seekor anjing penjaga.
Mang Ateng terlihat lega, begitu melihat Leon keluar dari rumah mewah itu. Dengan sekali cuitan, Mang Ateng memanggil Thomas untuk masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Kita pulang. Ada banyak hal yang harus mami sampaikan pada daddy," kata sang ibu dengan suara tegas. Wajah cantiknya terlihat begitu pucat dan tegang.
Leon tetap bersikap tenang walau dalam hatinya ia telah mengerti ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1