
Suara tamparan itu terdengar begitu menyakitkan. Pipi Sam terlihat memerah. Lia menatap telapak tangannya sendiri yang terasa berdenyut dan memerah.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan? Apa ada sesuatu yang perlu aku ketahui? Apa yang kau sembunyikan dari istrimu?"
Sam terkejut menerima tamparan itu. Ia tak pernah menduga istrinya akan menghadiahinya sebuah tamparan.
"Katakan padaku, apa yang ingin kau ketahui?"
"Kita sedang terlibat sesuatu. Jelaskan padaku tentang apa ini?" teriak Lia dengan kemarahan yang meledak, bahkan tubuhnya terlihat gemetar.
Sam menutup mulutnya rapat-rapat, dia hanya diam dan mulai berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Sam tak ingin Leon mendengar bahkan mengetahui hal yang seharusnya tak diketahuinya.
Melihat suaminya diam dan berjalan meninggalkannya, membuat Lia semakin kesal. Ia tak ingin lagi dibohongi, setidaknya bila terjadi sesuatu yang tak diharapkan, ia harus siap menghadapinya.
Wanita itu dengan kesal mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam ruang kantornya. Leon hanya mengiringi langkah mereka dengan pandangan matanya.
🍀🍀🍀🍀
Lia menutup pintu ruang kerja Sam. Wajahnya masih terlihat kemarahan yang sangat jelas. "Kau harus mengatakan padaku, setidaknya aku berhak memikirkan harus bertindak bagaimana."
Sam duduk di meja kerjanya. Tangannya mengurut keningnya, ia tak ingin membongkar rahasianya. Tapi di lain pihak, ia membenarkan perkataan istrinya. Benar, dia harus tahu bagaimana harus bertindak.
"Baiklah, Sayang. Kau tahu bukan, jika aku sangat mencintaimu."
"Tidak. Aku tak pernah mengetahui jika mencintai seseorang itu harus dengan mengorbankan nyawa." Lia menjawab dengan ketusnya.
Sam menghela nafas. Ia harus bersabar karena bagaimanapun dialah yang bersalah.
"Sayang, aku berniat untuk mengakhiri semua ini. Aku ingin berfokus pada dunia music saja. Tapi sepertinya mereka tak ingin aku melepaskan pekerjaan ini karena mereka membutuhkan pemasok."
"Pemasok? Ini semua tentang apa? Apa kau terlibat suatu kejahatan?" Sepasang mata cantik itu membulat seakan tak percaya akan yang didengarnya.
__ADS_1
"Ingat sayang, ini semua karena aku ingin mengakhirinya, demi kita. Aku ingin kehidupan yang tenang dan bahagia," kata Sam dengan nada putus asa.
"Baiklah. Katakan padaku, ini tentang apa." Lia mulai tak sabar.
Sam berdiri, berjalan mendekati sebuah lukisan sebuah saxophone di dinding dan menurunkannya. Ia memutar nomor kombinasi brankasnya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam brankas.
Jantung Lia seakan berhenti berdetak ketika dilihatnya kemasan berisi serbuk putih keluar dari amplop coklat tersebut. Mendadak kedua kakinya tak mampu menopang badannya. Lia terhuyung ke belakang, badannya menempel dan merosot turun ke lantai.
"Lia, sayang!" teriak Sam. Ia membopong tubuh istrinya ke atas sofa.
Begitu banyak kejadian mengejutkan menimpanya hari ini. Kejadian-kejadian yang tak pernah terprediksi sebelumnya. Ia tak pernah menyangka akan diculik, nyaris diperkossa dan sekarang harus mengetahui bahwa suaminya adalah seorang bandar --
Kepalanya seakan ingin meledak menerima semua kejutan yang tak terduga ini.
🍀🍀🍀☘
Wanita itu berlari sepanjang rumah sakit, ia tak melihat siapapun di sana. Entah kenapa rumah sakit yang biasanya ramai oleh pasien, mendadak begitu sepi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
Ia melihat sesosok pria berdiri di ujung lorong di hadapannya. Menatapnya dengan pandangan sendu.
Digenggamnya pergelangan tangannya dan mendorongnya dengan keras ke dinding ruangan. Wanita itu menghardiknya dengan keras, "Dasar bodoh! Mengapa kau bertindak bodoh seperti itu, kau tidak boleh mati! Aku masih membutuhkanmu, indigo abal-abal. Sadarlah." Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Tubuh Radith tersentak di ranjang rumah sakit. Garis mendatar di layar monitor tiba-tiba berubah menjadi tak beraturan.
Suara mesin deteksi jantung kembali berbunyi dengan irama yang teratur. Sang dokter menarik nafas lega dan meletakkan kembali alat pacu jantung yang baru saja dipakainya.
"Radith, sadarlah. Kau masih sangat muda. Masih banyak tugas yang belum kau selesaikan, Nak." Dokter itu melepas sarung tangan karetnya.
"Tetap pantau dia dan berikan laporan perkembangannya kepadaku," katanya pada seorang perawat di sampingnya.
"Baik Dok!"
__ADS_1
🍀🍀☘☘
Lia membuka matanya, melihat wajah Samuel yang terlihat sangat cemas. Ia membuang muka, ia masih merasa marah dan kesal.
"Maaf, kau harus terseret dalam masalah ini. Aku tak bermaksud untuk membawamu dalam masalah --"
"Sebaiknya kau menyelesaikan semua masalah ini. Aku tidak ingin terlibat," sela Lia. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun keluar dari mulut suaminya.
Wanita itu berdiri dan keluar dari ruang kerja suaminya. Ia berjalan menuju kamar mereka dan mengeluarkan sebuah tas besar. Lia mulai mengemas semua pakaian dan barang-barangnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Sam menarik tangan istrinya. Bukan ini hal yang diinginkannya.
"Lepaskan, Sam!" serunya.
"Tidak, sebelum kau memaafkan aku." Sam kembali pada ego-nya. Tatapan matanya terlihat mengintimidasi seakan tak seorangpun boleh menolaknya.
"Aku akan pergi, aku perlu memikirkan ulang nasib keluarga ini. Aku harap kau juga melakukan hal yang sama," jawab Lia, ia membalas tatapan pria di hadapannya tanpa sedikitpun rasa takut.
Semua rasa takut itu telah hilang karena semua hal yang pernah dilaluinya. Ia telah ditempa oleh bermacam hal yang tak diduganya.
"Aku telah memikirkannya, Lia. Bukankah aku telah mengatakan padamu akan menghentikan semua kegilaan ini. Jadi please. Bantu aku, dukung aku supaya aku bisa menjadi seorang suami yang sempurna untukmu." Sam kembali melembutkan suaranya. Dia sangat berharap Lia tidak meninggalkannya. Selain dia sangat mencintai wanita yang sekarang adalah istrinya itu, Sam juga khawatir rahasianya akan terbongkar setelah Lia meninggalkan rumahnya.
Lia menggelengkan kepalanya. Ini bukan suatu keputusan yang mudah. Tetap bertahan di sisi Samuel, tentu akan membuat Leon bahagia. Tetapi bahaya akan selalu mengintai.
"Tolonglah, sayang. Beri aku waktu, beri aku kesempatan. Aku akan membuktikannya padamu," rayu Samuel. Sepasang tangannya masih menggenggam erat tangan istrinya.
"Sam, aku rasa aku butuh waktu menyendiri untuk memikirkan masa depan pernikahan kita." Wanita itu melepaskan tangan yang menahannya dan kembali mengepak pakaiannya.
Samuel menekuk kedua lututnya, ia kembali memegang tangan kanan Lia dan kembali memohon pada wanita itu. "Sayang, berikan aku kesempatan. Please. Biarkan aku menjagamu, membahagiakanmu dan membuktikan cintaku pada keluarga kita."
Air mata Lia mulai bersarang di pelupuk matanya. Ia tak pernah melihat Sam bertindak sampai sejauh ini. Bahkan memohon. Hatinya menjadi risau, haruskah dia meninggalkan suaminya atau haruskah dia memberinya kesempatan.
__ADS_1
Ia menatap sepasang mata suaminya, mencari sesuatu di dalamnya yang dapat meyakinkan keputusan yang akan diambilnya.
"Mami, bisakah kita memberi daddy kesempatan, Leon tidak ingin keluarga kita tercerai berai lagi."