
"Seperti melihat potret diriku ketika aku masih kecil. Aku merasa aneh, seperti ada sesuatu yang mengusikku. Di lain pihak aku merasa kagum atas kemampuan yang dimilikinya."
Pria itu tertawa, "Kau tahu, rekan-rekanku memberikan pertanyaan dan pernyataan konyol padaku karena kemiripan ini."
Ia mengusap cairan bening di sudut matanya. Air mata haru penuh kebahagiaan. "Aku tak pernah menyangka jika dia benar-benar adalah putra kandungku sendiri. Sebuah kejutan yang manis, sayang," lirihnya sambil mengecup kening istrinya.
Lia memeluk suaminya. Setidaknya keluarga ini telah kembali utuh. Semoga tak ada lagi cobaan yang datang menghampirinya.
🐢🐢🐢
Leon menggandeng tangan kedua orang tuanya, sesekali diayunnya tangan mereka. Mereka berjalan di atas pasir pantai yang lembut tanpa alas kaki. Debur ombak terdengar bergulir menuju pantai.
Sam dan Lia duduk di atas hamparan pasir halus berwarna putih itu. Mereka menatap ombak yang bergulung seolah berlomba menuju pantai. Melihat Black dan Leon berlarian berkejar-kejaran dengan ombak yang berbuih.
Mereka menikmati terbenamnya sang surya di ufuk barat. Menatap keindahan langit yang berwarna kemerahan dengan pantulan indahnya di lautan lepas.
Lia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Seandainya waktu bisa berhenti, aku ingin menikmati suasana ini lebih lama."
Sam menatap wajah sendu di sampingnya. "Sayang sekali, aku tak bisa menghentikan waktu. Tapi aku berjanji, akan sesering mungkin menciptakan suasana seperti ini untukmu."
Mereka menatap semburan warna senja yang rupawan hingga kehadiran sang bocah kecil mulai mengusik. "Daddy, kita pergi sekarang?"
Mereka meninggalkan pantai, berjalan di sepanjang jalan menuju sederetan pertokoan di sepanjang pantai Kuta. Black terlihat bahagia bersama Leon. Berjalan bergandengan tangan dan tertawa bersama.
Berhenti di sebuah stand gelatto, mereka menikmati manisnya es krim di tangan mereka. Begitu banyak orang berlalu lalang dari berbagai macam negara.
Langit mulai gelap, lampu-lampu penerangan mulai dinyalakan. Suasana sepanjang jalan semakin ramai. Para pedagang kaki lima, bocah-bocah penjual souvenir hingga suara musik yang mulai terdengar di beberapa tempat.
"Setiap orang mempunyai tempat kegemaran. Aku rasa Leon menyukai pantai dan keramaian. Bagaimana denganmu?" tanya Sam pada istrinya.
Tangan mereka bertaut sempurna seakan tak ingin terpisah. Seakan tak akan ada seorangpun yang mampu memisahkan mereka.
__ADS_1
"Aku menyukai kesunyian, aku seorang introvert yang lebih menikmati kesendirianku," sahut Lia.
Sam tertawa mendengar jawaban itu. "Apa benar? Kita bahkan bertemu di sebuah keramaian, Fienna Club. Apa kau lupa akan tarianmu malam itu?"
Lia mencubit pinggang suaminya. "Itu hanya perayaan kelulusan bersama teman-temanku. Dan merupakan pertama kalinya aku mencoba menikmati minuman kerasku."
"Sungguh? Ah-- pantas sekali. Kau langsung terkapar saat meminum setengah gelas wineku." Sam terkekeh mengingat kejadian itu. "Kau bahkan menyebutku malaikat. Sebegitu tampankah suamimu ini hingga terlihat sempurna bagai seorang malaikat?"
"Ish... Jangan mempercayai ucapan seseorang yang sedang mabuk." Lia menepis pernyataan suaminya.
"Bahkan pernyataan paling jujur akan di dapatkan saat seseorang tak sadarkan diri. Saat orang sedang mabuk, ia mengatakan semua perasaannya yang sebenarnya."
"Berhentilah menggoda aku. Atau kau akan berakhir tidur sendirian malam ini," ancam Lia sembari mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Sam tertawa geli. Dengan gemas dia memeluk istrinya yang terlihat kesal. Ia menyeretnya masuk ke sebuah resto makanan laut.
"Kurang pas rasanya jika kita berjalan di pantai tanpa menyantap hidangan laut. Leon kau ingin makan apa, sayang?"
🐢🐢🐢
"Kau ingin membeli sesuatu? Baiklah."
Mall yang terletak di pesisir pantai itu terlihat ramai oleh pengunjung. Beberapa orang tampak asik melakukan selfie dan berfoto ria di depannya. Lampu-lampu yang indah di pintu masuknya memang layak mengundang mereka untuk mengabadikannya.
"Candy. Mungkin beberapa coklat yang unik akan menyenangkan bagi mereka." Leon mengatakan idenya. Ia menunjuk sebuah toko dengan sebuah eksterior pohon permen besar yang di depannya.
"Bukan ide yang buruk, Leon. Semua suka coklat. Belilah beberapa untuk mereka." Sam memberikan ijin pada puteranya.
"Aku akan membelinya juga untuk kekasih hatiku," senyum lebar menyeruak dari bibirnya sembari melangkahkan kaki ke anak tangga masuk toko permen yang penuh warna itu.
Toko yang penuh berisi segala macam jenis kembang gula berwarna-warni itu benar-benar menarik. Leon memilih dua toples coklat berbentuk bulat. Dan sebuah boneka beruang berwarna pink dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jadi 2 toples permen coklat dan satu boneka beruang, Leon. Satu boneka beruang untuk siapa, sayang?" tanya Samuel pada bocah di hadapannya sambil menyodorkan sebuah kartu kepada kasir yang sedang sibuk menjumlah barang belanjaannya itu.
"Permen coklat untuk dua temanku, dan satu boneka beruang yang cantik untuk mamiku." Leon tersenyum dan menunjuk ibunya dengan malu-malu. "Bukankah beruang ini secantik mami, Dad?"
Tak urung tawa Samuel meledak. "Benar, mami secantik boneka ini."
Lia merasa malu, ia segera mencubit pinggang suaminya. "Ish... mama bear, papa bear. Baiklah, bear family."
Sam dan Leon tertawa dan dengan kompak ber hi five.
"Boleh kami berfoto bersama?" tanya seorang ibu pada Sam. Sepertinya ia mengenali wajah Sam.
Sam tersenyum dan menganggukkan kepala. Dengan ramah melayani mereka untuk berfoto. Black mengangkat kantong plastik di tangannya sambil tersenyum. Ia memisahkan diri untuk membungkus beberapa gelas coffee dari coffee shop berlogo wajah Siren, sebuah mitologi Yunani dengan sebuah mahkota di kepalanya.
Kami berjalan menuju tempat mobil sewaan kami terparkir sambil menikmati segelas iced coffee di tangan kami. Leon berjalan sambil melompat-lompat mengekspresikan rasa bahagianya. Tas belanjaannya terlempar ke depan dan belakang seiring dengan langkah kaki-kaki mungilnya.
Tiba-tiba seorang wanita berlari dan menabrak punggung Lia. Wanita cantik dengan rambut hitam legam sebahu, dengan kulitnya yang putih terawat. Wanita itu terjatuh di trotoar.
Wanita itu terlihat sangat gugup, bola matanya bergerak-gerak tak tenang seperti suara nafasnya yang memburu. Beberapa orang pria berlari mengejarnya.
Wanita itu memegang tangan Lia. "Tolong aku, selamatkan aku. Mereka ingin menyakitiku."
Lia menatapnya dengan iba. Sam terlihat kebingungan. Sedangkan Black menatap wanita berusia dua puluhan itu dengan mata membulat.
"Lepaskan wanita itu. Kalian jangan ikut campur urusan kami." Seorang dari kawanan pria itu memperingatkan kami.
Sam menghela nafas. "Apa yang telah dia lakukan sehingga kalian memburunya?"
Seorang pria berpakaian rapi menyeruak dari antara mereka. "Samuel!"
"Aleandro! Kaukah itu?"
__ADS_1
Pria itu tersenyum miring. "Sudah lama kita tak bertemu."
Pria bernama Aleandro itu melirik Lia, "Istrimu? Apa kau ingin menukarnya dengan wanitaku?"