
"Baiklah. Aku akan menutup toko lebih awal." Lia memutuskan mengalah. Kedua laki-laki di hadapannya tertawa senang.
Lia mengerutkan keningnya. "Sejak kapan kalian sekompak ini?" tanyanya.
"Bahkan kami telah menelpon Nissa. Mereka akan bergabung dengan kita di lokasi," sahut Leon dengan bangga.
"Leon. Bukankah kau seharusnya membicarakan semuanya dengan mami terlebih dahulu." Lia terlihat sangat kesal.
Samuel terkekeh melihat wajah Lia yang terlihat kesal. Bagaimanapun juga, ia harus terus berusaha menakhlukkan hati wanita di hadapannya ini. Dan itu menjadi sangat mudah ketika semuanya dilakukan bersama Leon.
Lia mematikan laptopnya. "Kau tahu, aku baru bisa mengurus administrasi toko ini, hari ini. Dan kau menghancurkan moodku dengan acaramu." Lia mengangkat tangannya dengan kesal. "Berkemah."
"Lia, bahkan ini adalah weekend. Saatnya bagi para manusia untuk beristirahat." Sam memberikan alasannya.
"Dan di saat para manusia normal beristirahat, maka itulah saat terbaik bagi caffee kecil ini beroperasional," jawab Lia.
Kali ini Sam tak bisa menjawab apa-apa. Semua perkataan Lia itu adalah sebuah kebenaran. Caffee adalah tempat bagi para manusia untuk melepas kepenatan setelah pekerjaannya.
🐧🐧🐧🐧
Udara sangat sejuk di sekitar daerah perkemahan pada sore hari. Suasana yang sangat tenang dan menyenangkan untuk menikmati secangkir kopi hangat sambil melihat pemandangan pegunungan dan pepohonan rimbun di sekitar.
Lia duduk di depan camp nya. Pandangannya tertuju pada putranya yang sedang asyik bermain kejar-kejaran dengan Nissa, temannya di glamping area. Tangannya memegang secangkir kopi panas sementara bibirnya meniupnya secara perlahan.
Samuel menatapnya dari camp nya. Suasana yang tenang dengan sinar matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat warna kemerahan di langit. Angin yang berhembus memainkan rambut terurai wanita yang dicintainya itu dengan nakal.
Samuel berdiri dari kursinya dan melangkahkan kakinya mendekati wanita itu.
"Kau menyukai kesunyian atau keramaian?" Suara baritonnya mengejutkan wanita yang sedang menikmati kopi hangatnya itu.
"Sam. Astaga, kau mengejutkan aku."
Samuel tertawa, "Apa kau melamun? Apa kau sedang memikirkan aku?"
__ADS_1
"Aku sedang memikirkan banyak hal. Tentang aku, Leon, dan caffee," jawab wanita itu. Ia menghentikan kalimatnya dan menyesap kopinya dengan perlahan.
"Kesunyian adalah tempat yang cocok untuk merenungkan perjalanan hidup kita. Apa yang sudah aku lalui, betapa berat perjuangan untuk sampai pada titik kehidupan saat ini," lanjutnya. "Dan aku tak akan menyia-nyiakan untuk jatuh dan terpuruk lagi."
Samuel mengerutkan keningnya. "Apa kau juga memikirkan tentang hubungan kita?"
Wanita cantik itu tertawa, "Bukankah kita berteman?"
"Apa kau mempermainkan aku?" sahut Sam. Ia menggelitik wanita itu dengan gemasnya. "Aku bahkan sudah menunggu jawabanmu."
"Sam, hentikan." Lia merasa geli karena jari-jari tangan yang menyerang tengkuknya.
"Aku tak bisa menjawabnya. Aku tak ingin merasa sakit dan terpuruk lagi. Mungkin aku tetap akan berjalan lurus di jalurku," jawab wanita itu.
Sam diam. Ia menurunkan tangannya dan menyeret sebuah kursi mendekat ke samping Lia.
"Kau harus mencoba out of your box. Keluar dari zona nyamanmu. Kau tak akan tahu kebahagian yang mungkin sedang menunggumu," lirih Sam di telinga Lia. "Bagaimanapun kau harus mempertimbangkan aku, ayah dari Leon. Dan aku berjanji kalian akan selalu bahagia menjadi keluargaku."
Lia menundukkan kepalanya, menatap cangkir kopi yang hanya bersisa separuh itu. Ia tertawa dan menggeleng. "Maaf Sam, aku masih belum begitu yakin. Aku begitu takut untuk mencoba melangkahkan kakiku keluar dari zona nyaman ini."
Sementara itu langit semakin gelap dan udara yang dingin mulai menusuk ke tulang.
Beberapa orang mulai berkumpul menyalakan api unggun yang berada di tengah-tengah camping ground. Langit sangat cerah sehingga bintang di langit terlihat sangat banyak dan berkelip dengan indah.
Terlihat wajah-wajah ceria anak-anak yang sedang berlarian menggunakan mantel mereka. Leon membawa biolanya dan mulai menggeseknya, memecahkan keheningan malam yang sahdu.
Sebuah lagu yang indah terdengar dari gesekan senar dan bow nya. Lagu ceria dan bersemangat, membuat suasana dingin berubah menjadi hangat dan ceria. Bahkan beberapa orang mulai ikut bergerak menari mengikuti alunan nadanya.
Lia tersenyum melihat putranya. Sebagai seorang ibu, dia sangat bangga telah berhasil mendidik Leon sebagai anak yang baik, cerdas, dan patuh.
Samuel mengulurkan tangannya. "Mari menikmati malam hari ini, mari menari bersamaku." Terlihat senyum di wajahnya. Dan seperti terhipnotis, Lia mengulurkan tangannya menyambut ajakannya.
__ADS_1
Tawa riang terdengar dari camping ground. Semua orang menari dengan gembira di sekeliling api unggun yang memancarkan kehangatannya. Bukan hanya menghangatkan tubuh mereka, namun juga hati mereka yang berada di sekelilingnya.
Leonard dengan penuh keceriaan menggesek biolanya, sementara kakinya terus menari dengan lincah. Ia tersenyum semakin cerah melihat sepasang manusia yang terlihat bergerak dengan gembira mengikuti irama musiknya. Ayah dan ibunya.
Setelah lagu berakhir, ia kembali menggesek biolanya membawakan sebuah lagu lain. Lagu yang sangat sendu dan romantis dibawakannya dengan penuh penghayatan. Beberapa pasangan mulai menautkan tangan dan bergerak mengikuti musik.
Lia berniat untuk kembali duduk di tepi api unggun, ketika tiba-tiba sepasang tangan yang kuat menarik pinggangnya dan mulai bergerak dengan lembut dan perlahan.
"Lihatlah, betapa manisnya putra kita. Bukan saja sangat manis, dia sangat cerdas," lirih Samuel di telinga wanita di dekapannya. "Aku rasa dia memang berniat untuk menyatukan kita."
Lia tertawa mendengar kata-kata Samuel. "Jangan terlalu berharap dan jangan berpikiran konyol."
"Hmm... jika menurutmu pemikiranku salah dan konyol. Bagaimana dengan senyum yang sekarang terlihat di bibirnya?" lirih Sam kembali.
Lia melirik putranya. Ia melihat sebuah senyum saat pandangan mereka bertemu. Leon terlihat sangat bahagia.
Samuel terkekeh. "Apa kau masih tak percaya instingku? Keluarlah dari zona nyamanmu, Lia. Beranilah menyongsong masa depanmu. Mengapa kau harus menutup diri atas kebahagiaan yang akan menghampirimu?"
Lia menghela napas. Ia kembali berusaha melarikan diri. Ia berusaha mendorong tubuh pria itu agar bisa berlalu dan kembali duduk di sekeliling api unggun. Tapi pria itu terlalu kuat. Ia mendekap Lia begitu erat di dadanya yang lebar.
Samuel tertawa terkekeh. "Apa yang akan kau lakukan, sayang? Apa kau akan mengecewakan hati putra kita?" lirihnya kembali di telinga wanita itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Gimana makin seru ga sih, ceritanya...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...
Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰
Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗
__ADS_1
사랑 해요
salang haeyo 😘