
"Dia berbohong, aku tahu dia berbohong, aku sangat yakin!" seru Leon. Suaranya ditekan sepelan mungkin. "Mami, sepertinya aku tak akan bisa tidur nyenyak hari ini."
"Leon, ada apa? Apa sesuatu sedang terjadi?" Suara cemas ibunya terdengar dari dalam teleponnya.
"Tenanglah. Aku bisa mengatasinya," sahut Leon, dia tak ingin membuat ibunya cemas. Tiba-tiba ia merasa telah bersalah memberitahu hal yang hanya akan membuat ibunya khawatir.
"Mami, just say daddy, kita harus mengganti asisten rumah tangga kita. Aku tak bisa lagi mempercayainya."
"Tapi Leon, bagaimana kau bisa mengatakan dia berbohong? Atas dasar apa?"
Tiba-tiba Samuel merebut ponselnya dan mendengarkan Leon dengan seksama. "Seorang polisi baru saja datang. Mereka bahkan berbicara cukup lama di depan pagar. Tapi aku merasa dia berbohong ketika menjawab pertanyaanku saat ia kembali masuk ke dalam rumah. Kedua bola matanya terus bergerak dan tak berani menatap mataku." Leon menjelaskan kecurigaannya masih dengan suara yang ditekan selemah mungkin.
"Apa yang kau tanyakan padanya?" Suara Samuel membuat Leon terkejut. Ia menyangka masih berbicara dengan ibunya.
"Daddy!" serunya dengan suara serendah mungkin. Ia merasa gembira, ia merasa ayahnya pasti lebih mempercayainya. Ia tidak sedang mengada-ada dan sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya.
"Apa kau bisa menceritakannya pada daddy, sayang?" tanya Samuel, ia ingin mengetahui lebih jelas seberapa jauh penyelidikan polisi itu berjalan.
"Aku menanyakan pada Bik Marni, apa keperluan polisi itu datang kemari." Leon meletakkan pesawat teleponnya ke telinganya yang lain.
Sam menghela napas panjang sebelum memberikan petunjuk pada anaknya. "Leon, kuncilah pintu kamarmu. Dan berlakulah seperti biasa. Anggap kau tak mengetahui apapun. Daddy rasa, ia tak akan berani untuk menyakitimu."
"Tidurlah, kami akan segera pulang saat pagi datang," lanjutnya.
"Daddy, kau mempercayaiku, bukan?" tanya Leon di akhir percakapan mereka.
"Yeah. Daddy trust you. Daddy sangat mempercayaimu, sayang."
Leon bernapas lega. Setelah mengucapkan selamat malam kepada kedua orang tuanya, ia segera menarik selimutnya dan tertidur lelap.
💣💣💣
"Jadi, ada apa ini sebenarnya?" tanya Lia. Ia benar-benar tak mengerti, tak biasanya Leonard membicarakan hal yang aneh seperti ini. Mengapa ia tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"Sayang, anak kita sedang sendirian di rumah. Suatu hal yang wajar bila dia merasa ketakutan dan gelisah. Pahamilah, Leon hanyalah seorang anak kecil," sahut Sam berusaha menenangkan perasaan istrinya.
"Dia tidak biasanya membicarakan hal yang aneh semacam itu. Dan tidak seharusnya dia berfantasi seperti itu." Lia menggelengkan kepalanya masih tak bisa mempercayai hal yang baru saja di dengarnya.
Sam memeluk istrinya dan memberikan kecupan-kecupan hangatnya. "Untuk itulah, kita harus segera memberikannya seorang adik. Agar dia tak merasa kesepian, gelisah atau pun ketakutan."
"Sam, hentikan." Lia berusaha mengelak dari kecupan-kecupan yang semakin liar menyasar di tubuhnya. Sesekali ia terkekeh, menghela napas dan menggelinjang karenanya.
Sam tak pernah merasa puas membahagiakan istri cantiknya. Membimbingnya mencapai puncak kenikmatan sebagai pasangan suami istri, walaupun ia harus menerima cakaran dan gigitan di tubuhnya.
Samuel menatap wajah pulas istrinya. Sepasang matanya terlihat sayu. Otaknya terus berpikir untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya ini.
Ia sangat berharap Mat Bewok, anak buahnya itu bisa meloloskan diri dan tak sampai tertangkap oleh para polisi itu.
Dengan gelisah, ia keluar dari kamarnya. Pria itu menekan beberapa angka di layar ponselnya yang menghubungkannya pada seseorang. Ia melangkah berputar-putar di depan kamarnya dengan gelisah.
"Black. Sepertinya dia tidak berhasil. Habisi dia!" perintahnya pada lawan bicaranya.
"Pastikan. Dan kau akan menerima bagianmu secepatnya." Sam mulai terdengar gusar.
Pria lawan bicaranya tertawa pelan. "Sepuluh menit, kau akan mendapatkan beritanya sebentar lagi."
Sam memutuskan panggilan teleponnya. Ia terlihat begitu gelisah. Sepuluh menit terasa begitu lama baginya. Ia berjalan dengan gelisah menuju ke pantai. Ia duduk di hamparan pasir dan menatap air yang bergulung-gulung seolah berlomba untuk mencapai daratan. Ia menatap buih dari ombak yang pecah karena menghantam batu karang pantai.
Tanpa sepengetahuannya, istrinya berjalan mendekatinya. Baju kimono yang dikenakannya melambai-lambai karena tiupan angin yang cukup kencang. Lia mendekatinya dan duduk di sampingnya.
Samuel melihat senyum lembut di wajah istrinya. "Mengapa kau bangun? Tidurlah. Kau terlihat sangat lelah."
Wanita itu merebahkan kepalanya di bahu suaminya. "Aku tak mau sendirian. Sudah bertahun-tahun aku melalui kehidupanku dalam kesendirian."
Kata-kata bernada manja, namun berarti sangat mendalam bagi Samuel. Kata-kata yang membuatnya semakin bertekad untuk mengakhiri semua pekerjaan ilegal yang sedang digelutinya.
__ADS_1
Samuel menghela napas panjang, dikecupnya kening istrinya yang sedang bergelayut manja di lengannya. "Udara semakin dingin, sebaiknya kita segera kembali ke kamar," lirihnya di telinga istrinya.
Samuel berdiri dari posisi duduknya. Dengan manja, Lia mengulurkan kedua tangannya. Suaminya tertawa pelan, disambutnya uluran tangan itu dengan menariknya hingga berdiri.
"Kau ingat pertaruhan itu?" tanya Lia tiba-tiba. Tangannya masih bergelayut manja di lengan suaminya.
"Mmm..."
"Pertaruhan di perkemahan," lanjutnya menjelaskan arah pembicaraannya.
Sam tersenyum. "Lomba lari itu? Apa kau menginginkannya lagi?"
Lia tertawa, "Tidak. Kau masih berhutang padaku."
Sam menghentikan langkahnya. "Aku-- berhutang padamu?"
Lia mengangguk. "Kau belum menggendongku sampai ke kemah waktu itu."
Sam tertawa, "Jadi kau ingin menagihnya sekarang?" Tanpa aba-aba, pria itu membopong tubuh istrinya.
Lia sangat terkejut dan nyaris berteriak karena gerak refleks yang dilakukan oleh suaminya itu. "Kau ingin membuktikan kekuatanku?" tanyanya sambil menatap sepasang mata istrinya.
Sesaat kemudian bibir keduanya kembali bertaut. Seluruh alam semesta seakan memandang dengan iri. Deburan ombak yang seakan berlomba-lomba mencapai kaki mereka. Bahkan rembulan pun tiba-tiba terlihat malu dan bersembunyi di balik awan.
"Lia, apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Samuel pada istrinya.
Lia tersenyum, ia tak menjawab. Hanya sebuah gelengan perlahan dari kepalanya yang membuat jantung Sam seakan mau berhenti berdetak. "Mengapa kau tiba-tiba membuat sebuah pertanyaan yang bodoh seperti itu? Mungkinkah aku menikahi seseorang tanpa ada rasa cinta?"
"Jadi apa kau benar-benar mencintaiku, Lia?" Pria itu mengulangi pertanyaan yang sama. Ia mengharapkan jawaban tegas dari istrinya agar dapat dengan mantap menentukan keputusannya. Meninggalkan lembah kelam kehidupannya dan membuka lembaran hidup baru bersamanya.
Lia tertawa seakan merasa menang telah mempermainkan hati suaminya. Namun tiba-tiba ia sadar, keputusan pernikahannya hanya dilandasi keinginan membahagiakan putranya, itulah yang diketahui selama ini oleh Sam.
"Kau ingin tahu jawabannya?" Wanita itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya pada suaminya dan mengecupnya dengan lembut.
__ADS_1