
Kedua lengan kokoh Black menghentaknya duduk kembali. Sementara kedua anak buah Aleandro menghampiri mereka. Black berdiri dan menghadang mereka.
"Aku tahu kalian terus memperhatikan kami. Jadi aku memutuskan untuk bertanya langsung pada kalian. Apa kalian ingin menculik Amarilyz, istriku?" tanya Black. "Apa tujuan kalian mengikuti kami?"
Kedua pria itu terlihat kebingungan. Bukankah seharusnya namanya Alexa? Mereka saling berpandangan karena kebingungan.
Black menghampiri Alexa, menggandeng tangannya. "Tundukkan wajahmu, kita akan keluar dari sini," lirihnya. Lexa dengan patuh menundukkan wajahnya dan berjalan di belakang Black.
"Aku tidak nyaman dengan perlakuan kalian," kata Black sambil menunjuk dua orang keamanan bandara. "Aku akan membuat laporan tentang tindakan tidak menyenangkan kalian terhadapku dan istriku. Kami sedang berbulan madu dan kalian terus menerus menguntit kami."
Kedua orang itu saling pandang dan meminta maaf sebelum meninggalkan mereka. Black bernafas lega. Dengan bergandengan tangan mereka ke gate penerbangan yang sebenarnya. Kembali ke ibukota.
.
Penerbangan dari Pulau Bali ke ibukota hanyalah memakan waktu dua jam saja. Total waktu yang dibutuhkan hingga kediaman Sam hanya 3 jam.
Leon masih terlihat bersemangat. Ia tertawa dan banyak berceloteh sepanjang perjalanan mereka.
"Daddy, apa kita bisa banyak-banyak melakukan perjalanan seperti ini?" tanyanya.
"Leon, bagaimana dengan sekolahmu? Coffee shop mami dan perusahaan granpa. Bagaimana dengan studio daddy. Semuanya akan terbengkalai jika kita terus melakukan perjalanan." Lia mengingatkan banyak tanggung jawab yang mengikat mereka.
"Sayang. Tidak ada salahnya kita melakukan perjalanan sesekali. Leon juga tidak mengatakan dalam tempo dekat," sahut Sam.
"Leon. Kita akan jalan-jalan lagi saat liburan tiba. Ok? Mungkin saat itu albummu sudah siap untuk diluncurkan. Jadi anggap saja sekalian melakukan promo tour pertamamu." Sam mengedipkan matanya sambil melihat putranya dari kaca depan.
"Ok. Apa mami tidak keberatan untuk ikut bersama kita?" tanya Leon.
__ADS_1
"Tentu saja dia akan ikut, jika tidak ingin...." Kata-kata Sam terpotong, ketika ia melihat wajah istrinya mulai kesal.
"Lanjutkan! Lanjutkan saja dan kau akan tidur di teras selamanya," jawabnya dengan ketus.
Sam terkekeh. Walaupun terlihat cuek, Lia ternyata mempunyai perasaan cemburu. Ada rasa bahagia di hati Sam. Selama ini ia tak pernah melihat perasaan cemburu istrinya, seolah-olah pernikahan ini hanya untuk sang putra.
Sementara Black dan Lexa hanya diam, menikmati perasaan mereka sendiri. Mengamati keramaian keluarga harmonis yang diikutinya. Setidaknya itu yang tampak di mata mereka, tak ada yang tahu badai apa yang telah dilalui oleh Sam dan Lia.
Mobil memasuki halaman rumah kediaman Augusto. Leonard melompat kegirangan. Ia segera keluar dari mobilnya mengikuti kedua orang tuanya. Dengan langkah-langkah kecilnya ia berlari masuk ke dalam kamarnya, mengambil hardcase-nya. Ia sudah sangat rindu menggesek biolanya.
Tak lama kemudian, suara biola sudah terdengar mengalunkan sebuah irama yang lembut dan menenangkan.
Lexa masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia masih terkagum-kagum pula dengan bocah sekecil Leon, bagaimana bisa ia membawakan sebuah lagu dengan nada yang tak biasa. Seperti seseorang yang sangat profesional dalam usia semuda itu.
Black terkekeh. "Kau baru mendengar lagu yang dibawakannya. Suatu saat kau akan terkagum dengan kecerdasan pikiran dan tindakannya."
"Baru beberapa minggu. Aku berhutang padanya." Black kembali teringat saat bocah Leon menyelinap masuk melalui celah gudang untuk memberikannya makanan.
"Sebegitu luar biasanyakah?" tanya Alexa.
"Tak perlu kujelaskan. Kau akan mengetahuinya nanti. Aku harap kita akan mempunyai anak-anak genius seperti dia. Anak-anak kita sendiri," lirihnya sambil mengecup tengkuk kekasihnya.
.
"Sam, aku perlu mengambil cuti," kata Black sore itu ketika mereka berkumpul di ruang keluarga. Sam menoleh, menatap orang kepercayaannya yang baru saja direkrutnya belum lama ini.
"Cuti? Bahkan kita baru saja berlibur bersama," jawabnya.
__ADS_1
"Uncle Nicho, mengapa kau ingin cuti? Kau tidak suka berada di rumah kami?" Leon merasa penasaran.
"Tidak. Aku suka tinggal di sini. Aku hanya ingin melangsungkan pernikahanku," sahut Black. Kini seisi ruangan menatapnya. Black yang tak terbiasa menjadi pusat perhatian, menunduk malu bagaikan seorang yang sudah berbuat dosa besar.
"Lexa?" tanya Lia sambil membelalakkan mata karena terkejut akan keputusan yang sangat tiba-tiba itu.
Black mengangguk. "Aku hanya tak ingin bertindak bodoh dan kehilangan dia lagi."
Leon tersenyum dan melompat-lompat kegirangan. "Aku suka sebuah pesta pernikahan!" serunya dengan riang.
"Kami hanya akan meresmikan saja, tanpa sebuah pesta. Akan sangat berbahaya jika Aleandro mendengar dan kembali mengejar kita," jawab Black.
"Tidak apa. Kita akan melakukan pesta sendiri di sini. Di rumah kita." Lia memberi mereka semangat. "Dengan music Leon dan makanan lezat."
Black menggenggam tangan Lexa yang berdiri di sisinya. Wanita itu menggigit bibirnya mengatasi ketegangan yang dirasakannya.
"Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah," Sam berjalan menghampiri Black dan menepuk bahunya dua kali sebelum meninggalkannya.
.
"Semua berjalan sesuai keinginan dengan lancar. Aku rasa kita bisa tenang menikmati masa tua kita seperti ini." Lia menatap bayangan suaminya melalui cermin di hadapannya. Kedua tangannya masih asik menuangkan produk perawatan wajahnya dan mengusapkannya di permukaan kulit wajahnya.
"Masa tua?" tanya Samuel yang berdiri di belakangnya. "Kita masih muda, sayang. Bahkan kita masih mempunyai banyak rencana yang tertunda."
"Rencana? Banyak rencana yang tertunda? Jangan bilang kau akan melanjutkan bisnis berbahaya itu lagi." Kali ini Lia dengan tegas mengatakannya.
"Bagaimana jika ... "
__ADS_1