Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 27. Sang Indigo


__ADS_3

Radith berjalan menyusuri koridor rumah sakit tempatnya ditugaskan. Ia merasa kesal karena permohonan mutasinya ditolak oleh kepala rumah sakit.


Masih diingatnya wajah kesal kepala rumah sakit ketika melempar sobekan surat permohonan mutasinya ke tempat sampah di samping mejanya.


"Sebelum kau mengatakan dengan jelas apa hal yang membuatmu memutuskan untuk pindah dari rumah sakit ini, aku akan menolaknya!" teriak kepala rumah sakit. "Radith, kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Tak bisakah kau bertahan di sisiku."


Radith hanya berdiam diri, mematung tanpa mengatakan satu kata pun.


"Mendiang ayah dan ibumu telah menitipkanmu padaku, jadi maaf. Aku tak bisa membiarkanmu pergi menuruti keinginanmu."


🐥🐥🐥🐥🐥


Radith menghela napas, ia bahkan tak mungkin mengatakan pada ayah asuhnya bahwa ia ingin menghindari jodohnya. Jodoh yang akan membawanya ke suatu kenyataan yang masih gelap dalam penglihatannya.


Ia harus menghindari setiap gadis muda di kota ini. Gadis itu tak boleh menemukannya.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada wanita di sebuah kamar yang hanya berdiam diri meneteskan air mata, menatap seorang bocah laki-laki yang sedang lelap. Sementara jiwa sang bocah, dengan gelisah memandang wajah ibunya.


Radith dengan susah payah menjelaskan tentang konsep merelakan dan melepas semua kepahitan dan tentang rahasia alam.


"Apa maksudmu dokter, jelaskan padaku."


"Aku akan menunggumu di taman. Aku akan menjelaskannya di sana."


🐥🐥🐥🐥🐥


Radith segera beringsut dari tempatnya untuk menjauh. Ia benar-benar tak ingin wanita di sampingnya mendengar detak jantungnya yang sangat kencang. Ditelannya salivanya dengan kasar dan berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan canggung.


"Kau-- indigo?" tebak Lia secara spontan.


Radith menggigit bibir bawahnya. "Ah-- maaf Lia. A- aku tak seharusnya bertemu denganmu." Dokter muda itu berlari menjauh darinya.


Lia segera berdiri dan berlari mengejar dokter muda itu, "Radith, tunggu aku."


Radith menghentikan langkahnya dan menoleh ketika terdengar suara debuman di belakangnya.


"Aish.... " Lia beusaha berdiri dari tempatnya terjatuh.


"Ish..." dengan wajah kesal, Radith kembali dan membantu wanita itu dan menuntunnya masuk ke dalam gedung.


"Jadi jelaskan padaku tentang rahasia alam," kata wanita itu setelah duduk di sebuah kursi yang terdapat koridor rumah sakit.


"Aku mengetahui saat-saat ayah dan ibuku meninggal. Melalui sebuah penglihatan. Tapi semua yang terjadi, alam yang mengaturnya. Kita tak bisa mengubah yang sudah digariskan."


"Seperti pertemuan kita?" tanya Lia.

__ADS_1


"Ya, tepat sekali." Dokter muda itu menghela napas, perasaannya tak nyaman. Ia menyukai wanita di sampingnya, namun dilain pihak dia takut karena bahkan tak dapat melihat masa depannya!


Lia mengerutkan keningnya. "Tepat? Jadi kau sudah mengetahui bahwa kita akan bertemu?"


"Terus terang, aku menghindari pertemuan kita. Bahkan aku mengajukan mutasi." Dokter muda itu mengangkat kedua tangannya. "Permohonanku ditolak."


"Kenapa kau harus menghindari pertemuan kita?" Lia mulai menertawakan kekonyolan demi kekonyolan yang dirasakannya.


"Karena dalam penglihatanku, kau adalah jodohku. Setelah pertemuan ini, masa depanku tak lagi terlihat. Semua hanya sebuah kegelapan." Mata dokter muda itu menatapnya dengan penuh keseriusan.


Lia membalas tatapan matanya. Perlahan-lahan tengkuknya terasa dingin. Sebuah kecemasan tiba-tiba muncul. Rahasia alam. Apa sebenarnya yang akan terjadi.


Seorang perawat berlari tergopoh-gopoh mendatangi mereka.


"Dokter Radith, dok. Anak kecil itu, dia... dia... sudah... sadar," kata perawat itu dengan napas tersengal-sengal.


"Baik saya akan ke sana. Terima kasih, sus." Radith segera berlari ke kamar Leon.


Leon sudah membuka matanya, sebuah senyuman terlihat di wajahnya. Dokter Radith mengepalkan tinjunya di udara, Leon membalasnya dengan kepalan tinjunya, seolah sebuah toss yang telah mereka sepakati berdua.


"Kau sudah sadar, sayang. Ibumu terus bersedih karena memikirkanmu," kata seorang perawat.


🐥🐥🐥🐥🐥


Dari kejauhan, Samuel menatapnya dengan tatapan sedih hingga semua pelayat telah pulang.


Dihampirinya wanita itu dengan sebuah payung di tangannya.


Lia berdiri dan menatap nanar pria dihadapannya. "Apa kau akan kembali menagih pembayaran darah untuk darah dagingmu sendiri di sini?"


Pria itu menghela napas, "Mengapa kau selalu berpikiran buruk terhadapku, Lia?"


"Aku akan berusaha mengerti. Mungkin karena situasi ini membuat pikiran dan perasaanmu terkuras habis," lanjutnya.


"Lalu apa sebenarnya tujuanmu?" tanya Lia.


"Aku memberikan syarat itu, karena aku tak ingin kehilanganmu lagi. Aku mencintaimu, jauh sebelum Ray. 8 tahun yang lalu, malam itu tak pernah bisa kulupakan. Bahkan aku tak bisa lepas dari bayanganmu."


Lia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bahkan kau tak mengenaliku saat kita bertemu."


"Jadi kau akan menolakku? Baiklah. Tapi aku tak akan pernah menyerah. Aku akan selalu ada sebagai bayanganmu, Lia. Ingat itu," ancam Samuel.


"Kau tidak bisa menyingkirkan aku, karena bagaimanapun juga, aku adalah ayah dari Leonard."


Lia semakin gusar. Dengan marah ia mulai mendorong dan memukul dada pria di depannya. "Enyah! Pergi kau. Aku tak ingin melihatmu."

__ADS_1


Lia kembali tak bisa membendung air matanya. Ia kembali menangis. Lututnya terasa lemas hingga ia jatuh bersimpuh kembali di samping pusara suaminya.


Samuel menutup payungnya. Pria itu mulai berlutut dan mulai menggendong tubuh wanita yang mulai tampak lemah karena kesedihannya itu.


Pria itu berjalan menuju mobilnya. Ia sangat menyadari bahwa wanita ini tak akan bisa ditakhlukkannya dengan kekerasan dan paksaan. Ia harus mulai berjuang kembali dari titik nol untuk mendapatkan kepercayaan dan cintanya.


Masih ada harapan karena ia memiliki Leonard, buah hati mereka. Ia bisa mendekati Lia melalui Leonard!


Pria itu tersenyum miring. Perlahan tapi pasti, aku akan memilikimu kembali.


🐥🐥🐥🐥🐥


Radith tersenyum, saat melihat Lia masuk ke dalam ruang perawatan Leonard. Ia baru saja memeriksa kondisi bocah malang itu.


"Kau membuat suamimu tak tenang, Lia," katanya sambil lalu.


"Apa maksudmu?" tanya Lia.


Dokter muda itu mengatupkan bibirnya dengan menempelkan jari telunjuknya. "Jangan berisik, nanti Leon terbangun," lirihnya.


"Suamimu tak ingin melihatmu menangis dan bersedih. Dia ingin melihatmu bahagia sebelum perjalanannya," kata Radith.


"Baiklah. Bagaimana caranya aku bahagia, disaat dia meninggalkan aku dengan cara seperti ini? Apa dia inginkan dariku?"


"Jalani hidupmu dengan bahagia. Lepaskan dia. Iklaskan Lia."


"Seandainya aku bisa, tak semudah itu, Radith. Hanya dia tempatku berbagi, mencurahkan isi hatiku."


"Baiklah, jika kau mau, kau boleh mencurahkan isi hatimu padaku!"


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Gimana makin seru ga sih, ceritanya...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...


Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰


Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗


사랑 해요


salang haeyo 😘

__ADS_1


__ADS_2