Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 6. Tae Boxing


__ADS_3

"Bagaimana kau bisa dengan berani melawan kakak kelasmu dan tanpa terluka?" tanya Pak Ray.


"Saya menguasai sedikit tae-boxing, Pak."


"Tae-boxing? Menarik sekali. Dimana kau mempelajarinya?"


Senyum misterius melengkung pada bibir bocah kecil itu. Rasa penasaran guru konseling itu tak terjawab, ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.


Wajah Lia menyembul dari balik pintu tersebut. Ia segera masuk sambil menutup pintunya kembali.


Pak Ray menatap wajah cantik di depannya. "Apakah anda ibu dari Leon?"


"Benar, Pak. Maaf, saya segera berangkat kemari setelah menerima telepon dari Bapak."


"Silahkan duduk, ibu," katanya pada Lia. "Leon, kembalilah ke kelasmu."


Leon mengangguk dengan patuh dan melangkah keluar dari ruangan itu. Pak Ray mengikuti langkah kecilnya dengan sudut matanya.


Setelah bocah itu keluar, Raynold memulai pembicaraan seriusnya dengan Lia.


"Leonard Savero, putera ibu tadi mengalami kesulitan. Dia tidak mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh gurunya,"


"Apa anda tidak salah, Pak? Leon tidak pernah seperti itu sebelumnya." Lia begitu terkejut.


"Mungkin anda benar, ini semua karena dia tak tahu harus menulis apa untuk tugasnya," kata Pak Ray.


"Kalau boleh tahu, tugas mengenai apa, Pak?"


"Mengenai keluarganya. Silsilah keluarga."


Lia menghela napas. Perasaannya sangat kacau. Kegelisahan menyelimuti perasaannya. Bagaimana dia akan mengatasi persoalan ini.


Kegelisahan sikapnya dapat dibaca oleh Ray. "Apakah ayahnya sudah tiada? Atau sebaliknya dia masih ada tapi anda merahasiakannya."


Lia terkejut. Ia menatap sepasang manik mata coklat di hadapannya. "Apakah dia tahu sesuatu?" batinnya.


"Apakah tebakanku benar?"


Lia menundukkan kepala, dengan gugup dia menjawab. "Aku memang menyembunyikannya."

__ADS_1


Pria itu tersenyum penuh wibawa. Senyuman yang menenangkan hati Lia yang begitu gelisah.


"Dia berhak untuk mengenal ayahnya, dia berhak mendapatkan kasih dari kedua orang tuanya secara utuh, Ibu."


Lia menggigit bibirnya. "Aku tak sanggup menceritakan pada Leon."


Pria itu menatap Lia dengan pandangan lembut. "Mungkin jika anda tidak keberatan, anda bisa menceritakannya pada saya. Saya berjanji akan mencari sebuah solusi bagi Leon."


Setelah berdiam dan berpikir sejenak, akhirnya Lia menepis keraguan di hatinya. Ia mulai menceritakan kisah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kebodohannya yang menyebabkan ia harus menerima konsekuensi mempunyai seorang anak pada usia mudanya, bahkan tanpa seorang ayah.


Lia begitu bahagia, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang genius dan berbakat seperti sang ayah. Namun di lain pihak hatinya kacau setiap kali bocah kecilnya dengan gigih menanyakan keberadaan sang ayah.


"Jika boleh tahu, kenapa kau bahkan tidak mengatakan siapa nama ayahnya," Raynold terlihat bingung. "apa alasannya?"


"Karena dia adalah Samuel Augusto. Dan aku tidak ingin dianggap sebagai pencari ketenaran dengan sebuah pengakuanku."


Ray menghela napas. "Aku mengerti."


Guru muda itu menggaruk kepalanya. Kedua manik matanya menatap tajam ke arah ibu muda di hadapannya. Ia mencerna permasalahannya dan mulai mengaplikasikannya pada ilmu yang dipelajarinya.


"Seorang anak, memerlukan seseorang sebagai pedoman mereka berperilaku. Aku harap kau segera mempunyai solusi untuk masalah ini. Dia membutuhkan sosok seorang ayah," kata guru muda itu.


"Tadi di saat istirahat terjadi sebuah insiden di antara anak-anak," kata Pak Ray.


"Apakah Leon melakukan sesuatu?" Mata Lia membulat, ia terkejut mendengar cerita Pak Ray. Lia menjadi heran tentang perubahan Leon. Semasa di Singapore, dia tidak pernah terlibat dengan masalah apapun. Semuanya perfect dan semua pengajarnya selalu memuji prestasinya.


"Tidak, dia digoda oleh teman-temannya karena tidak bisa menyebutkan nama orang tuanya. Dan sepertinya dia telah menemukan seorang sahabat," kata guru muda itu. "Karakternya sangat kuat. Dia tidak bisa menerima bila temannya diganggu. Dan ya... jadilah insiden itu."


"Apakah ada yang dilukainya?"


"Itulah yang menjadi pertanyaan bagi saya. Bagaimana bisa anak sekecil Leon mengatasi serangan kakak kelasnya tanpa terluka, tanpa membalas tapi membuat lawannya kesakitan." Guru muda itu kembali mengurut keningnya. "Leon mengatakan bahwa dia mempelajari Tae-boxing. Benarkah itu?"


"Tae-boxing? Saya tidak pernah mengikut sertakan dia dalam kegiatan seni bela diri apapun juga. Dan dia selama ini tak pernah terlibat hal-hal semacam ini." Lia seperti tak percaya jika yang sedang dibicarakan mereka kali ini adalah Leon, puteranya.


Ray menatap ibu muda di hadapannya. Seorang wajah yang cantik, tak ada satu kerutan pun menghias wajahnya yang pucat. Dalam hatinya timbul sebuah pertanyaan, apa sebenarnya yang membuatnya menutup dirinya, hatinya sehingga tidak mau menerima seorang pria di dalam hidupnya. Apakah ada sesuatu hal yang traumatis bahkan sangat mustahil jika tak ada seorang pria pun yang mendekat jika melihat sekuntum bunga yang cantik.


"Pak...," panggilan Lia membuat ia tersadar dari lamunannya. "Apakah anda sempat menanyakan dari mana dia mempelajari tae-boxing?"


"Eh, iya. Eh, maaf. Saya tidak sempat menanyakan pertanyaan itu," jawab guru muda itu dengan kikuk.

__ADS_1


"Dan apakah kawannya itu terluka, pak?" tanya Lia dengan cemas.


"Dia jatuh karena serangannya sendiri yang meleset. Tidak ada luka yang serius. Kau tidak perlu terlalu mencemaskannya. Hanya saran saya, ada baiknya anda membuka hati. Leon membutuhkan sosok sebagai panutan."


Lia tersenyum getir. Mencari seorang ayah untuk Leon? Entahlah, apa dia sanggup, mencari seseorang yang benar-benar menyayangi Leon seperti anaknya sendiri.


"Baiklah pak, jika tak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya mohon diri. Dan terima kasih atas perhatian anda pada Leon," kata Lia. Pak Ray hanya mengangguk sopan.


Bel tanda sekolah usai berbunyi saat Lia hendak keluar dari ruangan konseling, tak lama kemudian berhamburan makhluk mungil dari setiap pintu sepanjang koridor sekolah.


Sebuah tangan mungil menggenggam tangannya dan menariknya ke arah pintu gerbang, mengikuti arus para siswa yang bergerak menuju ke sana.


Lia menatap pemilik tangan mungil itu. Melihat sebuah senyum yang menghias bibirnya dan tatapan mata lembutnya. "Baiklah. Ayo kita pulang," kata Lia.


*****


"Jadi dimana kau mempelajari Tae-boxing, Leon?" tanya Lia ketika mereka telah sampai di mobil.


Leon yang sedang memasang sabuk keselamatan menoleh menatap ibunya. "Apa Pak Ray menceritakannya?"


Lia mengangguk, dia mulai memindahkan persneling ke gigi satu dan memutar kemudinya penuh ke kanan untuk keluar dari parkirnya.


"Aku mempelajarinya dari google mom. Seni bela diri yang bagus." Leon menceritakan asal ilmunya.


"Tapi untuk apa? Bahkan kau masih sangat kecil."


"Leon ingin menjaga mami!"


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.


Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.


사랑 해요

__ADS_1


salang haeyo 😘


__ADS_2