Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 21. Malam Pertama


__ADS_3

Ray merasa sangat bahagia hari itu. Betapa tidak, ia berhasil mendapatkan wanita pujaannya. Wanita cantik dan mandiri karena tempaan situasi. Namun ada sesuatu yang kini mengusik pikirannya. Keluarga!


Entah kenapa setelah percakapan dengan teman-teman gurunya, ia menjadi begitu penasaran dengan keluarga Lia. Seperti apakah orang tua Lia. Nama marganya tidak sama. Keluarga Savero? Namun kenapa pada surat nikah mereka tercantum marga yang berbeda?


Cornelia Christa Hartomo. Siapa dia sebenarnya.


Ray menelpon seorang relasinya di kepolisian. Dengan diam-diam, dia mencari informasi tentang istrinya.


"Cornelia Christa Hartomo, dia adalah seorang putri konglomerat Indonesia. Seorang pengusaha pakan ternak besar. Tapi menurut informasi, dia sedang melakukan study di luar negeri." polisi itu mengakhiri laporannya.


"Terima kasih, Beni. Kau memang sahabatku."


"Tidak masalah, Ray. Kita harus saling membantu, bukan."


Ray segera menutup teleponnya, ketika Lia mendekat kepadanya.


"Apa ada sesuatu yang penting, Ray? Kau seperti membicarakan sesuatu yang misterius."


Ray tertawa. "Hanya masalah kecil. Apa Leon sudah tidur, sayang?"


"Yah, dia tampak begitu kelelahan."


"Baguslah." Ray sebuah senyuman melengkung di bibirnya. "Jadi kita berdua dapat menikmati malam ini bersama."


Tangan Ray tanpa berbasa-basi memeluk tubuh istrinya. Sementara bibir mereka saling berpagut mesra, menikmati malam pertama mereka yang penuh gairah.


"Mari kita buat adik untuk Leonard kita," lirihnya sambil kembali mengecup bibir istrinya.


🐥🐥🐥🐥🐥


Kepala Sam terasa sangat pusing. Kali ini dia benar-benar mabuk. Sebuah berita mengejutkan yang diberikan oleh anak buahnya siang tadi, membuat emosinya meluap.


"Ray, kau tak boleh memilikinya. Tidak. Dia milikku." Dilemparkannya gelas itu ke dinding dapur.


Suara benda pecah, membuat seorang anak buahnya bergegas menghampirinya.


"Kalian benar-benar tidak berguna. Seharusnya kalian hancurkan pernikahan itu dan seret pengantinnya kemari," katanya dengan geram. "Ray. Kau benar-benar harus mati. Kau memilih berurusan dengan orang yang salah."


"Besok kalian tangkap, Ray dan bawa dia berlutut di hadapanku. Dia harus tahu sedang berhadapan dengan siapa." Samuel meneguk kembali birnya, kali ini langsung dari botolnya.


Senyum licik terukir di bibirnya.

__ADS_1


🐥🐥🐥🐥🐥


"Selamat pagi," sapa Ray saat Lia membuka matanya. Pria itu menyambut pagi harinya dengan sebuah kecupan lembut di bibirnya. Kecupan yang membangkitkan kembali gairah semalam.


"Apa kau tidur nyenyak semalam?" tanya Ray lirih.


"Sleep like a baby, sayang," kata Lia dengan manja.


"Apa kau tidak keberatan kita melakukannya lagi pagi ini?" tanyanya.


"Maka Leon akan terlambat ke sekolah." Lia bersiap turun dari ranjangnya.


"Please Lia, sebentar saja," pinta Ray mulai mengelitik tubuh wanita yang kini menjadi istrinya itu. Kecupan demi kecupan didaratkannya pada tubuh istrinya.


"Ray," katanya memekik tertahan ketika mereka telah mencapai klimaksnya. Punggung Ray terasa pedih, ketika kuku jari tangan istrinya menancap di punggungnya. Tapi ia membalasnya dengan sebuah kecupan di bibirnya.


Sebuah ketukan di pintu kamar, menyadarkan sepasang insan ini. Ray segera memakai piyamanya, sedangkan Lia segera masuk ke kamar mandi.


Ray membuka pintu kamarnya. Terlihat di hadapannya seorang bocah kecil berpiyama motif mobil balap sedang memeluk boneka beruangnya.


"Daddy, aku lapar. Bisakah aku mendapat sarapanku?" tanya Leon.


Ray tersenyum dan membelai rambut Leon. "Mari kita buat sarapan. Satu untukmu, satu untukku dan satu untuk ibumu."


"Hmm, harum sekali." Lia keluar dari kamarnya. Rambutnya masih basah terurai, digosoknya perlahan dengan handuk di tangannya. "Kalian membuat apa?"


"Mami." Bocah kecil itu memeluk pinggang ibunya.


"Leon, kenapa belum mandi? Sebentar lagi, mami antar kau ke sekolah."


Anak kecil itu dengan patuhnya berlari ke kamarnya. Benar, ia harus segera mandi agar tidak terlambat ke sekolah.


Ray tertawa, "Hampir saja."


"Makanya, kau tak boleh meminta jatah di pagi hari. Berbahaya." Lia mengangkat jari telunjuknya.


"Makanlah. Kau pasti menghabiskan banyak energi karena pengalaman semalam," kata Ray menggoda istrinya.


Lia tertawa, "Atau mungkin itu adalah perasaanmu. Apa kau begitu kelelahan semalam, Ray?"


"Astaga Lia, kau membuatku malu. Apa kau ingin membuktikan kekuatanku lagi." Ray memeluk istrinya dan mulai menggelitiknya.

__ADS_1


Lia tertawa terkekeh.


Kehidupannya kini telah berubah. Kehidupan yang dulu sepi, kini mulai berwarna dan ceria. Ray seorang pria yang menyenangkan.


"Mami, aku sudah siap." Tampak di depanku Leon berdiri dengan seragam merah putih khas SD-nya.


"Baiklah, kita berangkat." Lia mengecup pipi suaminya. "Tunggulah, aku segera kembali," lirihnya.


Lia mengantar Leonard ke sekolahnya dan langsung pulang kembali ke rumahnya, sesuai janjinya pada suaminya. Dia begitu terkejut ketika melihat rumahnya terlihat kacau dan pintu dalam keadaan tak terkunci.


🐥🐥🐥🐥🐥


Tiga orang berbadan besar itu tiba-tiba membuka pintu rumah Lia. Ray begitu terkejut.


"Apa yang kalian mau? Bukankah aku sudah memberikan semua keinginanmu?" kata Ray sambil tergagap.


"Perusahaanmu tak senilai dengan barang kami yang hilang. Kau harus berhadapan langsung dengan pimpinan kami," kata salah satu dari mereka. Suaranya terdengar dingin dan begitu datar.


Tanpa menunggu lama, kedua orang temannya segera menyeret Ray keluar dari rumah. Mereka memasukkannya ke dalam bagasi. Tepat dimana Ray tak bisa melawan mereka lagi. Ia tak mungkin melawan karena tempat itu sangat sempit, bahkan kakinya harus menekuk.


Ray hanya bisa menikmati guncangan dan beberapa kali kepalanya harus terbentur. "Sial. Siapa sebenarnya pemimpin kalian. Dan barang apa yang sedang kalian cari."


Cukup lama Ray terguncang-guncang di dalam bagasi, ketika penutup bagasi mulai terbuka. Cahaya matahari yang jatuh padanya, membuat matanya menjadi silau. Kedua tangan yang terikat dan posisi kaki yang menekuk membuatnya kesemutan dan kembali tak bisa meloloskan diri. Dengan mudahnya ketiga pria berbadan besar itu menangkapnya dan menggiringnya ke sebuah ruangan gelap.


Dengan tangan dan kaki terikat, ia didudukkan di sebuah kursi. Dan entah kenapa, kini matanya juga ditutup oleh sepotong kain. Ray kebingungan, ketakutan.


Siapa sebenarnya pemimpin mereka. Apa yang diinginkannya kini? Mengapa pikirannya tiba-tiba berubah? Sesaat kemarin, dia menyetujui melepaskannya dengan kompensasi perusahaannya. Dan mengatakan akan mencari pamannya hingga barang paketnya berhasil di dapatkan. Tapi mengapa ia kembali mencarinya?


Berubah pikiran? Bahkan nilai perusahaan yang diberikannya lebih dari satu milyard. Semua ini benar-benar aneh.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.


Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.


사랑 해요

__ADS_1


salang haeyo 😘


__ADS_2