Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 37. Aku Mempercayaimu


__ADS_3

"Baiklah, aku bisa mengerti. Tapi kenapa kau tak mencobanya?" tanya Sam. "Bahkan itu belum tentu terjadi seperti yang ada di dalam pikiranmu."


Lia tertawa. "Bahkan papaku sendiri menyuruhku keluar negeri, menyembunyikan hal ini. Jika aku menuntut sebuah pertanggungjawaban, itu berarti aku memperburuk keadaan dengan menyebarkan berita yang bukan saja berakhir dengan keterpurukanku sendiri, tapi juga orang tuaku."


"Kurasa kau terlalu banyak berpikir, Lia. Aku bukan orang seperti itu."


"Karena memang aku tak mengenalmu. Aku tak tahu kau jenis manusia dengan sifat seperti apa."


Percakapan mereka terhenti saat Leon datang menghampiri mereka.


"Mami, apa kita akan pulang setelah ini?" tanyanya. Bocah kecil itu menarik kursinya dan duduk di samping ibunya.


Lia meletakkan satu piring roti dan segelas teh hangat di depannya. "Apa kau masih ingin bermain dengan Nissa?"


Bocah itu mengangguk.


"Baiklah. Kita pulang setelahnya."


🐧🐧🐧🐧


Samuel dan Lia memandang Leonard dari kejauhan. Bocah kecil itu sedang berlarian di camping ground. Sesekali terdengar gelak tawanya dari kejauhan.


"Jadi bagaimana? Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu." Pria itu mengambil gitarnya memangkunya dan memetiknya dengan lembut.


Lia menganggukkan kepalanya. "Ya, aku bisa mempercayai ceritamu."


"Jadi kau akan menerimaku?" Pria itu menatap sepasang mata Lia dengan tatapan penuh harap.


"Aku akan memikirkannya." Lia beranjak dari kursinya dan kembali ke dalam tendanya.


Wanita itu mulai mengepak semua barang-barang bawaannya. Sementara di dalam kepalanya juga sibuk berpikir tentang masa depannya, tentang kebahagiaan anaknya dan jawaban apa yang harus diberikan pada Samuel.


"Kurasa aku harus menerimanya. Setidaknya ini demi kebahagiaan Leonard. Ia sudah berusaha mendekati ayah kandungnya sampai sejauh ini."


Lia menghela napas. Ia berharap ini adalah keputusan yang paling tepat.


Sementara di luar tenda, suara petikan gitar masih terdengar dengan lembut dan sahdu. Sebuah nada yang terdengar sedih, sendu dan begitu penuh pengharapan.


Lia menutup koper pakaiannya. Lalu menyeretnya mendekat ke pintu. Tanpa sengaja tubuhnya menyenggol sebuah meja portabel dan membuat sebuah suara yang cukup keras.


Sam segera masuk ke dalam tenda karena terkejut. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada wanita yang sedang menggosok pinggulnya yang terasa sakit.

__ADS_1


Sam mendekatinya, "Sebaiknya kau segera menggosokkan minyak, untuk meredakan sakit dan bengkaknya."


Lia menarik sedikit kaosnya, melihat sebuah lebam yang muncul akibat benturan tadi. Sam yang sempat mengintip luka lebam itu, harus segera menelan salivanya cepat-cepat. Melihat kulit putih mulus wanita itu, kembali mengingatkannya pada kejadian malam itu.


Samuel bergerak semakin mendekat, sementara salah satu tangannya mulai menyentuh bagian lebam itu, seakan ingin agar luka itu menguap dan hilang begitu saja.


Lia bergerak mundur satu langkah. Dan ia kembali menyenggol meja portabel itu. Sam menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.


Irama detak jantung Sam terdengar begitu cepat. Lia dapat mendengarnya dengan jelas saat kepalanya menempel di dada bidang pria itu.


"Jadi katakan padaku, apakah kau mencintai aku saat malam itu?"


"Pertanyaan macam apa ini?" pikir Sam. Jika ia mengiyakan, tentu itu adalah sebuah kebohongan.


"Jadi apa yang kau harapkan dari pertanyaanmu?" tanya Sam. "Sebuah jawaban jujur?"


Wanita itu hanya diam, menunggu sebuah jawaban keluar dari mulutnya.


"Malam itu kita terlalu mabuk untuk mengetahui dan merasakan perasaan itu. Tapi aku segera menyadarinya setelah aku tak bisa menemukanmu lagi," lanjut Sam. Ia tak mungkin mengiyakan karena Lia pasti tahu jika jawaban itu adalah sebuah kebohongan.


"Baiklah. Aku anggap aku bisa menerimamu karena kau mau mengatakan hal yang sejujurnya padaku walaupun itu terasa menyakitkan."


Samuel memeluk wanita di hadapannya. Diangkatnya wanita itu ke atas meja portabel di belakangnya dan mengecup bibirnya dengan luapan gairah dan kebahagiaan.


Mereka saling memagut dengan mesra seperti tak akan pernah akan terpisah lagi. "Lia, kali ini kau tak boleh meninggalkanku lagi," lirihnya. "Apapun yang terjadi, tetaplah bertahan di sisiku."


🐧🐧🐧🐧


"Daddy, mami. Leon ingin seorang adik," kata Leon tiba-tiba saat mobil bergerak kembali ke kota.


"Leon!" Lia begitu kaget mendengar permintaan putranya.


"Kenapa tiba-tiba Leon menginginkan seorang adik?" tanya Sam dengan lembut. Terlihat sebuah senyum di sudut bibirnya.


"Nissa mengatakan bahwa dia akan mempunyai seorang adik tak lama lagi. Dan dia akan menjadi sibuk sehingga tak bisa lagi bermain denganku." Suara bocah kecil itu kini terdengar tak bersemangat.


"Leon. Kau bisa berteman dengan siapa saja. Tidak harus dengan Nissa, bukan?" Lia menasihatinya. Terdengar nada gusar di dalam kalimatnya.


"Leon ingin punya adik? Leon banyak berdoa pada Tuhan, supaya Tuhan memberikan seorang adik bayi di perut mami. Leon ingin bermain bersama adik, bukan?" Sam tersenyum melihat wajah kesal Lia.


"Oke daddy, aku akan berdoa tiap saat agar Tuhan segera mengabulkan doaku."

__ADS_1


"Good boy." Samuel memuji Leon. Sepasang matanya melirik ke arah sang ibu yang mencebikkan mulutnya dengan kesal.


"Kau tahu, seseorang yang berdoa dengan penuh kesungguhan, akan segera memperoleh jawaban atas doanya." Sam menambahkan.


"Apa daddy juga mengalaminya?" tanya Leon dengan begitu antusias.


"Ya, daddy berdoa agar keluarga kita segera dipersatukan kembali," jawabnya kembali dengan senyum tipis di bibirnya.


"Apa daddy sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Leon.


Sam tertawa. "Semua doa yang baik, akan dikabulkan, Leon. Berdoalah lebih keras dan sungguh-sungguh."


"Daddy. Apa jawaban doa daddy?" ulang Leon.


"Sepertinya tak lama lagi, keluarga kita akan bersatu, sayang." Sam melirik Lia yang masih terlihat kesal.


Leon bersorak gembira. "Mami, apa kita akan segera tinggal bersama? Kita akan berkumpul bersama?"


"Leon, apa itu yang kau inginkan? Apa kau akan merasa bahagia jika kita tinggal bersama?" tanya Lia.


Leon menganggukkan kepalanya.


"Jadi?" tanya Sam, sepasang matanya sebentar-sebentar melirik ke jalanan yang dilaluinya dan sesekali melirik wanita yang duduk di sampingnya.


"Aturlah. Aku menyerah. Aku akan mengikuti keinginan kalian." Sebuah jawaban yang benar-benar membuat kedua pria di dekatnya menjadi bahagia.


Wanita itu memijat keningnya, mendengar celoteh riang bocah kecilnya yang terdengar begitu gembira. Sementara itu jalanan panjang menurun yang berkelok-kelok membuat badannya terasa sangat capek.


🐧🐧🐧🐧


Hai semuanya, udah sampai bab 37 nih. Author up slow, lagi ga semangat nih, hiks.


Kasih semangat author buat up yuk. Caranya tekan tombol likeπŸ‘ dan komen yuk. Jangan lupa masukin ke rak kalian dengan klik favorit.


Semakin banyak like, author akan makin semangat buat up bab.


Buat yang udah terus ngikutin ceritanya. Makasih banyak yaa..


μ‚¬λž‘ ν•΄μš”


salang haeyo 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2