
Tangan Lia mendadak bergetar, tubuhnya lemas mendengar sebuah nama yang terucap dari bibir mungil puteranya. Samuel Augusto! Nama yang kembali menari di alam pikirannya bersama dengan ingatan masa lalunya pada malam itu.
Ray segera memegang telapak tangan Lia. Ia sangat memahami perasaan wanita yang akan menjadi istrinya itu. "Tenanglah Lia. Dia tak akan bisa melakukan apapun," katanya lembut dan menenangkan.
Sementara Leon menatap kedua pasangan itu dengan penuh keheranan. "Ada apa mami? Apa kau mengenalnya? Apa dia bukan orang baik?"
"Apa kau sendiri yang memilihnya sebagai pembimbingmu? Apa alasanmu memilihnya?" tanya Lia penuh selidik.
Leon menganggukkan kepalanya. "Saat itu para juri menggodaku, mereka mengatakan bahwa wajah kami begitu mirip. Jadi aku memilihnya, agar mereka puas merasa berhasil menggoda kami."
Lia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bagaimana mungkin nasib mempermainkan mereka dengan cara seperti ini.
Ray hanya bisa menghela napas dan mengusap lembut punggung wanita itu.
"Ma, apakah aku bersalah?" tanya bocah kecil di sampingnya. Semua mata yang berada di sekitar meja bulat itu menatapnya, menunggu jawaban yang akan dikeluarkan dari bibirnya.
"Tidak Leon, kau tidak bersalah," sahutnya. "Aku harus bisa menerima ini. Aku rasa ini hanyalah sebuah intuisi di antara kalian."
"Aku masih tidak mengerti. Apakah aku benar-benar adalah anak dari Samuel Augusto?" tanya bocah kecil itu. "Lalu jika memang dia adalah ayahku, apa alasan kalian berpisah?"
Lia menangis mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang kembali mengingatkannya pada kesalahannya. Ia berpikir apakah Leon akan mengampuninya jika ia mengatakan bahwa kelahirannya adalah suatu kesalahan.
"Leon, berikan ibumu waktu untuk menceritakannya padamu," kata Ray berusaha mengulur waktu hingga Lia siap untuk bercerita.
Tiba-tiba Lia membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya. "Tidak. Mami akan menceritakan semuanya padamu. Berjanjilah Leon, kau masih akan tetap sama. Kau tidak akan marah pada mami dan tetap menyayangi mami."
Bocah itu mengangguk perlahan. Akhirnya puncak keingintahuan akan keluarganya terungkap, bahkan tanpa ia sengaja.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Jadi, dia tak pernah tahu bahwa dia telah mempunyai seorang putera?" tanya Leon tak percaya. "Dan mami pergi dari Indonesia karena diusir oleh grandpa?"
"Leon, mami melakukan sebuah kesalahan di masa lalu, tapi mami tak pernah menyesal melahirkanmu." Lia menatap wajah mungil bocah di hadapannya. "Kamu adalah anugerah Tuhan bagi mami. Mami sangat menyayangimu, nak."
"Jadi apa kau akan menemui ayah kandungmu dan mengaku kalau kau adalah puteranya?" tanya Ray.
"Tidak. Mami benar. Dia akan menolakku karena ia bahkan tak tahu bahwa dia telah mempunyai seorang putera," sahut Leon tanpa semangat.
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi itu cuaca sangat cerah terlihat awan berarak-arak di langit. Terdengar kicau riang burung di antara pepohonan. Dan gemericik air dari shishi odoshi di taman rumah karantina.
__ADS_1
Samuel Augusto berdiri di tengah taman, di depannya terlihat beberapa peserta audisi dari berbagai usia berdiri mengelilinginya.
"Selamat datang semua para peserta audisi. Selamat datang di rumah karantina. Semoga kalian bertahan tinggal di sini hingga puncak malam final ajang bergengsi ini." Samuel menyampaikan salam sambutannya.
Semua peserta memberikan tepuk tangan meriah. Samuel memandang barisan di sekelilingnya. Pandangannya terhenti pada seorang bocah kecil di sebelah kanan depannya. Ia tersenyum pada sang bocah sambil menggaruk telinganya. Ia teringat kembali pada godaan para rekan jurinya.
Tapi jika diperhatikan, memang harus diakuinya bahwa mereka berdua mirip. Tapi sudahlah, bahkan dia belum menikah, mana mungkin memiliki seorang anak.
Samuel memandu para peserta menuju kamar mereka, sebuah kamar dengan ranjang bertingkat. Terlihat seperti barak tentara.
"Di sini kalian akan tidur dan berlatih dalam kebersamaan. Aku harap kalian semua dapat bergaul dengan baik," katanya. "Hubungi saja aku, bila kalian membutuhkan bantuan."
"Baik," sahut para peserta kompak.
Leon duduk di sofa ruang tengah, menyendiri, ia hanya ingin menyendiri. Suasana di rumah karantina terasa tak nyaman baginya, peserta dengan usia terkecil. Ia merasa terintimidasi, terutama oleh peserta yang usianya jauh di atasnya. Ia merasa diremehkan.
Samuel melihat bocah kecil itu termenung sendirian. Didekatinya, dan ia duduk di sampingnya.
"Apa kau sedih? Kau sudah merindukan rumahmu?" tanya Sam.
"Kau bisa mengundangnya kemari jika kau merindukannya, Leon." Sam memberikan ijin pada Leon. Ya, tak ada salahnya memberikan seorang anak kecil ijin dikunjungi oleh orang tuanya.
"Peserta lainnya sedang berlatih. Mengapa kau tidak?" tanya Sam.
"Apa kau benar-benar akan membimbingku?" tanya Leon. "Mereka semua berlatih sendirian."
Sam tertawa kecil. "Baiklah. Kau berlatih, aku akan mendengarkanmu sebagai penonton."
Leon segera beranjak mengambil hardcase-nya. "Kita berlatih di taman?"
Sam mengangguk. Tiba-tiba sebuah tangan mungil menggenggam tangannya dan menariknya keluar rumah.
Ada rasa bahagia di hati Leon, ia harus memanfaatkan kesempatan di masa-masa karantina ini. Kesempatan baginya menghabiskan waktu bersama ayah kandungnya. Saat ini tujuan utamanya bukan kemenangan dalam kompetisi bergengsi ini, melainkan bagaimana ia dapat terus bertahan untuk tetap tinggal lebih lama di rumah karantina bersama sang ayah.
Sam duduk di bangku taman. Ia memperhatikan bocah kecil itu mulai menggesek biolanya dengan penuh perasaan, memainkan sebuah lagu dengan nada dan ritme yang tepat bahkan terkadang dengan improvisasi yang luar biasa.
Sesekali kakinya menghentak, maju dan mundur mengikuti irama yang tercipta dari gesekan senarnya hingga akhir lagu.
__ADS_1
Sam bertepuk tangan. "Sangat indah. Dimana kau belajar alat musik ini?" tanyanya.
"Aku mencobanya, dengan mempelajari dari internet. Aku bisa membaca sebuah lagu dengan sekali mendengarnya."
"Luar biasa. Aku sangat ingin mengenal orang tuamu."
Tiba-tiba seorang pria datang mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Baiklah. Kita atur strategi untuk membalasnya," kata Sam. "Tunggu instruksi dariku."
🌹🌹🌹🌹🌹
"Ray," panggil Lia.
Ray mengangkat satu tangannya, sedangkan di tangan kanannya masih menahan ponsel yang menempel di telinganya. Wajahnya terlihat serius dan tegang.
"Kerja yang bagus. Aku akan segera keluar dari sekolah itu dan kembali pada perusahaan." Ray menutup panggilannya dan tersenyum pada Lia.
Pria itu berjalan mendekat lalu memeluk wanita cantik itu. Ia mengecup kening wanita pujaannya itu.
"Apa kau sudah merindukan Leon?" tanyanya.
Wanita itu melingkarkan tangannya melalui pinggang Ray. "Untunglah, aku memilikimu selama jauh darinya."
Ray mengecup lembut bibir wanita cantik di pelukannya. Tanpa merasa canggung karena sang bocah kecil sedang tak berada di sekitar mereka. Ray menghentikan kecupannya ketika Lia mulai seperti kehabisan napas.
"Ray, boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Tentang apa Lia?"
"Apa yang baru saja kau bicarakan dengan begitu seriusnya di telepon?"
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.
Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.
__ADS_1
사랑 해요
salang haeyo 😘