
"Benar, aku ingin menyingkirkan Jonas," bocah kecil itu mengeluarkan suaranya. "Aku harus menyingkirkan seseorang yang membuat aku tak nyaman di rumah karantina."
"Membuatmu tak nyaman. Apa maksudmu, Jonas melakukan sesuatu yang tak kuketahui?" tanya Samuel.
Bocah itu mengangguk. "Dia sering merisakku dan menghasut semua yang ada di rumah karantina untuk tidak berhubungan denganku."
"Kau tak perlu menanggapi hal seperti itu."
"Aku tak akan menanggapinya jika dia tidak menyakitiku. Dia selalu menggangguku karena aku peserta paling kecil, bukan berarti aku tak bisa melawannya. Jadi aku menantangnya bertanding dengan lagu yang sama." Leon mengatakan alasan perbuatannya dengan jelas. "Aku rasa itu sangat adil, bukan? Bertanding dengan materi yang sama, daripada aku harus berkelahi dengannya."
"Tapi apa alasan dia mengganggumu? Untuk apa dia mengganggumu?" tanya Samuel dengan kebingungan.
"Karena mereka menyangka aku curang dan mempunyai hubungan kerabat denganmu," kata Leon. Tatapan matanya begitu bening dan tajam.
"Karena kata-kata juri lain saat audisi?" tanya Sam masih tak percaya.
"Karena mereka tahu jika aku anak tanpa seorang ayah."
Lia mendadak lemas. Lututnya serasa tak mampu menopang tubuhnya. Ia goyah dan badannya ambruk.
Sam segera menangkapnya, membantunya duduk di bangku taman.
"Tolonglah, lebih peduli pada Leon. Dia tak mungkin berbohong. Aku sangat mengenalnya." Lia berusaha menghindarkan Leon dari kemarahan Sam.
*****
Seorang gadis kecil dengan rambut panjangnya, berdiri di depan rumah karantina. Gadis itu dengan gelisah menatap jalanan. Wajah cantiknya terlihat sangat sedih. Setelah cukup lama berdiri di sana, ia berjongkok di trotoar. Gaunnya melebar, menutup sebagian trotoar yang sepi tanpa pejalan kaki. Sepertinya ia sudah terlalu lama berdiri.
Leon mengamatinya dari jendela rumah karantina. Matanya tak bisa lepas memandang gadis kecil itu. Tak lama kemudian ia membawa hardcase-nya dan memutuskan menemani gadis kecil itu.
"Hai." Leon berdiri di depan gadis kecil itu. Diulurkannya tangan kanannya. Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya. Mata bulat besarnya sangat indah berpadu dengan bulu mata yang lentik. Kulitnya kecoklatan dengan rambut panjang berkepangnya.
Gadis itu menyambut uluran tangan Leon. Sebuah senyuman mencuat di bibirnya, membuat wajah lucu nan cantik itu semakin sedap di pandang.
"Namaku Leon." Leon memperkenalkan dirinya, tangannya menjabat erat tangan sang gadis kecil.
"Aku Nisya," lirih gadis itu. Kedua manik matanya matanya menatap polos sepasang mata lawan bicaranya.
"Kau menunggu seseorang, Nisya?" tanya Leon.
__ADS_1
"Tepatnya aku tak bisa menemukan orang tuaku," sahutnya.
"Dimana kau terakhir melihat mereka?"
"Di alun-alun kota."
"Alun-alun kota?" Leon merasa heran. Alun-alun kota letaknya agak jauh dari rumah karantina. Bagaimana gadis kecil itu tersesat hingga kemari.
"Apa kau mengingat alamat rumahmu?"
Gadis itu mengangguk. "Tapi itu cukup jauh dari sini. Aku tak punya uang untuk pulang sendiri," jawabnya. "Dan aku merasa lapar sekarang."
"Sungguh malang." Leon merasa iba.
Ia merogoh saku celananya. Ia memberikan sebungkus permen yang ditemukannya di dalam sakunya.
"Kita ke alun-alun kota, yuk Nisya. Siapa tahu kita dapat menemukan orang tuamu di sana." Leon menggenggam tangan gadis kecil itu dan mengajaknya berjalan menuju ke alun-alun kota.
Suasana alun-alun kota sangat ramai. Banyak pedagang asongan bahkan pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Leon mengajak Nisha berdiri di bawah sebuah pohon untuk berteduh.
"Kita tunggu di sini, siapa tahu orang tuamu melihatmu atau kau melihat mereka." Leon memandang sekelilingnya. Ah, ini sangat mustahil juga pengunjung alun-alun akan melihat kepadanya. Ia harus mencolok untuk dilihat.
"Baiklah. Kita harus dilihat, agar orang tuamu menemukanmu." Leon tersenyum pada gadis kecil bermata bulat itu.
Dia memejamkan matanya dan mengambil napas panjang. Diletakkannya biola itu di bahunya dan mulai menggesekkan bow pada biolanya.
Sebuah simphoni yang indah mengalun dengan lembut, semakin lama semakin cepat dan menghentak. Leon begitu menghayati musik yang dimainkannya. Kakinya menghentak seakan menari-nari seiring irama yang mengalun dari senar-senar biolanya.
Beberapa orang ikut menari di dekat Leon. Beberapa lagi bahkan melemparkan lembaran dan kepingan uang di dekatnya. Leon tak mempedulikan mereka dan tetap menyelesaikan lagu yang dimainkannya hingga selesai.
🐣🐣🐣🐣🐣
"Lia, keluarlah. Aku ada di depan rumahmu." Samuel menghubungi melalui gawainya. Wajahnya terlihat sangat cemas. "Kita harus mencari Leon!"
"Leon? Bukankah dia seharusnya bersamamu?"
"Dia menghilang dari rumah karantina."
"Menghilang?" Lia terkejut.
"Halo, Lia. Halo."
__ADS_1
Tak ada lagi jawaban dari gawainya. Samuel meletakkan kembali ponselnya ke dashboard mobil. Sementara Lia terlihat berlari-lari keluar dari rumahnya.
Ia segera masuk ke dalam mobil Sam dan mulai memberondongnya dengan berbagai pertanyaan layaknya seorang detektif polisi pada tersangkanya.
"Kapan kau terakhir melihatnya? Apa ada seseorang yang bertamu dan kemudian menculiknya? Apakah ada seseorang yang kau curigai? Tak adakah CCTV di rumah itu?"
Sam menghela napas panjang. "Tolong, jangan membuat aku panik. Kita akan kelilingi kota ini dari wilayah dekat rumah karantina lalu menyebar keluar kawasan. Tugasmu adalah menemukan dia saat aku mengendarai mobil."
Lia begitu gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya. Kakinya di ketuk-ketuknya dengan tidak sabar. Beberapa kali terdengar tarikan napasnya.
Sam meliriknya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Berapa lama dia telah menghilang? Bagaimana jika ia diculik? Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya?" seribu pertanyaan berkelebat di benaknya. "Bagaimana aku akan hidup tanpa Leon? Sejak kelahirannya, hanya dialah tujuan utamaku bertahan hidup di dunia ini."
"Lia, tolonglah. Kau harus fokus melihat sekeliling mencari Leon. Aku tak ingin melewatkannya." Sam menegurnya. Ia begitu gusar karena Lia begitu mudahnya terbawa perasaannya dan itu akan membuat pencarian ini menjadi sia-sia.
Samuel menghentikan mobilnya di alun-alun kota. Begitu banyak pengunjung. Mereka tak mungkin bisa memperhatikan semuanya satu persatu dengan mobil.
Tak ada sedikitpun jejak Leon, disana.
"Leon. Kau dimana, Nak. Maafkan mama gagal melindungimu, Nak." Lia menangis terisak. Entah apa yang diharapkannya dalam kehidupannya sekarang.
Samuel merasa begitu iba, mendengar tangis Lia yang begitu menyayat hati. Tanpa disadarinya, badannya bereaksi. Samuel mendekatkan dirinya pada Lia, dan mulai memeluknya.Tangisan Lia pecah di dada pria itu.
Sebuah wangi parfum menguar dari tubuh Lia. Membuat pikirannya kembali pada kejadian tujuh tahun silam. Parfum ini terasa sangat dikenalnya.
Seandainya saat itu, gadis itu tak meninggalkannya, mungkin dia sudah menikahinya. Apakah Lia adalah gadis itu? Gadis yang menemaninya malam itu.
Sesaat kedua mata mereka bertatapan.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.
Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.
사랑 해요
__ADS_1
salang haeyo 😘