Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 26. Rahasia Alam


__ADS_3

Wajah Lia memucat. "Kau, bahkan menjadikan darah dagingmu sendiri sebagai senjata untuk memerasku!"


Pandangan mereka tiba-tiba tertuju pada lorong rumah sakit. Seorang perawat berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Ibu Cornelia, apa anda sudah mendapatkan darahnya? Kami sudah kehabisan waktu. Ananda harus segera mendapatkan tambahan-- " kata-kata perawat itu terputus ketika tiba-tiba pandangan Lia menjadi gelap dan ia jatuh tak sadarkan diri. Lia terlalu capek, shock di dera perasaan sedih yang teramat sangat dalam hatinya bahkan tak ada seorangpun di dekatnya dapat dipakainya sebagai tempat bersandar.


Samuel dengan cepat menangkap tubuh wanita itu. Digendongnya ke sebuah ranjang rumah sakit yang kosong. Seorang perawat segera memeriksanya. Sedangkan Samuel mengikuti seorang perawat lainnya untuk melakukan pengambilan darah bagi Leonard.


Terbayang di pelupuk matanya, betapa bahagianya seandainya mereka nantinya akan berkumpul bersama lagi. Tapi apakah Lia akan menerimanya kembali?


🐥🐥🐥🐥🐥


Cornelia membuka matanya perlahan, sebuah cahaya menyilaukan di depannya. Ia seperti berada di sebuah jalan setapak, di sekitarnya terdapat kebun bunga matahari yang sangat cantik.


Senja itu sangat indah, dengan sinar mentari merah yang menyilaukan menyinari wajahnya.


Pria itu menyentuh pipinya, mengecup lembut bibirnya lalu memeluknya seakan tak ingin berpisah. Lia membalasnya lebih erat lagi.


"Ray, aku rindu."


Ray menatap kedua mata istrinya. "Lia, aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau bahagia. Hiduplah dengan baik, agar aku di sini bisa menatap senyum bahagiamu."


"Aku hanya akan bahagia jika hidup bersamamu."


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tugasku sudah selesai, Lia. Tugasmu belum selesai. Berbahagialah, teruslah hidup."


Pria itu berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Lia.


"Ray, kau tidak bisa meninggalkan aku seperti ini. Untuk apa kau menikahiku, jika hanya untuk kau tinggalkan." Lia mengejarnya dan memeluk pinggang pria yang dicintainya itu.


Ray berbalik, "Jangan menangis, sayang. Aku tak akan bisa ke surga jika kau terus menangis. Itu akan menghalangi langkahku."


Pria itu memeluk istrinya dan kembali mengecup bibirnya, sementara tubuhnya tampak mulai menghilang seperti butiran debu yang tertiup angin.


Ladang bunga matahari itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah kegelapan yang pekat dan sebuah guncangan membuat wanita itu tersadar dan kembali pada kenyataan.


"Dia sudah kembali!" suara seorang wanita.


"Alhamdulillah!" kata beberapa orang lainnya.


"Kasihan sekali, dia pasti shock berat. Ditambah lagi mencari donor untuk anaknya. Untunglah mereka berdua bisa selamat. Golongan darah O negatif memang susah di dapat. Di PMI pun selalu cepat habis."


Perlahan-lahan Lia mulai membuka matanya. Badannya terasa sangat lemah, seperti tidak mempunyai tenaga. Tapi karena ia mendengar bahwa putranya telah selamat, semangatnya pun kembali pulih.

__ADS_1


"Leon," lirihnya. Seorang perawat menghampirinya. "Dia selamat, bu. Pria yang tadi bersama dengan ibu, dialah pendonornya."


"Ray, apa yang harus kulakukan? Dia menginginkan aku sebagai pembayaran darah yang diberikannya," katanya dalam hati.


Terdengar suara ketukan di pintu. Seorang laki-laki masuk ke dalam ruang kamar perawatan. Sebuah senyuman menghias bibirnya.


"Jadi bagaimana?" tanyanya. Wajahnya tersenyum menyeringai, "Aku telah memberikan darahku, jadi sekarang giliranmu, lebah kecil."


"Bagaimana kau tega mengatakan hal itu, bahkan aku belum menguburkan suamiku."


"Aku akan memberikanmu kesempatan untuk itu," katanya kemudian. "Aku sudah menunggumu selama delapan tahun, Lia. Tak akan ada salahnya menunggumu beberapa saat lagi."


🐥🐥🐥🐥🐥


Wanita itu berdiri di depan ranjang putranya. Ia menatap nanar putranya yang sedang terlelap. Sebuah selang infus menancap di pergelangan tangannya.


"Dia akan segera sadar, nyonya Cornelia." Seorang dokter jaga berjas putih datang menghampirinya. "Apa kondisi anda sudah lebih baik, nyonya?"


"Saya sudah lebih baik, dokter --"


"Radith." Dokter muda itu mengulurkan tangannya. "Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu, nyonya. Semua akan segera berlalu dan pelangi akan segera muncul."


Dokter itu tersenyum manis. "Tentu saja, dia masih sangat muda, belum mengalami kepahitan hidup," batin Lia.


"Tentang kepahitan hidup, tak hanya kau yang pernah mengalaminya, nyonya," katanya kemudian.


Lia terkejut mendengar kalimat yang terakhir diucapkannya. Bagaimana mungkin dia tahu apa yang aku pikirkan.


Pria muda itu menghela napasnya. "Sebuah rahasia alam," lirihnya.


"Apa maksud anda, dokter?" Lia semakin tak mengerti.


"Ada hal yang tak seharusnya manusia ketahui, namun aku ketahui. Seperti sekarang, aku melihat putramu sedang menatapmu dengan sedih." Dokter itu berpaling hendak pergi meninggalkan Lia.


"Apa maksudmu dokter? Jelaskan padaku," kata Lia.


"Tak baik aku mengatakan di sini, di saat--" Pria itu menunjuk sisi kanan Lia. "dia mendengar pembicaraan kita."


"Jadi apa kau tak akan menjelaskannya padaku?"



"Aku akan menunggumu di taman." Pria muda itu menunjuk ke arah luar jendela dan meninggalkan wanita itu dengan seribu satu pertanyaan di otaknya.

__ADS_1


🐥🐥🐥🐥🐥


Cuaca pagi itu sangat cerah. Beberapa perawat terlihat melintas di taman yang rimbun dengan tanaman berukuran sedang. Beberapa pasien juga nampak berjemur dengan kursi rodanya.


Di sebuah kursi taman, tampak seorang wanita duduk termangu. Wajah kusutnya masih terlihat cantik tanpa riasan. Ditangannya terlihat sebuah ponsel yang dengan resah diliriknya berulang kali.


Seorang dokter muda mengangguk sopan menyapanya sebelum kemudian duduk di sebelahnya. Dokter muda itu tersenyum padanya.


"Jadi apa yang ingin kau dengarkan dariku?" tanya dokter muda itu.


"Apa maksudmu tentang kepahitan hidup dan rahasia alam? Kau benar-benar tak jelas dan membuatku bingung dengan kalimatmu."


"Jadi Cornelia, boleh aku memanggilmu demikian? Kurasa kita seumuran."


"Apapun itu, jelaskanlah."


"Kemarilah aku akan mengatakan sebuah rahasia untukmu," kata dokter Radith.


Lia tak bergerak. Hal ini membuat Radith merasa gusar, dengan tak sabar ia beringsut mendekatkan posisi duduknya mendekati wanita cantik itu. Tangannya membentuk sebuah lengkung diantara bibirnya dan telinga wanita di sampingnya.


"Disini bahkan banyak manusia yang tak dapat kau lihat. Aku bisa melihat mereka dengan jelas," lirihnya.


Lia terkejut, ia segera menoleh pada dokter muda di sebelahnya. Sepasang mata mereka saling memandang. Dengan jarak yang sedemikian dekat.


Jantung Radith berdetak sangat kencang. Ia telah mengetahui bahwa jodohnya telah dekat. Namun ia tak menyadari bahwa itu akan sedekat ini. Ia berusaha menghindar dari jodohnya, karena melihat sesuatu yang gelap akan terjadi setelah ia bertemu dengan jodohnya.


Rahasia alam, sepertinya ia tak mungkin akan bisa mengelak dari yang telah digariskan untuknya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Gimana makin seru ga sih, ceritanya...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...


Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰


Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗


사랑 해요


salang haeyo 😘

__ADS_1


__ADS_2