
"Jadi apa yang kau inginkan, Sam?"
"Jauhi dia!" Suara bariton itu terdengar sangat tegas.
Lia terkejut, terdiam seolah tak berani bahkan untuk mengambil sebuah tarikan napas. Ia merasa pria di hadapannya begitu dingin dan menakutkan. Pria itu sangat berbanding terbalik dengan perilakunya saat di depan kamera.
Pria itu menjauh sambil menatapnya tajam. Tampak dalam matanya, sebuah rasa kecewa.
Leonard menatap ayah dan ibunya dengan tatapan aneh. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi.
"Mami, daddy. Apa kalian marah?" tanyanya.
Sam berpaling menatap Leon dengan pandangan lembut. "Tentu tidak sayang, kami sedang berdiskusi tentang masa depan keluarga kita," jawabnya.
"Mami, apa daddy akan tinggal bersama kita?" tanya bocah kecil itu. Tatapan matanya menginginkan sebuah jawaban dari kedua orang tuanya.
Lia membalas tatapan polos itu tanpa bisa memberikan jawaban. Samuel ikut menatapnya dengan tajam, membuatnya semakin tak berkutik.
"Tidak, Leon. Kita tetap berdua seperti biasa," jawabnya tanpa membalas tatapan Sam yang terlihat sangat mengintimidasinya.
Sam tertawa, "Baiklah Lia, kita akan bertaruh, seberapa lama dokter muda itu akan bertahan."
"Sam, jangan ganggu dia. Bahkan dia tidak mempunyai urusan denganmu," sahutnya dengan geram.
"Ah-- kau benar. Dia tidak mempunyai urusan denganku." Sam kembali membungkuk, mendekatkan wajahnya di depan wajah Lia. "Dia akan berurusan denganku mulai sekarang."
"Leon, daddy akan menjemputmu dan mengantarmu pulang, besok. Bersemangatlah sayang," katanya sebelum meninggalkan kami.
🐥🐥🐥🐥🐥
"Mami," kata bocah kecil itu dari ranjangnya.
"Hmm...," sahut Lia yang sibuk mengemas semua pakaian kotor dan barang-barang yang akan dibawanya pulang.
"Mengapa mami tidak ingin tinggal bersama daddy?"
Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari bibir mungilnya, benar-benar tak mungkin untuk dijawabnya. Bagi Lia, Sam adalah orang asing, dia sama sekali.tak mengenalnya, karakternya dan sifatnya yang dingin, kasar namun kadang terlihat manis.
Sebuah ketukan di pintu, menyelamatkannya dari pertanyaan si bocah.
"Hai jagoan kecil, kau sudah boleh pulang hari ini. Om ingin kau selalu sehat dan suatu saat nanti bisa mendengarmu menggesek biola ini." Radith memberikan sebuah hardcase dengan sebuah pita biru besar menghiasinya.
"Wow... biola baru." Bocah itu dengan segera membuka pita pengikatnya. Sebuah senyum cerah terlukis di wajahnya.
__ADS_1
"Apa aku boleh memainkannya sekarang?"
"Sebaiknya nanti, bahkan infus belum terlepas dari tanganmu." Radith terlihat senang melihat antusiasme Leon ketika menerima hadiahnya.
"Terima kasih, Om."
"Baiklah, om tinggal dulu, karena banyak pasien yang masih harus om temui."
Radith meninggalkan Leon yang masih dengan bahagia memeluk biolanya.
Lia membantunya memasukkan biola itu kembali pada hardcase-nya. Sang bocah kecil menatapnya, "Mam, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau mau mengatakannya, sekarang?"
Lia mengerutkan kening, seolah dia tidak mengerti apa yang menjadi pertanyaan putranya.
"Jadi katakan padaku, mengapa mami tak ingin tinggal bersama daddy?" ulangnya.
Lia duduk di samping putranya. Ia tak menyadari ada seseorang yang mulai menyimak pembicaraan mereka dari depan pintu.
"Leon, daddy adalah orang asing bagi mami. Mami tak pernah mengenal daddy. Bahkan mami tak yakin, daddy menyayangi kita." Lia mengatakan semua alasannya dengan jelas pada putranya.
"Tapi mam--"
"Leon, percayalah. Mami akan memberikan yang terbaik untukmu, walaupun tanpa daddy." Lia segera memotong perkataan bocah kecilnya sebelum dia menanyakan hal-hal lain yang tak bisa dijawabnya.
"Daddy!" seru Leon dengan bahagia.
Lia terkesiap. Ia benar-benar terkejut akan kedatangan Sam. Dengan gugup wanita itu kembali mengepak barang-barang yang tersisa untuk dibawa pulang.
Sam mengulurkan tangannya pada Lia. Dengan kebingungan Lia menatapnya. Ia melihat sebuah senyuman melengkung di bibirnya.
"Maaf," katanya singkat.
"Untuk apa?"
"Untuk kesalahpahaman yang terjadi di antara kita," jawab Sam. Pandangannya terlihat lebih lembut dari pada biasanya. "Aku paham, aku tak dapat memaksamu hanya karena Leon."
"Leon putra kita. Tapi kita bahkan tidak mengenal satu sama lain." Lia mulai berani mengucapkan isi hatinya. "Dan satu hal lagi, kau bahkan tidak sekalipun menjalankan kewajibanmu sebagai seorang ayah. Sekali aku meminta bantuanmu, kau bahkan meminta imbalan untuk itu."
"Apa kalian membicarakan aku? Apa pertengkaran kalian karena aku?" tanya Leon dengan kebingungan.
"Tidak sayang, jangan pedulikan mami and daddy," kata Lia. "Tunggulah di sini. Mami akan membicarakan sesuatu dengan daddy."
Lia segera menyeret tangan Sam keluar dari kamar. Sam hanya berjalan dengan pasrah mengikutinya, ia mencoba tetap bersabar. Satu-satunya cara mendekatinya hanya dengan bersabar. Bersabar dalam mendengarkan semua yang ingin dikatakannya.
__ADS_1
Lia menarik tangannya keluar dari gedung ke arah taman. Tempat dimana tak banyak orang akan tertarik dengan pembicaraan mereka.
Beberapa orang melirik mereka. Tak bisa dipungkiri, Sam adalah seorang dari kalangan dunia artis yang cukup populer. Termasuk Radith, ia terkejut melihat kejadian yang tak dibayangkannya. Sam dengan patuh mengikuti langkah Lia. Tak terlihat seperti sosok yang mengintimidasi seperti kemarin.
Ketika mereka berdua telah sampai di tempat yang sepi, tiba-tiba Sam menarik tangan kecil yang menyeretnya hingga Lia harus menubruk dadanya. Sam memeluknya.
Lia terkejut, dengan gerakan refleks ia mendorong tubuh Sam menjauh darinya.
"Apa kau pikir aku perempuan murahan karena kejadian 8 tahun yang lalu dan sekarang kau akan memperlakukan aku dengan sekehendak hatimu?" tanya Lia dengan kemarahan.
"Benar, delapan tahun yang lalu aku benar-benar terlihat murahan. Tak sadar dengan apa yang kulakukan dan melakukan hal yang tak seharusnya kulakukan dengan orang yang bahkan sama sekali tak kukenal," lanjutnya.
"Sam, aku sama sekali tidak mengenalmu. Sedikit sekali yang kuketahui tentangmu. Hanya sebagai seorang musisi." Lia mengangkat kedua tangannya. "Dan aku sangat - sangat - sangat yakin jika kau bahkan tak tahu siapa namaku."
"Aku tak ingin menyesal dengan keputusanku," lanjut Lia.
Samuel menghela napas, ia menundukkan wajahnya dan nampak seperti menyesal akan sesuatu hal.
"Baiklah. Kita akan memulainya dari awal." Sam mengulurkan tangan kanannya. "Mari kita berkenalan."
Dengan ragu-ragu, Lia menyambut uluran tangannya. "Namaku Samuel Augusto."
"Cornelia Christa Hartomo," sahutnya.
"Jadi Cornelia Christa Hartomo, maukah kau menjadi temanku?" tanya Sam
Sebuah awal baru bagi mereka. Sebuah lembaran baru yang akan mereka tulis bersama.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Gimana makin seru ga sih, ceritanya...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...
Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰
Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗
사랑 해요
salang haeyo 😘
__ADS_1