Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 31. Awal Yang Baru


__ADS_3

"Baiklah, kita akan memulai dari awal supaya kau dapat mengenalku dan aku mengenalmu. Sesuai keinginanmu, Lia."


🐝🐝🐝


Leon menatap kedua orang tuanya saat masuk kembali ke dalam kamar. Kali ini mereka terlihat berbeda.


Sam terlihat lebih banyak tersenyum kali ini. Sangat berbeda dari sebelumnya.


Tanpa banyak bicara, ia mulai membantu Lia membawa barang-barangnya. Sementara itu seorang perawat membuka infus dari pergelangan tangan sang bocah.


Tak lama kemudian, bocah kecil itu telah bergelanyut manja berjalan sambil mengamit lengan tangan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya.


"Mami, apa kita langsung pulang?" tanya bocah kecil itu pada ibunya. Sang ibu hanya tersenyum, tanpa menjawab.


"Daddy, aku masih ingin berjalan-jalan. Terasa sangat jenuh berbaring terus di ranjang selama seminggu."


"Kau ingin kita kemana?" tanya Sam.


"Daddy, aku ingin ke Sea world!" seru Leon dengan antusias.


"Baiklah, kita akan kesana sebelum pulang," jawabnya.


Sebuah senyum kebahagiaan terpancar dari wajah sang bocah kecil. Ia merasa bahagia karena berada di sisi kedua orang tuanya. Seakan ingin memamerkan pada dunia, 'Hai semua, dialah ayahku. Aku bukan anak batu'.


🐝🐝🐝


Berjalan masuk ke dalam ruangan dengan banyak akuarium berukuran besar. Leon merasa begitu takjub. Ia berlarian kesana kemari. Untunglah saat itu pengunjung tidak ramai karena weekday.


Tiba-tiba Leon melihat Nissa. Ia melambaikan tangannya pada gadis kecil yang manis itu untuk menyapanya.


"Leonard!" Nisa memanggilnya. "Apa itu kau?"


"Hai Nissa. Kau belum melupakan aku?"


Gadis manis itu tertawa. "Mana mungkin aku lupa, petualangan kita hari itu. Dan lagi, kau mulai bermunculan di layar televisi."


"Nissa, dia yang membawamu ke kantor polisi saat itu, sayang?" tanya seorang wanita muda di sampingnya.


"Iya bu. Dia sangat baik." Gadis itu tersenyum manis.


"Apa kau mau berpetualang lagi denganku, Nissa?" Leon mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Gadis itu menganggukkan kepalanya. Sebuah senyum ceria melengkung di bibirnya. Ia menyambut uluran tangannya sambil menoleh, meminta ijin pada kedua orang tuanya. Setelah mendapatkan ijin, mereka segera berlari menikmati petualangan mereka sendiri tanpa kedua orang tuanya.


"Jangan keluar dari gedung ini. Ingat Leon." Lia masih sempat memberikan peringatannya.


"Jadi-- bagaimana jika kita menikmati petualangan kita juga. Apa kau mau berpetualang bersamaku, Lia?" tanya Samuel, ia mengulurkan tangannya menirukan gaya bocah kecilnya yang sudah menghilang dari pandangannya.


Lia tersenyum dan menerima uluran tangannya. Dalam hatinya terbersit rasa heran, bagaimana seorang bisa dengan mudahnya berubah. Seorang yang dingin dan kasar tiba-tiba terlhat begitu manis dan lembut.


Sibuk dengan pikirannya yang aneh-aneh, Lia tiba-tiba merasa merinding. Bagaimana jika ia memiliki dua kepribadian.


Lia menapak di sebuah lorong, seperti sebuah terowongan bawah laut. Dengan pemandangan ribuan ikan menari di atasnya. Ia ingat, kala itu di Singapore. Leon kecil pernah memintanya ke Sea world, tapi dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya membantu Diane.



Sam tiba-tiba memeluknya dari belakang. Wajahnya mendekat ke telinga Lia. Tangan kanannya menunjuk ke seekor ikan pari besar yang melintas di atas mereka.


"Dia terlihat seperti seekor burung di dalam air. Lihat, bukankah itu seperti sayap baginya."


Lia menyingkirkan tangan kiri Sam yang menempel padanya dengan kesal.


Sam tersenyum. Ia tetap mengandalkan kesabarannya menghadapi wanita di hadapannya.


Berjalan keluar dari lorong, Sam memberanikan diri menggandeng tangan Lia. Mereka memasuki sebuah ruangan kosong. Semuanya hanya tembok putih dan sebuah layar di salah satu sisinya.


Tiba-tiba terdengar suara mencericit dan terlihat sebuah gambar di layar. Sam dan Lia sedang berada dalam kepungan para lumba-lumba.


"Aish, benar-benar!" Sam ingin mengumpat, tapi ditahannya. Ia harus bersabar dan bersabar. Mereka keluar dari ruangan itu.


"Aku tidak bisa, Sam. Maaf." Lia menghentikan langkahnya. "Tolong jangan jadikan anak kita sebagai alasanmu. Aku hanya akan memberikan Leon seorang ayah yang benar-benar bisa dia pakai sebagai contoh."


"Apa kau pikir aku tidak layak menjadi contoh baginya? Kau bisa melihat kesuksesanku, kepopuleranku--"


Lia menggeleng, "Bukan hanya tentang itu. Maaf Sam. Aku masih meragukanmu."


"Jadi tak bisakah kau memberikanku kesempatan untuk meyakinkanmu?" tanyanya.


"Silahkan. Apapun hasilnya kau tak berhak untuk memaksaku menerimamu."


Sam yang tak terbiasa menerima penolakan, merasa sangat kesal. Dia sangat ingin mengumpat dan marah. Apakah semua ini karena Radith? Apakah sekarang ia perlu menyingkirkan dokter muda itu? Apa perlu ia mencincang dokter muda itu dan menjadikannya santapan piranha? Berbagai ide gila mulai bermunculan di pikirannya.


Sam menghela napas panjang. Ia berusaha tetap bersabar.

__ADS_1


Mereka terus berjalan. Hingga sebuah akuarium besar memperlihatkan sekawanan pinguin yang lucu.


"Lia, apa kau tahu pinguin adalah hewan yang setia? Dia menikah dengan hanya satu pasangan," lirih Sam di telinga Lia.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, ternyata aku lebih setia daripada mereka. Aku bahkan tidak menikah sampai saat ini hanya karena menunggumu," sahutnya.


"Kau pikir, aku akan mempercayai rayuanmu," sahut wanita itu.


"Dan satu hal lagi. Seekor pinguin akan berteiak keras-keras pada pasangannya jika ia jatuh cinta padanya." lirihnya di telinga wanita itu.


"Berteriak?" tanyanya.


Sam menganggukkan kepalanya. "Cornelia Christa Hartomo, I love you!" teriaknya. Suaranya terdengar sampai seisi hall yang cukup besar itu. Beberapa orang menoleh menatap kedua pasangan yang terlihat aneh itu.


Lia segera menutup mulut Sam dengan tangan kanannya. "Kau benar-benar memalukan, Sam!"


Samuel mengerucutkan bibirnya, mengecup tangan yang menempel menutupi mulutnya.


"Aish!" Lia segera menarik tangannya. Mengusapkan tangannya ke kemeja yang melekat di tubuh Sam.


Sam terkekeh melihat tingkah wanita pujaannya yang terlihat tersipu malu itu. Beberapa orang mulai mengenali Sam dan mulai mengambil beberapa foto mereka.


Mereka melangkahkan kakinya mendekati pintu keluar, ketika melihat Leon dan Nissa sedang duduk di lantai menunggu saat-saat pemberian makan ikan piranha.


Sang ikan predator itu terlihat begitu banyak, cantik dan berkilau disinari cahaya lampu di dalam akuarium setinggi tiga meter. Kecantikannya tak menunjukkan bahwa ikan ini mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk melenyapkan musuhnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Gimana makin seru ga sih, ceritanya...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...


Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰


Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗


사랑 해요

__ADS_1


salang haeyo 😘


__ADS_2