
"Ya, mam. Karena itu aku harus menebus semua waktu yang telah berlalu tanpaku. Aku akan berusaha membahagiakan mereka," sahutnya dengan mantap.
Wanita tua itu berdiri dari kursinya. "Kalian bicarakan dan putuskan bersama. Aku perlu mengistirahatkan punggungku. Ah-- wanita tua ini benar-benar sudah tak sanggup bepergian jauh," katanya sambil berlalu. Diane berjalan menuju kamar Leon. Ia mengintip sang bocah yang mulai mengotak-atik biola barunya.
"Cucu granny, belum tidur?" tanyanya. "Kau membeli biola baru?"
"Om Radith memberikannya sebagai hadiah. Aku rasa biola hadiah dari granny sudah rusak. Mami tak mau mengatakannya padaku," sahut bocah itu.
"Om Radith?" Diane mengerutkan keningnya. Sebuah nama yang asing lagi baginya.
"Dia dokter yang merawat Leon, Granny. Dia sangat baik padaku juga pada mami. Aku hampir lupa. Aku pernah menceritakan Granny padanya. Dan dia mengatakan ingin sekali berjumpa denganmu," celotehnya.
Diane membelai rambut bocah kecil itu sambil tertawa, "Kau pasti menceritakan yang aneh-aneh padanya hingga dia penasaran seperti apa granny Diane."
"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku benar-benar merindukan Granny." Leon memeluk Diane hingga roboh ke atas ranjangnya.
Diane tertawa terkekeh karena ulah cucunya. Diane merasa senang sekali. Dia yang terbiasa hidup sendiri dan selalu disibukkan dengan pekerjaannya bisa kembali tertawa dengan bahagia.
🐧🐧🐧🐧
"Tidak Sam. Aku tidak ingin melakukan sebuah kesalahan." Lia kembali mengatakan kalimat itu dengan tegas.
Kepala Sam tertunduk. Wajahnya terlihat sangat sedih karena penolakan yang lagi-lagi dilontarkan padanya. Kesabarannya pada hari ini tak membuahkan hasil.
Sebuah panggilan telepon mengejutkan Lia. Sam mengangkat ponselnya dan dengan tergesa ia keluar dari rumah itu.
"Jangan ambil resiko, pihak bea cukai sangat teliti. Masukkan itu di dalamnya. Aku tak ingin paket kita berakhir seperti waktu itu!" perintahnya sebelum menutup panggilan teleponnya. Pria itu berdiri dan diam beberapa saat seperti memikirkan sesuatu.
Lia mendengar semuanya dari balik pintu. Matanya membulat karena ngeri. Paket apa yang sebenarnya sed
"Paket? Tentang apa semua ini? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Ray?" Lia menggigit bibirnya.
Sementara Lia masih sibuk dengan berbagai macam hal di pikirannya, tiba-tiba pintu ruang tamu dibuka. Lia yang tidak mempunyai persiapan menjadi begitu terkejut. Pintu itu terbuka dan mengenai kepalanya.
"Aduh!" seru Lia dari balik pintu. Digosoknya keningnya yang terbentur oleh pintu dengan tangannya.
"Kenapa kau ada di sana?" Sam benar-benar tak menyangka bahwa Lia ada di balik pintu.
"Benar-benar ceroboh." Pria itu ikut-ikutan menggosok kepala Lia. "Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku urus."
Lia hanya diam tak menjawab. Ia masih berpikir tentang apa yang baru saja di dengarnya.
__ADS_1
Pria itu berjalan meninggalkannya. Tapi sebelum keluar dari halaman rumah, dia berbalik dan berjalan kembali pada wanita muda itu. Ia mendekatinya lalu mengecup keningnya.
"Aku harap kau mempertimbangkannya, bukan untukmu saja, tapi demi kebaikan Leonard. Putra kita," lirihnya di telinga wanita itu.
🐧🐧🐧🐧
"Semuanya seratus lima puluh tiga ribu rupiah." Sang kasir membacakan total yang tertera di mesin hitungnya.
Pria muda itu memberikan pembayarannya lalu mengambil barang yang sudah dikemas dengan rapi. Ia berjalan ke meja di sudut ruang, menghampiri seorang wanita yang sedang duduk santai di depan laptopnya dengan ditemani secangkir kopi.
"Apa kabarmu, Lia?" sapa pria muda itu.
Wanita muda itu mengangkat kepalanya. "Radith," sapanya. "Aku baik-baik."
"Syukurlah. Leonard?" tanyanya. Pria muda itu kini duduk dihadapannya.
"Semua baik-baik saja, Radith."
"Syukurlah." Pria itu menghela napas. "Jadi apakah Samuel masih tetap mengganggumu?"
"Ah-- dia berusaha mengganti metodenya."
"Aku rasa aku akan berusaha memahaminya, berusaha menerimanya. Karena bagaimanapun juga dia adalah ayah dari anakku, Leonard." jawab Lia.
"Apa kau yakin?"
Lia mengangguk. "Apa kau tetap melihat kegelapan? Apakah semuanya tak ada perubahan? Mungkin ketika kita menjauh, semuanya akan baik bagimu."
Radith tersenyum. "Tidak. Aku tidak melihat adanya sebuah perubahan. Ini masih tetap adalah garis yang ditetapkan oleh alam. Selama ini, aku hanya bisa melihat semuanya terjadi tanpa bisa melakukan sesuatu."
"Jadi, apapun yang kita lakukan hasilnya adalah sama?" tanya Lia.
"Tidak ada yang tahu. Banyak pilihan dalam hidup kita, namun hanya satu cara yang kita tempuh. Kita tak bisa kembali ke titik awal untuk mencoba pilihan yang lain, bukan," sahutnya.
"Ah, sungguh rumit. Aku tetap akan mencoba langkah ini. Semoga dengan menerimanya, ia akan berubah demi putranya." Lia sudah bertekad.
"Kau benar. Pilihlah jalan yang menurutmu paling tepat. Aku akan selalu mendukungmu." Radith berdiri dari kursinya lalu ditepuknya pundak wanita itu.
"Aku harus segera berangkat, shiftku akan segera berlangsung." Dokter muda itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Lia sebelum berbalik dan keluar dari pintu caffee.
__ADS_1
Lia tahu alasan Ray memilih untuk membeli caffee ini setelah menjual perusahaan export importnya. Ray sebenarnya hanya ingin menikmati hidup tenang bersama keluarga kecilnya. Tapi sayang semua hanya angan-angan dan kini menjadi tugas Lia untuk mengurus dan mengembangkannya sendiri.
🐧🐧🐧🐧
"Mami!" suara bocah kecil itu membuyarkan lamunan Lia. Leonard lari masuk ke dalam caffee dan langsung memeluk ibunya.
Lia menghentikan penghitungan neracanya dan menatap bocah kecilnya yang tersenyum ceria. Dibelakangnya Sam mengikutinya.
"Apa kau akan seharian di sini?" tanyanya. Tangannya mengulurkan sebuah buket bunga yang cantik. Beberapa kuntum mawar merah nan cantik dipadukan dengan baby breath.
Lia menerimanya. "Kau tak perlu serepot ini, Sam."
Sam tertawa, "Aku sama sekali tak repot, Lia. Mereka yang merangkaikannya untukku."
Lia ikut tertawa, "Ya, tentu saja bukan kau yang merangkainya. Yang kumaksud, ah-- sudahlah." Lia tak bermaksud melanjutkan perkataannya.
"Sekarang jawab pertanyaanku, apa kau bermaksud menghabiskan harimu di sini?" Sam mengulang kembali pertanyaannya.
"Ya, kurasa aku tak boleh menelantarkan usaha yang ditinggalkan oleh suamiku," sahut Lia.
"Tapi aku dan Leon bermaksud untuk menghabiskan weekend ini dengan berkemah. Apa kau tak ingin bergabung?"
Lia terkejut, matanya membulat dan mulutnya ternganga. Ia tak percaya bahwa bapak dan anak itu telah memutuskan sepihak acara yang akan mereka lakukan.
Sebegitu akrabkah hubungan antara Sam dan Leon? Apakah keputusan yang diambil oleh Lia adalah keputusan yang tepat? Semua demi putranya. Ia harus mengalah demi kebahagiaan putranya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semuanya--
Gimana makin seru ga sih, ceritanya...
Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...
Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰
Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗
사랑 해요
salang haeyo 😘
__ADS_1