Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 36. Tabir Masa Lalu


__ADS_3

Sepasang manusia itu saling bertatapan. Tatapan lembutnya membuat pikiran Lia menjadi semakin galau akan keputusannya. Apakah semua firasat buruknya tentang Sam sebenarnya keliru?


"Tidak, selama ini instingku selalu benar. Aku selalu tepat memilih orang yang bisa dipercaya. Tapi kegigihannya dan sinar matanya, --" Batinnya berbicara pada egonya. "Apakah dia benar-benar menyayangiku dan Leon?"


Dan tak lama kemudian, pria itu menyodorkan punggungnya pada Lia. "Kita kembali sekarang?"


🐧🐧🐧🐧


"Kau benar-benar berat, Lia. Berapa berat badanmu?" tanya Samuel sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak.


Lia memukul punggung lebarnya. "Jangan banyak alasan. Itu hanya kau saja yang lemah, tak bertenaga."


Samuel tertawa terkekeh. Ia yang belum pernah merasakan menggendong seseorang, merasa menyesal karena harus mengalah dan membiarkan Lia menang.


"Sepertinya kita harus melakukan tanding ulang. Kau benar-benar curang, Lia." Napas pria itu mulai terengah-engah.


"Cepatlah kudaku. Berlarilah lebih cepat! Kau benar-benar lambat dan lemah." Lia menepuk punggungnya kembali.


Namun Sam terlihat kelelahan. Ia menurunkan Lia dan terkapar di rerumputan. "Kurasa kau harus diet, Lia."


"Jangan terus menunjukkan kelemahanmu, Sam. Aku sama sekali tak membutuhkan seorang pasangan yang lemah."


"Apa kau bersungguh-sungguh? Aku akan mencatat ucapanmu!"


"Tentang apa?" tanya Lia.


"Pasangan. Suami? Aku anggap itu benar." Sam menggosokkan kedua telapak tangannya dengan bersemangat.


"Tidak, Sam. Bukankah kau mencari seorang pasangan yang anoreksia? Bukankah aku tak memenuhi kriteriamu?" Lia tersenyum seolah menemukan sebuah senjata baru.


"Tidak, tidak. Aku tidak suka wanita yang terlalu kurus," kata Sam sambil tertawa terkekeh.


"Kemarilah. Lihatlah di atas sana." Pria itu menunjuk segumpal awan di langit.


Lia berbaring di sampingnya. Segerombol awan kumulus bertebaran di langit yang mulai terlihat cerah.


"Seperti kawanan domba dengan bulu-bulu halusnya," kata Lia.


"Kau melihatnya seperti kawanan domba?" tanya Samuel. Ia mengerutkan keningnya. "Tapi aku melihatnya seperti banyak bunga sedang bermekaran di langit. Seperti hatiku kini sedang berbunga-bunga."

__ADS_1


Pria itu menggulingkan badannya ke arah Lia. Ia menatap wanita yang wajahnya terlihat terkejut karena gerakannya.


"Tapi diantara begitu banyak bunga, aku hanya menyukai bunga di hadapanku ini," katanya.


Lia begitu gugup, ia segera mengambil sikap hendak bangkit ketika sebuah tangan menahannya. Wajah Lia bersemu merah ketika tiba-tiba Samuel mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibirnya.


"Sebaiknya kita segera kembali ke camp. Leon akan kebingungan mencariku." Lia segera berdiri dan berlari ke arah camping ground yang sudah tak terlalu jauh dari sana.


"Ah-- sial, dia meninggalkan aku." Sam segera berdiri dan berlari menyusul Lia.


"Lia, kau sudah tak ingin digendong?" tanyanya.


Lia menoleh ke belakang, "Tidak, kau terlalu lemah. Aku butuh seorang yang kuat dan tangguh." Lia mengejeknya.


Merasa kesal, Sam mengejarnya dan langsung membopong wanita itu. Lia begitu terkejut ketika sepasang tangan mengangkat tubuhnya.


"Sam, turunkan aku!" teriaknya ketakutan.


🐧🐧🐧🐧


"Mami!" Leonard baru saja bangun dari tidurnya ketika Lia masuk kembali ke dalam tendanya.


Ia merenggangkan tubuhnya di atas pembaringannya.


Lia mengoles beberapa lembar roti gandum dengan mentega dan meletakkan selembar keju slice di dalamnya. Ia juga telah memanaskan air dalam teko elektriknya.


Sam duduk di hadapannya. Ia menyambar satu set roti berisi keju dari hadapan Lia. Yang segera diambil kembali oleh wanita itu.


"Aku sudah membuktikan padamu bahwa aku cukup tangguh bukan?" tanyanya.


Lia berpura-pura tidak mendengarnya. Ia terus mengoles beberapa roti lagi dengan selai stroberi dan coklat kacang.


"Lia," panggilnya untuk mendapatkan perhatian.


Lia tetap tidak menggubrisnya. Ia mencabut kabel teko elektriknya dan mulai membuat beberapa minuman hangat.


"Lia, apa kau masih tetap tak yakin padaku? Setelah beberapa hari kita lewati bersama," tanya Sam pada Lia.


"Entahlah Sam. Bahkan aku tak tahu berapa sendok gula yang kau butuhkan untuk minumanmu pada cangkir ini."

__ADS_1


"Dua. Kita akan mempelajarinya secara perlahan. Aku tak akan mempermasalahkan masalah kecil," kata Sam. "Biar aku menyelesaikan semua masalah lainnya. Aku hanya ingin kamu berada di sisiku. Mendampingiku."


Lia diam tak menjawab. Tangannya sibuk menakar dan mengaduk cangkir berisi minuman panas itu.


"Lia. Pikirkanlah Leon. Dia mendambakan ayahnya. Ijinkan aku menjalankan peranku." Kali ini Sam memegang tangan Lia. Ia menghentikan tangan yang terus sibuk di atas mejanya.


"Aku akan memberikan keputusanku setelah kau menjawab pertanyaanku," sahutnya. Sepasang mata bulatnya menatap tajam pria di hadapannya.


"Tanyalah, aku akan menjawab sebisaku."


"Bukan sebisamu, tapi sejujurnya." Lia memotong perkataannya.


Pria itu hanya mengangguk-angguk tanda menyetujuinya.


"Setelah malam pertama kita bertemu, apa kau mencariku? Bagaimana kau mencariku? Atau kau benar-benar melupakan aku?" tanya Lia.


Sam tersenyum, ingatannya kembali pada malam itu. "Lia, aku bahkan tak tahu namamu. Aku hanya tahu seorang gadis SMU yang sedang mabuk terus menggangguku. Dan memintaku untuk membawanya."


"Stop, itu bukan jawaban atas pertanyaanku." Lia terlihat sangat kesal.


"Baiklah." Sam menggaruk ujung hidungnya yang runcing. "Aku tak bisa melupakanmu. Tapi pengaruh alkohol membuat samar ingatanku. Aku hanya mengingat tatto lebah di tengkukmu, parfum dan hangat tubuhmu."


"Aku mencarimu, bahkan aku membeli sebuah rumah di kota ini. Berharap bertemu kembali dengan lebah kecilku suatu saat. Namun-- kau seperti lenyap di telan bumi," cerita Sam.


"Apa kau kira aku akan percaya? Bahkan kau bisa mencari wanita lain. Sangat tak mungkin jika kau sendiri hanya karena menungguku." Lia tertawa merasa cerita Sam terlalu berlebihan.


"Bagaimana jika aku tak lagi tertarik pada wanita lain?" tanya Sam. "Sebenarnya aku juga berpikir kau terlalu aneh. Saat kau mengetahui bahwa kau hamil, mengapa kau tak mencariku, meminta pertanggungjawaban seperti apa yang gadis lain lakukan. Mengapa kau menghilang?"


Lia tersenyum, "Apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisi Lia. Depresi, kebingungan, desakan dari keluarga, dan mungkinkah aku meminta pertanggungjawaban dari seorang artis?"


"Karena aku menyadari kesalahanku. Kau adalah seorang artis. Tentu saja aku akan dianggap seorang gadis yang tak tahu diri dengan notabene penumpang popularitas. Ckckck... bagaimana pula jika kau tidak mengakui kejadian malam itu?"


🐧🐧🐧🐧


Makasih banyak atas dukungan kalian. Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ buat dimasukin ke pustaka kalian - klik 👍 di akhir bab and vote, ya. Eh, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya...


Semakin banyak 👍 dan komentar kalian, author bakal tambah semangat buat up dan up lagi... 🥰🥰🥰


Like dan komentar kalian begitu berarti bagiku. 🤗🤗🤗

__ADS_1


사랑 해요


salang haeyo 😘😘😘


__ADS_2