Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 55. Ujian Masa Lalu


__ADS_3

Samuel tertawa. "Menukar dia? Tidak. Apa kau bercanda?"


"Jadi serahkan dia padaku."


"Tunggu, tunggu." Sam mendekati pria itu. Ia mengerutkan kening, "Katakan padaku ada apa sebenarnya. Apa kau hendak melakukan sesuatu sehingga membuatnya takut dan kabur darimu?"


Aleandro tertawa, "Apa pedulimu? Dia hanya wanita yang sudah kubeli. Seharusnya dia melayaniku dengan baik."


Wanita itu bersembunyi di balik badan Lia. Ia tampak ketakutan dan butuh perlindungan. Black mendekat pada Sam, menjadikan dirinya tameng bagi Lia.


Sam melihat wanita yang masih berlindung di belakang istrinya. "Nona, benarkah itu?"


"Tidak. Aku tidak ingin bersama dia." Wanita itu menggelengkan kepalanya. Suaranya terdengar tegas namun bergetar.


"Jadi Aleandro, apa kau ingin menyelesaikannya bersama mereka?" Sam menunjuk sebuah mobil patroli polisi yang terparkir di pinggir jalanan pantai Kuta.


"Kau pikir aku takut? Dia mempunyai sebuah ikatan kontrak denganku," pria itu tertawa keras sebelum membelalakkan matanya pada wanita yang berdiri di belakang Lia. "Alexa, apa kau akan mengakhiri hidupmu di tahanan?"


Black membalikkan badannya. Sebuah nama yang tak asing baginya. Sebuah nama yang sudah terukir dalam hatinya bahkan selalu menjadi penghuni dunia mimpinya. Alexa. Diakah cinta pertamanya?


Wanita itu mengangkat kepalanya, air matanya membasahi pipinya. Ia berjalan perlahan pada pria yang sedang tertawa dengan begitu kerasnya seolah menertawakan kebodohannya. Wajahnya terlihat begitu pasrah.


Black masih tercengang menatap wanita yang kembali terperangkap itu. Sam menepuk pundaknya, menyadarkannya kembali pada sang realita kehidupan. Alexa? Apakah dia masih hidup? Bagaimana bisa dua orang wanita semirip itu.


Hingga saat tidur tiba, Black masih teringat wajah wanita itu. Wanita yang memohon agar diselamatkan. Namun terpaksa harus kembali dalam perangkap pria bernama Aleandro.


Ia membaringkan tubuhnya di sebelah bocah kecil yang sudah terlelap dalam tidurnya itu. Ia mencoba memejamkan matanya, mengistirahatkan fisik dan pikirannya. Namun bayang-bayang wanita itu kembali menari di hadapannya.


"Nicholas!" gadis berseragam putih abu-abu itu mencubit gemas pipi Black. "Sebentar lagi kita akan segera lulus. Tapi aku rasa itu akan merupakan perpisahan bagi kita."


"Apa kau akan sekolah di tempat yang jauh?"


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya, aku ingin pergi dari rumah bersamamu. Kita kawin lari, yuk!" lirih gadis itu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya membentuk sebuah corong.


"Kau bergurau? Bahkan aku tak akan bisa memberikanmu kehidupan yang layak. Aku bukan berasal dari keluarga berada, seperti yang kau ketahui."

__ADS_1


Gadis itu menatapnya dengan wajah sedih. "Jadi sebaiknya kita tidak bertemu lagi."


Black menatap punggung gadis yang berjalan semakin jauh darinya. Seorang pria tersenyum miring, berdiri di hadapan sang gadis. Alexa menoleh untuk yang terakhir kalinya sebelum menghilang dari hadapannya.


Black terbangun. Nafasnya memburu. Sebuah mimpi buruk lainnya. Alexa. Alexa dan Alexa, bayangannya tak pernah menghilang dari otaknya.


Ia merapikan selimut, menutupi badan tuan kecil yang terlelap di sisinya. Sejenak dia tersenyum, seandainya dulu ia menerima ajakan Alexa untuk kawin lari, mungkin ia sudah mempunyai seorang anak sebesar Leon.


Pria itu kembali merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit ruang kamar. Ia mencoba memejamkan kembali matanya.


"Kau harus meninggalkannya, Alexa bukan gadis baik-baik. Aku pernah melihat dia sedang bersama om-om." Dika mencoba memperingatkan Black.


Tapi sebuah pukulan melayang, mendarat tepat di tulang pipi sahabatnya itu. Dika yang tak menyangka akan menjadi sasaran kemarahan sahabatnya, terhuyung karena kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"Nich, kau tidak boleh dibutakan oleh rasa cintamu. Sadarlah. Apa alasannya dia meninggalkanmu? Karena uang atau karena hal lain?" Dika masih berusaha menyadarkan kawan sejak kecilnya itu. Sementara tangan kirinya memegang pipinya yang terasa berdenyut dan nyeri.


Tiba-tiba bayangan Alexa lewat di depannya, sedang bergandengan tangan dengan seorang pria yang lebih pantas menjadi ayahnya.


"Lexa!"


Black terbangun dari mimpi buruknya. Sinar mentari masuk melalui celah korden, terdengar kecipak air dari arah kolam renang di depan kamar. Black menghela nafas, ia benar-benar merasa bersalah. Ia kehilangan semua teman baiknya karena Alexa. Namun sekarang bahkan dia tak tahu dimana wanita itu berada.


🐢🐢🐢


"Kau tidak bosan melihat laut, Leon?"


"Tidak. Aku menyukai suara deburan ombak dan menangkap buihnya dengan kakiku," sahut Leon dengan bersemangat.


"Jadi, apa kau ingin menghabiskan waktu hanya di pantai hari ini?"


"No," kata Leon. "Daddy harus memperlihatkan padaku tempat-tempat unik lainnya."


Samuel tertawa, "Oh, baiklah boss kecil. Aku akan mengajakmu ke tempat lain." Sam terlhat berpikir, "Apa kau belum bosan dengan kegiatan air?"


"Daddy, aku tak akan pernah bosan dengan air. Bahkan setiap hari aku mandi dengan air. Gimana sih, Daddy." Leon merasa kesal dengan pertanyaan ayahnya.

__ADS_1


Lia menahan tawa mendengar jawaban Leon. Jawaban yang lucu namun sepenuhnya adalah benar.


"Jadi katakan padaku, kau ingin mengajaknya kemana, Sam?" tanya Lia.


"Permainan air. Banyak permainan air di daerah ini. Kita bahkan tinggal pilih. Kau ingin Waterbom atau Canggu Watersport?" Sam memberikan opsi wisata.


"Baiklah kita ke Canggu. Aku lebih memilih yang lebih dekat dengan akomodasi kita." Lia menyampaikan keputusannya.


"Yeay!" Leon bersorak kegirangan.


🐢🐢🐢


Membeli tiket dan masuk ke dalam wahana. Mereka berempat terlihat bersemangat dalam menikmati harinya.


Leon segera mengganti pakaiannya tak lupa kacamata renang menempel di dahinya. Setelah Lia mengoleskan sunblok pada Leon dan suaminya, mereka segera berlalu.


Lia menatap kedua ayah dan anak itu bermain dengan penuh suka cita. Sementara Black dengan tatapan serius memandang ke segala arah, memastikan keamanan daerah ini.


Lia terkejut ketika ia melihat wanita yang dijumpainya semalam. Wanita cantik berkulit putih itu menundukkan kepalanya seakan menutupi sebuah luka memar di tulang pipinya.


Lia melihat sekelilingnya dengan seksama, memeriksa adanya pria yang ditemuinya semalam. Tapi dia tidak ada.


Lia berdiri dan berjalan menghampirinya. Black mengikuti langkah Lia, ia sedang menjalankan tugas utamanya. Namun lagi-lagi ia dikejutkan oleh seseorang yang terus merongrongnya dalam pikiran hingga ke alam mimpinya. "Alexa!"


"Alexa? Kau masih ingat aku? Mengapa kau disini? Apa kau menunggu dia atau kau kembali melarikan diri dari dia?"


Wanita itu tersenyum. "Aku tak akan bisa lari dari dia. Aku bahkan tak berhak atas nyawaku juga."


Black berusaha bersuara, dengan kata-kata yang minim dan gerakan canggung. "Apakah kamu Alexa Wijaya?"


.


.


.

__ADS_1


Ah, udah bab 55. Masa lalu Black akan kita kupas tuntas. Black yang misterius. Semisterius namanya. BLACK.


Jangan lupa klik like, komen dan vote ya.


__ADS_2