Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 62. Koma


__ADS_3

"Aku harus mengetahui siapa tikus itu." Lia masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Wajahnya masih terlihat pucat.


"Lia, setidaknya makanlah bubur ini dulu." Lexa berusaha menahannya.


Wanita itu tak menghiraukannya, ia melambaikan tangannya. Sejenak dia menoleh. "Sam. Kau ada pertemuan dengan seorang musisi di studio setelah makan siang. Jadi sementara aku mengurus tikus itu, aku minta bantuan Black untuk menjemput Leon pulang dari sekolahnya."


"Baiklah. Aku akan mengantarmu ke kantor." Black bersiap untuk berangkat.


.


"Aku akan berjalan dari sini." Lia dengan kesal membuka pintu mobilnya. Sejenak ia menatap barisan mobil di depannya.


"Hahh... ini akan memakan waktu yang lama. Pastikan kau langsung ke sekolah Leon," pesannya sebelum meninggalkannya.


Stilettonya beradu dengan kerasnya trotoar yang dilaluinya. Sesekali ia menghela nafas. Ia tak pernah menyangka akan menerima berita seperti ini belum lama setelah menerima kuasa pengalihan hak dari ayahnya.


Pikirannya terus melayang sepanjang perjalanan ke kantor ayahnya. Bagaimana ia harus mempertanggungjawabkan semuanya pada ayahnya.


Dengan langkah-langkah panjangnya ia bergegas menyeberangi melalui zebra cross saat tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya.


Beberapa orang berlarian bergegas menghampirinya. Tubuhnya terkulai lemah di atas jalanan keras berwarna hitam itu.


.


"Apa! Tidak. Saya akan segera kesana."


Tangan kekar pria itu bergetar kala menutup panggilan telepon. Ia segera memutar balik kemudinya di sebuah persimpangan.


"Tidak, Lia. Tidak!" serunya sambil memukul kemudinya dengan kesal.


.


"Ray?"


Pria bertubuh jangkung itu menoleh. "Pergilah! Kau tidak boleh kemari! Leonard masih membutuhkanmu."


"Tapi, bagaimana caraku untuk kembali?" tanya Lia kebingungan.

__ADS_1


"Lia, pergilah. Sebelum semuanya terlambat." Ray mulai mendorong tubuhnya.


"Tapi Ray..."


Ray mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh. Ketika Lia menengok ke belakang, pria itu telah menghilang. Sebuah ruangan rumah sakit dengan monitor yang terdengar berdetik. Ia menatap tubuhnya sendiri yang terbaring tak berdaya.


Seorang dokter dan dua orang perawat terlihat menghela nafas lega. "Dok, syukurlah. Pasien sudah kembali bernapas."


"Sus, terus pantau dan beri kabar padaku hingga suaminya tiba." Dokter itu melepaskan sarung tangan karetnya dan keluar dari ruang ICU.


^^^"Apa itu aku? Bagaimana aku bisa kembali ke tubuhku?"^^^


"Pertanyaan yang bagus." Suara bariton itu seperti suara seseorang yang kukenal.


"Kau, kenapa kau ada di sini?" tanya Lia. Wanita itu menatapnya seakan tak percaya.


Radith tersenyum. "Kita sedang koma."


"K-kita?"


"Kau ingat saat pertemuan terakhir kita? Perjuanganku belum selesai. Mungkin ini adalah kegelapan yang ada di dalam mimpiku. Dan sebuah jodoh, yang kembali mempertemukan kita," lanjutnya.


"Jadi kita hanya akan menjadi jiwa yang berkelana seperti ini? Sampai kapan? Banyak hal yang masih harus aku selesaikan." Lia terus bertanya.


Tak lama kemudian perhatiannya beralih pada seorang pria yang berlari menghampiri tubuhnya. "Lia, bangun. Bangun sayang. Aku masih membutuhkanmu. Cita-cita kita belum sepenuhnya terwujud."


Seorang perawat menghampirinya. "Pak, Dokter Andre ingin berbicara mengenai istri Bapak. Beliau menunggu anda di ruangannya."


Dengan kebingungan, jiwa Lia mengikuti Sam ke ruangan sang dokter. Tapi Radith mencegahnya. "Sebaiknya jangan. Biarkan yang hidup merawat raga kita hingga siap di tempati kembali."


Wanita itu jatuh terduduk, ia meraba perutnya. "Apa dia sudah pergi?"


Radith menghela napas. "Rahasia alam. Aku tak dapat membantumu, Lia."


Melihat wanita cantik itu merenung, Radith mengulurkan tangannya. "Kau tahu, aku benar-benar merasa kebosanan. Berada di rumah sakit sendirian tanpa bisa berinteraksi dengan manusia lainnya. Hanya berinteraksi dengan jiwa-jiwa sedih yang terlihat menderita karena tak memiliki raga."


Wanita itu menatapnya, ia tak mengerti maksud perkataan Radith.

__ADS_1


"Kita keluar dari sini. Mari kita nikmati perjalanan kita sebagai jiwa hingga cangkang kita siap untuk di huni." Radith tersenyum menatapnya.


Lia menerima uluran tangannya. Setidaknya ia tak boleh terus bersedih. Ia harus bersemangat dan kembali hidup untuk keluarganya. Lagi pula tak akan ada suatu bahaya bagi jiwa tanpa tubuh untuk bertualang.


Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya keluar, seorang bocah kecil dengan tas ransel dan sebuah hardcase di tangannya berlalu di hadapannya. Tatapan matanya sangat sendu.


Lia menghentikan langkahnya. Ia mengikuti langkah kecil bocah laki-laki di depannya. Tas ransel berwarna kuning itu kembali mengingatkannya pada peristiwa yang telah berlalu.


"Mami suka warna apa?" tanya sang bocah.


"Yellow! Seperti sinar matahari yang memberikan semua makhluk kehidupan di dunia," jawab Lia saat itu.


"Jadi, aku akan memilih backpack warna yellow. Karena buku-buku itu seperti matahari yang akan memberikan penerangan bagi kehidupanku nanti." Leon menunjuk sebuah tas ransel berwarna kuning cerah di rak paling atas.


"Anak pintar!" Lia membelai rambut putranya sambil menunjuk tas di rak teratas pada sang pramuniaga.


^^^Air matanya menetes. Leon, matahariku. Dia benar-benar sedang bersedih. Bagaimana bisa aku bersenang-senang.^^^


Dengan sabar Radith mengikuti mereka dari belakang. Melihat sang bocah kecil menggenggam tangan ibunya yang bagaikan tertidur lelap. Mengecup pipinya dan duduk tenang di dekatnya.


Radith menepuk pundaknya. "Hati yang gembira adalah obat, namun semangat yang patah akan mengeringkan tulang. Kau harus bersemangat dan bergembira agar dapat kembali memeluk putramu."


Pria itu kembali mengulurkan tangannya dengan sebuah senyuman manis di bibirnya. "Kali ini percayalah padaku. Dan kita akan segera keluar dari koma bersama-sama."


Lia menatapnya dengan ragu.


.


.


.


Bantu like dan komen yaa... Biar author semangat buat up lagi. Dan jangan lupa baca next novel baper spesial for you dari Choco "Bucin Si OB Cantik."


Jan lupa di like dan love. 😘


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2