Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 23. Ledakan


__ADS_3

Mereka saling menatap, saling menjelajahi alam pikiran mereka masing-masing. Menyelami perasaan terdalam dalam hati mereka bersama detak jantung mereka yang semakin bergemuruh.


Lia segera sadar dan mendorong tubuh Sam. Namun Sam terlalu kuat untuk dilawannya.


"Sadarlah. Aku sudah menikah." Tolak Lia. "Jauhi aku, aku tak ingin suamiku salah paham."


"Berikan aku satu alasan, mengapa kau lebih memilih dia." Sam masih tidak melepaskan pelukannya.


"Karena dia yang lebih dulu memintaku menikah dengannya, jadi aku --"


Kata-kata Lia terputus saat Sam tiba-tiba memagut bibirnya dengan lembut namun penuh gairah. Jantung mereka semakin riuh, seperti sebuah gendang yang ditabuh bertalu-talu.


"Sam, kita tak seharusnya berbuat se--"


Sam tak memberikannya kesempatan menjelaskan bahkan mengatakan sebuah penolakan. Dikecupnya kembali bibir yang hendak menolaknya dengan penuh gairah.


Sam paham apa yang hendak disampaikan Lia. Dia sudah terlambat dan mereka tak seharusnya melakukan hal ini. Tapi dia tak ingin menyesal dengan melewatkan kesempatan ini.


"Aku mencintaimu Lia. Aku akan menunggu, hingga kau dapat menerimaku. Sampai kapanpun," lirihnya.


Lia berhasil mendorong tubuh Sam menjauh darinya, tepat ketika sebuah suara lembut memanggilnya.


"Mami..."


Leon menatap kedua orang tua kandungnya itu dengan tatapan aneh. Apakah mereka bertengkar?


"Mr. Sam, aku sudah siap, apa kita berangkat sekarang?" tanyanya.


"Ya, ijinlah dulu pada ibumu."


Tiba-tiba sebuah panggilan telepon mengagetkan mereka. Sam segera mengangkat gawainya.


"Baiklah. Ikuti mereka secara diam-diam. Laporkan padaku." Terlihat kemarahan di raut wajahnya. Tapi wajah itu kembali tenang ketika berhadapan kembali dengan Leon dan Lia.


"Kau sudah selesai berpamitan? Ayo kita berangkat." Sam menggandeng tangan bocah berusia tujuh tahun itu.


🐥🐥🐥🐥🐥


"Lia, aku berhasil menemukan pamanku!" kata Ray melalui gawainya. Suaranya terdengar begitu gembira seperti mendapatkan secercah harapan.


"Ray, kau dimana?" tanya Lia.


"Aku ada di pesisir, Lia. Pamanku melarikan diri, dia ketakutan karena barang paket ilegal itu."

__ADS_1


"Paket ilegal itu, apakah ada bersama pamanmu? Sebaiknya kau ambil supaya mereka tak terus mengganggumu, Ray."


"Pamanku tidak mau menceritakannya, Lia. Dan aku tak tahu lagi harus berbuat apa."


Tiba-tiba terdengar suara letusan dari kejauhan.


"Ray, Ray. Kau masih di sana?" teriak Lia.


Ray berlari ke asal suara letusan sementara ia masih berusaha mendengarkan suara istrinya dari dalam gawainya.


Tapi signal terlalu buruk di daerah pesisir. Ray menutup gawainya dan fokus untuk mencari pamannya.


Ray menghampiri tiga pria berbadan besar itu, mereka seperti sedang mendiskusikan sesuatu.


"Apa yang kalian lakukan?" Ray berteriak menghentikan mereka ketika melihat pamannya berada di antara mereka.


Seorang dari pria itu, mengacungkan pistolnya pada paman Ray. Tapi pria tua itu hanya diam menatap mereka, tanpa berkata apa-apa.


"Dimana kau simpan paket kami?" tanyanya dengan suara bass yang tak nyaman di telinga.


"Barang itu kumusnahkan. Kalian benar-benar membahayakan perusahaan kami," kata-kata yang sama, yang telah diungkapkannya pada Ray.


"Sial!" seru seorang dari mereka.


"Baik boss." Pria itu menutup teleponnya.


Mereka membiarkan pria tua itu berlalu dari hadapan mereka. Pria tua itu kembali berjalan ke arah rumah kapalnya. Ia menyalakan mesin dan mulai bergerak meninggalkan tepi pantai.


Selang beberapa saat kemudian, salah satu dari ketiga pria itu mengangkat pistolnya dan menembak perahu itu. Sebuah ledakan dahsyat terlihat, tak lama kemudian api berkobar menghabiskan seisi rumah kapal itu.


Ray jatuh berlutut. Lututnya terasa lemah, tak dapat menopang badannya. Dia merasa bersalah karena merasa telah menjadikan pamannya sebagai korban.


Ketiga pria itu melangkah dengan tenang kembali ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Ray terus berpikir, menyatukan sejumlah puzzle yang telah terkumpul di kepalanya. Saat ini pemilik paket ilegal telah mengetahui bahwa barangnya telah dimusnahkan oleh pamannya. Alasannya mungkin karena pihak pabean mencium hal yang tak wajar dan melakukan pemeriksaan.


Tapi, apakah ia akan menerima kehilangannya dengan hanya meluapkan kemarahannya pada pamannya dengan cara meledakkannya?


Ray mengendarai mobilnya kembali pulang. Hari telah larut malam, ketika mobil Ray berhenti di depan kediaman Savero.


Lia membuka pintunya ketika mendengar mesin mobil dimatikan. Senyumnya mengembang ketika melihat suaminya turun dari mobilnya dalam keadaan selamat. Dan ia pun berlari menyambutnya.


"Kau baik-baik saja? Kau benar-benar membuatku cemas," kata Lia. "Bahkan aku tak bisa menghubungimu tadi. Ada apa, suara letusan apa itu?"

__ADS_1


"Semoga suara itu adalah akhir dari segala kerumitan masalah ini," sahutnya. Ia benar-benar lelah untuk menjelaskan peristiwa yang telah dilaluinya. "Aku perlu membersihkan diri setelah melalui segala kekacauan ini."


🐥🐥🐥🐥🐥


"Jadi, apa kau belum pasti mereka tak akan mengganggu kehidupan kita lagi, Ray?" tanya Lia setelah mendengar cerita Ray.


Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Ray menghela napas, setelah pencarian selama dua hari dan sebuah peristiwa mengejutkan di akhir harinya, akhirnya ia bisa berkumpul kembali dengan istrinya tercinta.



"Aku harap begitu, aku tak tahu lagi apa yang akan mereka tuntut dariku jika mereka datang menangkapku lagi," sahutnya. "Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersama istriku yang cantik."


Pria itu mengecup bibir istrinya. Sementara tangannya mulai membelai lembut tubuhnya. "Apa kau merindukanku?" lirihnya.


"Tidak Ray!" sahutnya. "Aku sangat merindukanmu."


Kedua insan itu saling berpagut dan tenggelam dalam kerinduan mereka malam itu. Perpisahan mereka selama dua hari, terlunaskan malam ini. Dalam kesunyian, hanya detak jam dinding yang terdengar beriringan dengan napas mereka yang memburu.


🐥🐥🐥🐥🐥


"Ray,"


Pagi itu, Ray membangunkan Lia dengan belaian tangannya. Setelah lama ia bertahan dengan hanya memandang wajah cantik istrinya ketika lelap dalam tidurnya.


"Kau terbangun, sayang?" tanyanya, memastikan.


Masih dengan rasa enggan, tanpa membuka mata, Lia tersenyum dan menganggukkan kepala.


Ray memagut bibirnya, mendaratkan kecupan di tubuh wanita yang telah dinikahinya itu. Wanita itu menggelinjang dan mulai membalas pagutan mesra suaminya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai semuanya--


Kali ini Chocoberry bikin karya baru dan karya ini aku ikutkan pada lomba anak geniusnya Noveltoon.


Khas tulisan Choco ya... uwu dan bikin baper, tapi ringan ga bikin masalah hidup yang udah berat semakin berat. Ehem...


Ikutin terus dan jangan lupa tap ❤ - klik 👍 and vote. Eh dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya... Komentar kalian adalah motivasi untukku.


사랑 해요


salang haeyo 😘

__ADS_1


__ADS_2