
Lia melambaikan tangannya pada Leon. Sebuah senyuman melengkung di bibirnya. Sejenak ia diam, menunggu hingga putranya tak lagi terlihat dari halaman sekolah.
Lia berjalan kembali ke mobilnya. Dari sudut matanya, ia melihat seorang pria berpakaian hitam menatap tajam ke arahnya. Dengan segera Lia masuk ke dalam mobil dan menguncinya.
Pria itu mengejar dan sempat mengetuk kaca mobilnya. Tapi Lia begitu ketakutan, ia segera mengemudikan mobilnya pergi dari lingkungan sekolah.
Sebentar kemudian, dia melambatkan mobilnya dan melakukan panggilan pada wali kelas Leon. "Miss Pritha, ada seseorang yang mencurigakan mengejarku dari gerbang sekolah. Aku mohon, lindungi Leon. Jangan biarkan siapapun menjemputnya selain aku atau ayahnya."
Miss Pritha tertegun mendengar kalimat yang diucapkan secara panjang tanpa salam pembuka itu. Dia tak sempat menjawab sepatah katapun hingga terdengar suara jeritan Lia. "Oh my God. Dia mengejarku. Tolong bantu jaga Leon, miss. Aku mengandalkanmu."
Lia menutup panggilannya dan kembali fokus pada perjalanannya. Ia harus menghindari kejaran pria berpakaian serba hitam itu.
Lia tak pernah membayangkan akan terlibat aksi kejar mengejar seperti di film action yang sering ia tonton bersama Leon. Ia benar-benar ketakutan. Pikirannya hanya satu, mencari tempat yang ramai. Dimana tempat ramai yang terdekat dari sana.
Sebuah bangunan berwarna putih berlantai empat, rumah sakit tempat Radith bekerja. Berharap seseorang yang bisa diandalkan bisa melindunginya selagi Sam tak ada di dekatnya.
Ia menghentikan mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah sakit itu, menabrak seorang dokter muda yang langsung mengenalinya.
"Lia?"
"Seseorang mengejarku." Wanita itu terlihat sangat panik dan gugup. Ia hendak kembali berlari ketika Radith menarik lengannya untuk masuk ke dalam kantornya.
"Ssst..." Radith menutup mulutnya dengan satu jari telunjuknya ketika melihat seorang pria dengan kostum hitam-hitamnya. Lia dengan tubuh bergetar mengangguk tanpa bersuara.
Black mengetuk pintu ruang kerja Radith. Lia menjadi semakin panik. Apa yang harus dilakukannya sekarang agar bisa lolos darinya. Dia tak bisa kemana-mana.
Mereka berdua diam dan saling memandang dalam kebisuan yang menegangkan. Tiba-tiba terdengar suara yang keras. Pintu itu sedikit begerak. Pria itu berusaha mendobrak pintu ruang kerja Radith. Lia segera bersembunyi di bawah meja kerja Radith.
__ADS_1
Pintu terbuka dengan lebar. Salah satu engselnya terlepas dari tempatnya. Sepasang mata Black menatap sekeliling ruangan. Radith berdiri tegak, sementara pandangan matanya tajam menatap sosok pria di depan pintu ruang kerjanya.
Pria itu tersenyum miring sambil mengerutkan keningnya. "Kau menyembunyikannya?"
"Menyembunyikan siapa?" tanya Radith membalasnya dengan sebuah senyuman yang terlihat sangat kaku. "Kau telah merusak propertiku. Pergilah sebelum aku memanggil polisi."
Pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan. "Kau pikir kau bisa menggertakku?" Tawanya memecah kesunyian rumah sakit itu.
Lia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Ia memekik tertahan ketika sepasang mata itu berhasil menemukannya yang bersembunyi di bawah meja.
Black menarik kursi yang menutupinya, meraih tangan Lia dan menyeretnya keluar dari sana. Lia meronta saat pria itu menggenggam tangannya dengan begitu erat.
Radith melepaskan sebuah pukulan ke wajah Black, tepat di rahang kirinya. Black melepaskan tangan Lia, ia mengusap rahangnya yang terasa berdenyut sambil tertawa pelan. Sepasang matanya yang tajam menatap Radith, seolah mendapatkan seorang korban baru.
Lia menjauh, berlindung di belakang Radith yang mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan perlawanan.
Tangan kanan Black mengepal melayangkan sebuah pukulan ke wajah Radith. Dengan refleks yang baik, dokter muda itu berhasil menghindarinya. Namun ia tak menyangka, tangan kiri Black akan memberikan pukulan berikutnya.
"Ta-tapi --" Lia merasa ragu meninggalkan sebuah kekacauan untuk Radith. Tapi ia segera menyingkirkan keraguannya ketika sebuah pukulan lainnya kembali bersarang di rahang kanannya. Tubuh Radith terhuyung mundur ke belakang, membentur sebuah lemari yang berdiri tepat dibelakangnya.
Black mengejar Lia yang berlari keluar dari rumah sakit. Beberapa perawat yang berpapasan dengannya menghindar. Mereka enggan berurusan dengan pria garang yang terlihat mengejarnya.
Jarak mereka semakin dekat. Black menarik rambut panjang wanita itu. Ia tertawa terkekeh saat melihat Sam muncul di depan pintu rumah sakit.
"Black. Lepaskan dia. Aku akan memberikan apapun sebagai gantinya." Sam berusaha merayu pria itu.
Black tertawa terkekeh. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan menempelkannya di leher Lia.
"Uh-- suami tercintamu datang." Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Lia. Badan Lia bergetar karena rasa takut yang teramat sangat.
__ADS_1
"Jangan gegabah, Sam. Aku tak akan segan-segan menghabisinya." Black menggertaknya.
"Sam, tolong aku." Lia memohon dengan suara bergetar ketakutan.
"Jangan takut wanita cantik, aku akan melepaskanmu setelah keinginanku tercapai," lirih pria itu di telinga Lia. Lia meneteskan air matanya ketika Black tiba-tiba menyerang tengkuknya dengan lidahnya.
Sam melihat Radith berjalan mengendap di belakang mereka. Namun hatinya sudah terlalu panas dan kacau melihat perlakuan Black pada istrinya. Ia mengeluarkan revolvernya dan memuntahkan sebuah timah panas pada Black.
Black yang sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini dengan mudahnya menghindar. Ia tertawa terkekeh ketika tembakan itu meleset dan mengenai seorang pria di belakangnya. Radith!
Pria itu tumbang dengan darah keluar dari perutnya. Para perawat yang berada di ruangan itu berteriak karena kaget.
Black melangkah ke arah pintu, dengan begitu tenang, tangannya tetap mengarahkan pisau lipat itu ke leher Lia. "Silahkan tembak. Kali ini kau akan mengenai istri tercintamu."
Lia menatap Sam, wajahnya telah berubah pucat karena ketakutan. Pandangannya seakan memohon dengan sangat, "Tolong, selamatkan aku."
Sam menatapnya dengan wajah memerah karena marah. Sementara para perawat segera menolong Radith. Kegelapan, apakah ini merupakan jawaban pengelihatan yang telah digariskan alam untuknya. Takdir.
Sam kembali menyalakan pelacaknya. Urusan ini belum selesai. Ia harus menyelamatkan istrinya.
"Brando. Aku butuh bantuanmu!" Sam menghubungi tangan kanannya melalui ponselnya.
🐾🐾🐾🐾
Lia duduk dan samping Black yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang. Kedua tangannya terikat oleh sebuah lakban hitam berukuran dua inchi. Wanita itu tampak menangis karena ketakutan.
"Ow... wanita cantikku menangis." Pria itu tertawa menyeringai. "Berhentilah menangis. Aku akan membahagiakanmu lebih daripada Sam."
"Lepaskan aku. Kumohon. Bahkan aku tak tahu apa kesalahanku padamu."
__ADS_1
Black menatap wanita itu dengan senyum miringnya. "Satu kesalahan kamu. Menikah dengan orang yang salah."
Mobil itu tiba di sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang dijaga oleh dua orang pria berbadan besar. Setelah memarkir mobilnya, Black menyeret dan mendorong Lia masuk ke sebuah kamar pengap di samping rumah induk.