
Sebenarnya aku mempunyai sebuah cita-cita sejak masa kecilku." Sam merebahkan dirinya di atas pembaringannya yang empuk. Kedua tangannya menopang di belakang kepalanya. Pandangan matanya menatap langit-langit ruang kamarnya yang berwarna indigo.
Lia menghampirinya, berbaring di sebelah suaminya dan menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya. Ia menatap wajah suaminya yang seperti sedang menerawang jauh dengan penuh rasa ketertarikan.
"Jadi ceritakan padaku cita-citamu."
"Aku mengimpikan sebuah peternakan perkebunan di sebuah tempat yang terpencil dan penuh kedamaian." Sam balas menatap istrinya.
Wanita muda itu tersenyum. "Sam. Kita sudah mempunyai banyak kesibukan di sini. Tapi--"
Sam mengangkat kedua alisnya, menunggu kelanjutan kalimat yang keluar dari bibir cantiknya. "Aku rasa itu akan sangat menyenangkan. Senin hingga Jumat kita habiskan waktu kita dengan pekerjaan kota, sedangkan weekend kita habiskan di rumah pedesaan kita."
Sam mengecup kening istrinya dengan lembut. "Terima kasih, kau selalu mendukung keinginanku, Sayang."
Sam meredupkan lampu di sebelah nakas. "Dan kembali ke rencana kita sebelumnya, memberikan adik untuk putra kesayangan kita."
"Sam." Lia menggeliat ketika sepasang tangan suaminya bergerak di atas permukaan tubuhnya. Sam mengecup bibirnya dengan gemas mengawali permainannya malam itu.
Sentuhan-sentuhan lembut di tubuhnya memacu gairahnya. Wanita itu menggigit bibirnya sendiri menahan lonjakan gairah yang muncul secara tiba-tiba. Sementara buku-buku jarinya menggenggam lengan suaminya dengan kuat.
Suara nafas yang tak teratur terdengar bersama dengan suara lirih erangan Sam ketika mereka telah mencapai puncaknya. Rasa perih di lengannya akibat kuku yang menancap, sudah mulai biasa baginya. Ia sadar bahwa itu merupakan ekspresi Lia mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Sam mengecup kembali bibir istrinya dengan lembut sebelum merebahkan diri di sebelahnya.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan besok?"
"Aku memikirkan sebuah pesta pernikahan kejutan untuk Black dan Alexa." Lia mengatakan niatnya. "Seorang wanita menganggap sebuah pernikahan itu sakral. Dan itu mungkin hanya sekali dalam seumur hidupnya. Jadi aku rasa, kita harus membantu mereka."
"Aku mendukung idemu. Tapi ini bukan hanya tentang sebuah pesta, mereka tak ingin memancing perhatian relasi Aleandro."
"Iya. Kita tak akan mengundang siapapun. Aku akan menutup caffee untuk acara itu." Lia menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya dan menggambar sebuah lingkaran dengan jarinya di dada Sam.
Sam mengecup kening istrinya. Lalu membalas sentuhannya dengan jari-jari kekar tangannya. "Kau menikmatinya?"
Lia tersenyum, kedua tangannya merengkuh leher suaminya yang mulai bergerak nakal mengecup seluruh tubuhnya.
.
"Cepat-cepat! Letakan bunga itu di sana, dan rangkaian balon itu di depan setiap pintu ruangan." Lia terlihat sibuk berlarian di dalam ruangan caffeenya. "Iya, benar. Di pojok ruangan sebelah kursi pengantin, rangkaian bunga yang agak banyak. Iya seperti itu."
Para pekerja caffee terlihat kalang kabut, tak seperti biasanya ruangan itu terlihat berbeda. Tanpa aroma kopi yang khas, hanya suara music lembutnya yang tetap ada, dan seluruh ruangan disulap menjadi penuh bunga segar dan rangkaian balon metalik di depan pintu masuk.
"Elma, apa pesanan katering sudah siap?"
"Belum, Bu. Ini saya coba hubungi lagi." Wanita mungil berambut pendek itu dengan cekatan menghubungi ulang rumah katering.
"Baiklah. Kami tunggu. Terima kasih." Elma menutup sambungan teleponnya.
"Mereka sedang dalam perjalanan dan akan sampai dalam lima menit, Bu."
"Oh syukurlah. Pengantin sudah tiba, mari kita sambut." Lia menatap seluruh penjuru ruangan dengan perasaan puas.
"Elma, ganti musiknya," perintah Lia pada sang manajer caffee. Wanita itu segera mengganti music lembut itu menjadi music romantis sebagai penyambutan.
What would I do without your smart mouth
__ADS_1
Drawing me in, and you kicking me out
Got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
[Bridge]
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
[Chorus]
‘Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
And you give me all, all of you
[Verse]
How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every move
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing, I my head for you
[Bridge]
My head's under water
But I'm breathing fine
__ADS_1
You're crazy and I'm out of my mind
[Chorus]
‘Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all, all of you
Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard
[Chorus]
‘Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you
I give you all, all of me
And you give me all, all of you
Song : All Of Me
By. John Legend
__ADS_1
Sepasang pengantin itu masuk ke dalam ruangan kafe. Sepasang mata wanita bergaun putih itu terlihat berkaca-kaca dan mulai menangis.