
Cahaya terang di hadapannya benar-benar membuat pandangannya kabur. Lentera itu diletakkan begitu saja di lantai menerangi ruang gelap tempat Black disekap.
"Sam, lepaskan aku. Baiklah, aku akan menandatangani perjanjian itu," geram Black. Ia merasa sangat kesal, namun tak berdaya. Ia yang tak pernah terkalahkan, kini harus menengadah pada Samuel untuk dilepaskan.
Ia mulai menyadari, Sam bukanlah seorang lawan yang mudah. Jadi alangkah lebih baik bila ia berkoloni.
Sam menekuk lututnya, membuat salah satunya menempel pada lantai semen yang kasar. Ia menarik lengan Black agar ia berada di posisi duduk, berhadapan dengannya.
"Jangan main-main denganku. Aku akan sangat baik pada kawanku, namun aku tidak akan main-main memperlakukan musuhku." Sam menempelkan jari telunjuknya seolah-olah adalah senjatanya. "Dash! Dan tamat riwayatmu."
Black tertawa terkekeh. "Kau tak akan berani membunuhku."
"Apa kau yakin? Apa perlu aku buktikan padamu?" tanya Sam. Ia merasa kesal karena merasa diremehkan.
"Sudahlah. Jika kau bisa, kau tak akan membayarku untuk menyingkirkan musuhmu," jawab Black.
"Satu jawabanku, aku tak ingin mengotori tanganku."
Black kembali tertawa. "Jadi apa maumu? Aku menjaga istrimu? Apa hanya itu?"
"Black, kita hanya akan bersenang-senang. Rupanya istriku tidak menyukai permainan yang memacu adrenalin seperti yang kita lakukan," jawab Sam.
Black mendengus kesal. "Lalu untuk apa kau membuat kontrak itu?"
Sam tertawa, ia menggaruk ujung hidungnya yang runcing. "Untuk menjauhkan dia dari orang-orang seperti kamu."
Sam menyodorkan lembaran kertas bersegel itu di atas sebuah papan kerani. "Aku akan membuka ikatan tanganmu. Sebaiknya kau bijak dalam memutuskan. Aku hanya mengajakmu untuk pensiun melakukan pekerjaan kita. Kita saling menjaga satu sama lain sebagai kawan baik. Itu saja. Sadarilah, kita semakin tua."
Sam mulai memotong simpul mati yang mengikat tangan Black. Kedua tangan itu terlihat penuh luka lecet akibat tali tambang yang dengan kuat mengikatnya.
Ia menggosok-gosok tungkai tangannya supaya aliran darah kembali seperti semula.
__ADS_1
"Black, kau bisa tinggal bersama kami, segala keperluanmu pun kami yang atur. Tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan," bujuk Sam sambil mengulurkan sebuah pena berwarna hitam.
"Sam, aku menandatangani ini hanya karena harus membalas budi pada putramu. Aku rasa dia akan menjadi pria baik, tidak seperti ayahnya." Pria itu kembali terkekeh namun tangannya kini membubuhkan coretan di atas materai yang tertempel di sudut kanan bawah surat perjanjian tersebut.
Black mengembalikan penanya dan mulai membuka ikatan di kakinya dengan kedua tangannya. Dalam hati ia merasa lega, mungkin ini adalah tawaran terbaik yang pernah di dapatkannya. Seandainya seseorang menawarkan pekerjaan seperti ini di sepuluh tahun yang lalu, ia bahkan tak mungkin jatuh ke dunia hitam seperti saat ini.
Black mengikuti Samuel masuk ke dalam rumah induk. Kedatangannya mengejutkan Lia, namun Leon menyambutnya dengan senyuman hangat.
Leon mendekati pria bertubuh tinggi itu. Ia mengamit tangan Black dan menarik-narik lengannya. "Om, Om. Aku lupa menanyakan sesuatu."
Black menghentikan langkahnya. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Nama Om?" tanya bocah kecil itu tanpa ragu-ragu. "Bagaimana aku memanggilmu?"
"Orang memanggilku Black," jawab pria itu acuh.
Leon menggeleng. "Tidak-- tidak. Tak mungkin orang tua Om memberi nama Black. Aku yakin, pasti mereka memberikan sebuah nama yang indah untuk disebut."
"Sudah kuduga. Pasti Om punya nama yang manis. Jadi aku panggil Uncle Nicho." Leon menari dengan gembira. Tentu saja, semua usahanya berhasil. Keluarganya tak jadi terpisah, dan musuh telah menjadi kawan.
Leon tiba-tiba terdiam, "Daddy, aku rasa ada satu hal yang kita lupakan." Wajah bocah kecil itu terlihat sangat tegang.
Sam mengerutkan keningnya, ia mengangkat putranya ke atas meja tinggi. "Katakan pada Daddy, apa ada sesuatu yang belum kau sampaikan?"
"Ini tentang Bik Marni dan polisi itu." Leon menghentikan perkataannya.
"Ada apa dengan Bik Marni."
Leon menghela nafas. Ia berlari ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian kaki kecil itu telah tiba kembali di hadapan daddynya. Di sodorkannya sebuah kotak di tangannya.
"Leonard, apa ini?" tanya Sam. Pria itu membuka tutup dari kotak itu. Diperhatikannya benda yang tergeletak di dalamnya.
__ADS_1
"Aku menemukannya di beberapa tempat dalam rumah ini," lanjut bocah itu.
Black berjalan mendekat. Ia mengambil sebuah dan mengamati dengan seksama. "Dia memata-mataimu! Dia mencurigaimu."
Sam meremas tangannya dengan geram. "Matikan semua lampu. Black kau tahu maksudku? Ambil semua yang memancarkan sinar merah."
"Pembantu sialan. Akan kuhajar calo dia, nanti. Mereka mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Mereka harus mencari ke semua tempat yang dapat di akses oleh Bik Marni. Dan itu berarti hanya kamar kerjanya dan gudang belakanglah yang tak terpasang penyadap. Sam selalu menguncinya.
Black membawa dua alat lagi. "Aku rasa kita sudah menemukan semuanya. Tenanglah Sam. Kecuali kau mengatakan hal yang tak seharusnya di luar ruang kerjamu." Black menepuk punggung Sam menyatakan kepeduliannya.
"Kita harus menghilangkan kecurigaan polisi." Sam menyampaikan pendapatnya. Sementara kita mengalah dan menjauh dari mereka. Kita berlibur, menunggu semuanya kembali tenang dan damai.
"Daddy, aku ingin ke Bali!" Leon melompat-lompat kegirangan. Hingga usianya menjelang delapan tahun, dia belum pernah ke Bali. Namun ia sering mendengar teman-temannya menceritakan liburan mereka di pulau indah nan eksotis itu. Leon bahkan hafal dengan isi petanya, pemandangan indah yang dilihatnya dalam internet membuatnya berangan-angan, suatu saat nanti aku akan mengunjungimu, Bali.
"Baiklah, Daddy akan menghubungi biro esok pagi. Tidurlah. Uncle Nicho dan Daddy juga butuh beristirahat. Hari ini sangat luar biasa." Sam mengecup puncak kepala putranya.
"Ok, Daddy. I love you." Leon berjingkat, mencium pipi ayahnya.
"Love you too, Leon."
Leon melangkahkan kaki-kaki kecilnya meninggalkan kedua pria dewasa itu. Wajahnya terlihat berseri layaknya seorang mendapat sebuah kado yang sangat diinginkannya.
"Black, bersiaplah. Kita akan mulai bersenang-senang di Bali." Sam menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
Black tertawa terkekeh melihat wajah tuan barunya yang seperti kebingungan. Dalam hatinya ia bersyukur, sepertinya ia telah menemukan orang yang tepat. Orang yang baik tentu akan mengutamakan kebahagiaan keluarganya daripada kepentingan dirinya, bukan.
🐢🐢🐢🐢
Samuel masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya istrinya sedang sibuk mengusap wajahnya dengan selembar kapas untuk membersihkan sisa-sisa kosmetik dan debu kotoran yang melekat di kulit wajahnya.
"Bali! Leon ingin mengajak kita semua ke Bali, Lia." Sam duduk di ranjang, sepasang matanya menatap istrinya yang sedang mematut diri di depan cermin.
__ADS_1
"Aku tahu, dia sudah lama ingin ke sana, namun aku terlalu sibuk. Bukankah aku harus menghasilkan uang untuk kehidupan kami."