Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 38. Paket Khusus


__ADS_3

Lia duduk di kursi pelanggan, ditemani secangkir americano hangat. Matanya dengan fokus menatap sejumlah angka yang tertera di layar laptopnya.


Sebuah perhitungan panjang yang harus dikerjakannya menutup bulan ini. Sesekali tangannya mengetikkan sebaris rumus, sesekali tangannya bermain dengan anak panah, mengarahkan kursor pada angka angka yang tertera pada tabel.


Wajahnya terlihat tegang. Sekali waktu jari jemari tangannya memijit lembut keningnya dan bagian tengkuknya.


"Baiklah. Kurasa ini sudah tepat," lirihnya mengakhiri perhitungan yang dilakukannya. Ia mengangkat wajahnya dan terkejut ketika mendapati sepasang mata yang menatapnya dengan begitu dekat. Di depannya.


"Astaga, Sam. Kau mengagetkanku!" seru Lia. Ia memegang dadanya berusaha meredakan rasa terkejutnya.


Sam mengulurkan sebuah buket bunga, dan mendorong sebuah kotak ke hadapan wanita itu. "Mari kita menikah!"


Lia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia melihat sekelilingnya sebelum kemudian berkata, " Apa kau sudah gila?"


Sam mengerutkan keningnya. "Mengapa kau bilang aku gila? Apakah mengajakmu menikah adalah sesuatu yang gila?"


Lia menepuk keningnya. "Sam, tak bisakah kau melamar seorang wanita dengan cara yang lebih layak?"


"Bagaimana cara yang lebih layak? Apa aku harus menggunakan cara para pinguin?" Sam mulai membuka mulutnya bersiap-siap untuk berteriak. Lia segera berdiri dan menutup mulut pria itu dengan tangannya.


"Sam, aku tak tahu harus berkata apa padamu. Tolonglah berlakulah seperti manusia normal. Jangan mempermalukan aku." Lia memperingatkannya.


Sam mengecup tangan yang menutup mulutnya. Lia segera membukanya dan mengusap telapak tangannya dengan sebuah tisu di mejanya.


"Lia, mari kita menikah," katanya lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih keras.


Sam merasa frustasi. Ia mengambil gitarnya dan mulai menyanyikan sebuah lagu untuk kekasihnya.


Mengejar dirimu


Takkan ada habisnya


Membuat diriku menggila


Bila hati ini


Menjatuhkan pilihan


Apapun akan kulewati


Hari ini sayang


Sangat penting bagiku


Kau jawaban yang aku cari


Kisah hari ini kan kubagi denganmu


Dengarlah sayang kali ini


Permintaanku padamu


Dan dengarlah sayangku


Aku mohon kau menikah denganku

__ADS_1


Ya hiduplah denganku


Berbagi kisah hidup berdua


Huu hu u


Cincin ini sayang


Terukirkan namamu


Begitu juga di hatiku.


Hujan warna-warni


Kata orang tak mungkin


Namun itu mungkin bagiku


Sebuah tanda cintaku.


Dan dengarlah sayangku


Aku mohon kau menikah denganku


Ya hiduplah denganku


Berbagi kisah hidup berdua


Dengarlah sayangku


(Aku mohon kau menikah denganku) Aku mohon menikahlah denganku


Berbagi kisah hidup


Habiskan sisa hidup


Menikahlah denganku


Sayangku


Suara tepukan tangan dari para karyawan coffee dan pengunjung. Beberapa orang bahkan merekam peristiwa itu. Lia menutup wajahnya karena malu.


"Sam, tak bisakah kau bersikap normal dan tak membuat sebuah kegaduhan seperti ini," lirihnya.


"Lia, ini akan menjadi kegaduhan yang lebih besar lagi jika kau tak segera menerima lamaranku ini," lirihnya. "Apa kau menginginkan sebuah lagu lainnya?"


Lia menghela nafas. "Baiklah."


Sam memegang tangan Lia. Ia menyematkan sebuah cincin berwarna putih dengan sebuah mata yang berkilau indah di jari manisnya.


Sam tersenyum puas. Langkahnya semakin dekat untuk mewujudkan sebuah keluarga mungil miliknya sendiri.


"Aku akan mengatur sebuah pernikahan yang indah untuk kita," lirih Samuel. Sebuah senyum tipis menghias bibirnya.


Beberapa kilatan cahaya menerpa wajah mereka. Ya-- Lia menyadari kehidupannya tak akan setenang dulu, sebelum Sam memasuki kehidupan keluarganya.

__ADS_1


🐧🐧🐧🐧


"Kerja yang bagus. Bawa barang itu kemari. Berhati-hatilah, jangan sampai polisi mencium jejak aksi kita!" perintah Sam melalui teleponnya.


Ia menutup teleponnya dengan sebuah tawa kemenangan. Hari ini semuanya berjalan dengan sangat lancar.


Lamarannya telah diterima. Bahkan barang paket yang diimpornya juga telah sampai dengan selamat. Ini berarti dia bisa menutup kerugian impor sebelumnya.


Dia terbiasa menyembunyikan barang itu di brankas kantornya di rumah. Jika sebentar lagi dia akan menikahi Lia, bagaimana jika Lia mengetahui tentang barang itu?


Tidak. Sebagai seorang istri, dia harus mendukung usaha suami. Tapi, bagaimana jika tidak, Lia bukan seorang yang patuh. Ia seorang yang akan bertahan pada pendiriannya hanya sebuah alasan logis dapat mengubahnya.


Sam menggaruk kepalanya. "Sudahlah. Ini adalah terakhir kalinya aku melakukan transaksi besar. Aku akan hidup bersih setelah ini berakhir." tekadnya dalam hati.


"Semuanya akan aman, aku hanya menjualnya pada kalangan sendiri. Kalangan artis yang sudah kukenal dan kupercayai," pikirannya terus melayang. Kadang menyalahkan diri, kadang menenangkan dirinya sendiri.


Sam melirik pria berbadan besar di sampingnya. "Bukalah pintunya, sepertinya barang itu sudah tiba."


Pria berbadan besar itu menunduk hormat dan berlari keluar dari rumah. Ia membuka pintu dan membiarkan sebuah pick up dengan muatan peti kayu masuk ke dalam halaman rumah Samuel Augusto.


Mereka menurunkan peti kayu itu dengan perlahan dan berhati-hati.


"Jangan biarkan guci itu pecah. Harganya sangat mahal!" serunya pada petugas bertubuh kurus di atas pick up.


Samuel memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk mengambil alih menurunkan barang karena ia merasa kedua orang utusan ekspedisi tidak mumpuni.


Dengan bantuan tiga pria berbadan besar, Sam segera dapat apa yang diinginkannya.


"Masukkan ke dalam rumah dan kita buka peti kayunya." katanya pada ketiga pengawalnya.


Dengan patuh ketiga pengawal itu mengangkat peti kayu itu. Setelah berada di dalam, mereka mencongkelnya. Sebuah guci besar bermotif gambar dengan tinta berwarna biru berdiri dengan megah. Guci setinggi satu setengah meter itu berdiri dengan angkuhnya. Di dalam guci terlihat jerami yang sepertinya dengan sengaja di masukkan ke dalam guci.


"Keluarkan jeraminya," perintah Samuel. Ya-- para anjing pelacakpun tak akan mampu mengendusnya. Mengendus benda yang berada di dalam peti kayu, di dalam sebuah guci.


"Hai, Tuan E. Bagaimana anda tahu bahwa barang sudah datang?" tanya Sam dengan suara yang gelisah.


"Baiklah, siapkan bagiku seperempat." kata pria di balik telepon.


"Tentu saja," jawab Sam dengan senang.


Ketika mereka telah berhasil mengeluarkan seluruh jerami, maka muncullah benda yang telah mereka cari-cari selana ini.


Sebuah bungkusan berwarna coklat dengan ukuran sedang itu kini berada di tangan Samuel. Pria itu duduk manis sambil tertawa terkekeh.


"Maaf Lia, ini akan menjadi hal terakhir bagiku melakukan sesuatu yang ilegal. Aku berjanji kita akan memulai sebuah lembaran baru yang bersih."


🐧🐧🐧🐧


Hai semuanya, udah sampai bab 38 nih. Author up slow, lagi on proyek nulis yang lain.


Kasih semangat author buat up yuk. Caranya tekan tombol likeπŸ‘ dan komen yuk. Jangan lupa masukin ke rak kalian dengan klik favorit.


Semakin banyak like, author akan makin semangat buat up bab.


Buat yang udah terus ngikutin ceritanya. Makasih banyak yaa..

__ADS_1


μ‚¬λž‘ ν•΄μš”


salang haeyo 😘😘😘


__ADS_2