Bocilku, I Love You

Bocilku, I Love You
Bab 61. Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Sepasang mata indah sang pengantin mulai berkaca-kaca. Ia tak pernah menduga akan mendapatkan sebuah kejutan manis bahkan dari keluarga yang baru dikenalnya.


Sebuah senyuman di wajahnya dan tetesan air mata di pipinya. Ia melangkah anggun menghampiri Lia dan memeluknya. "Terima kasih," katanya berulang-ulang.


Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Keluarga ini bahkan menganggapnya sebagai keluarga. "Jangan menangis, ih... maskaramu beleber." Lia mengambil selembar tisu dan mulai memperbaiki riasan Lexa.


.


"Jadi kita semua berkumpul di sini, hari ini. Untuk mengadakan perayaan ungkapan syukur atas berlangsungnya upacara pernikahan Nicholas dan Alexa. Aku harap mereka akan menikmati kebersamaan mereka hingga maut memisahkan." Sam menutup kata-kata sambutannya.


Sementara itu Leon mulai menggesek biolanya menyajikan sebuah irama lagu berjudul A Thousand Years. Sepasang pengantin itu berdiri dan mulai berpegangan tangan dan berdansa.


Melihat keromantisan itu, Sam tak membuang kesempatan. Ia berlutut dan mengulurkan tangan kanannya pada wanita cantik di sampingnya.


Lia menatap raut wajah pria di hadapannya. Pria arogan yang banyak membuatnya sakit hati di masa lalu itu kini telah banyak berubah. Disambutnya uluran tangan itu. Dan sepasang suami istri itu pun berpelukan mengikuti irama lagu yang indah nan syahdu.


Leon tersenyum menatap kedua pasangan itu. Perasaan senang membuatnya ingin melanjutkan permainan biolanya lebih lama. Dan iapun melakukan medley dengan sebuah lagu lainnya. Lagu Perfect mengalun dengan syahdu nan indah dalam gesekan biolanya dan mereka menari mengikuti iramanya hingga irama berhenti.


"Aku mempunyai sebuah kejutan untukmu," bisik Lia pada suaminya.


"Untukku? Bukan mereka?"


Wanita itu mengangguk. Ia menarik tangan suaminya keluar ruangan, ke taman samping caffee. Diulurkannya sebuah amplop coklat panjang.


Jantung Samuel serasa berhenti. Apa ini, sesuatu di dalamnya. Adakah dia melakukan sebuah kesalahan hingga wanita yang dicintainya akan meminta sebuah perceraian?


Sambil menahan nafas, pria itu membuka tali pengaitnya dan cepat-cepat merogoh isinya. Matanya membulat dan mulutnya terbuka. "Oh, my God! Apa ini benar? Apa aku tak salah mengartikan ini?"


Tangannya bergetar memegang benda pipih bergaris merah sebanyak dua itu. Ia menatapnya bergantian dengan wajah istrinya. Lia mengangguk.


Tiba-tiba pria itu berlutut. Dan mencium perut istrinya. "Kau di sana, Sayang? Apa kau dapat mendengar Daddy?"

__ADS_1


Lia ikut berlutut. Kini keduanya sejajar. "Aku yang mendengarmu. Astaga... Bahkan bayi ini masih belum berbentuk."


Sam terlihat kebingungan. "Satu lagi impian kita yang terwujud. Lia...." Pria itu menggenggam tangannya. "Terima kasih. Telah mewujudkan impianku."


Sam memeluk istrinya sambil kembali masuk ke dalam ruangan penuh bunga itu. "Kita hari ini mempunyai dua kebahagian dan dua hal yang perlu dirayakan."


"Dua?" tanya Black dan Lexa hampir bersamaan.


Sam mengangguk, sebuah senyum kebahagiaan tampak di wajahnya. Sebuah kejutan manis yang masih menyita seluruh kesadarannya.


"Pertama pernikahan kalian. Dan yang kedua, mari kita sambut kehadiran putra kedua kami." Sam dengan bangga membelai perut istrinya.


Sepasang pengantin itu terperangah dan serempak berdiri.


"Lia, selamat..." Lexa memeluk wanita itu. Ia begitu bingung tak tahu harus mengatakan apa.


Black mengulurkan tangannya. "Selamat! Kami turut berbahagia. Kedatangan anggota baru keluarga kita." Black mengulurkan tangannya pula pada Leon. "Kau tak akan pernah kesepian sekarang, Bocah."


"Kau tak boleh terlalu capek. Aku akan menetap dan membantumu, Lia," kata Lexa. Sepasang matanya kembali berkaca-kaca. Sebuah peristiwa kecil yang mengacaukan emosinya.


"Tidak. Aku akan membantumu. Menikmati semua momen bersamamu, Saudariku," sahut Lexa dengan tulus. Ia menoleh pada suaminya. "Apa kau keberatan kita tak berbulan madu, Nicho?"


"Tidak. Bukankah kita bisa berbulan madu kapan saja dan di mana saja, Sayang." Nicho mengedipkan matanya dengan nakal.


Lia tersenyum senang. "Sam, bahkan aku mempunyai seorang saudari sekarang. Aku rasa kita benar-benar harus merayakannya."


Leon membelai perut ibunya. "Baby boy or baby girl? I love you whatever you are. Aku sudah tak sabar bermain bersamamu."


"Papa, bolehkah aku menelpon Nisha? Aku akan punya adik bayi sepertinya!" serunya dengan gembira.


.

__ADS_1


"Luas lahannya satu hektar. Sebenarnya beberapa kontraktor sudah meliriknya. Tapi aku masih mempertahankannya," suara pemilik lahan terdengar menggertak.


"Jadi berapa nilai yang harus aku bayar?"


"Sepuluh milyard!" jawabnya tegas.


"Apa kau gila? Kalau begitu kau jual saja pada kontraktor-kontraktor itu!" jawab Sam dengan ketus.


"Tuan, aku tak menjual pada mereka, karena mereka akan meratakan bangunan, perkebunan dan peternakan kami. Aku tak mau itu terjadi. Tanah kami subur, panen jeruk dan apel manis melimpah. Kandang itu bisa ditempati sepuluh ekor sapi perah, unggas petelur dan apapun yang kau suka," rayu pemilik perkebunan.


"Tidak untuk jumlah sebanyak itu. Kami tentu harus melakukan beberapa renovasi sebelum di tempati." Sam masih berusaha menawarnya.


Terdengar hela nafas sang pemilik perkebunan. "Tuan, kami masih memiliki 10 ekor sapi limosin di kandang. Kau bisa memiliki mereka," tawarnya.


"Cukup menarik. Baiklah, kami akan segera mengunjungimu."


Samuel menutup panggilan teleponnya ketika terdengar suara dari kamar mandi.


"Lia! Kau tidak apa-apa?" serunya sambil mengetuk pintu.


Suara air closet mengalir dan tak lama kemudian Lia keluar dengan wajah pucatnya dan keringat bercucuran. Tubuhnya terlihat lemas.


Sam terlihat kebingungan. Ia keluar dari kamar dan masuk kembali. "Lia, katakan padaku apa yang harus kulakukan?"


Lexa yang kebetulan ada di dekat kamar memperhatikan gerak-geriknya. "Dia mual? Muntah? Lemas? Pucat?" tanyanya tiba-tiba pada Sam. Sam mengangguk sambil terheran-heran. Benarkah mereka mempunyai ikatan emosional sekuat itu.


Diambilnya segelas air, lalu diisinya dengan air hangat. "Tolong berikan ini padanya. Aku akan membuat bubur untuknya. Ah... kasihan, pasti bayinya sedang tak ingin makan."


"Bagaimana kau tahu?" tanya Sam dengan wajah heran.


Tiba-tiba Black datang dengan tergopoh-gopoh. "Sam, celaka. Artomoro Santoso... terjadi penggelapan... korupsi... pegawainya."

__ADS_1


"Black. Atur nafasmu, dan bicaralah dengan jelas," perintah Sam.


"Apa maksudmu? Seseorang melakukan korupsi di perusahaan ayahku?" tanya Lia yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


__ADS_2