
Suara ketukan itu kembali terdengar. Sam merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Ia mengabaikan ketukan itu.
Ia mengatur nafasnya sebelum memakai bathrobe dan mengintip di balik pintu kamarnya. Seorang pengawainya, pria dengan tubuh besar berdiri di depan pintunya.
Sam keluar dari kamar dan menutup pintunya.
"Paket sudah diterima oleh sang artis. Semalam. Ia mengirimkan salam selamat atas pernikahan anda, Tuan." Pria bertubuh besar itu menyampaikan berita itu dengan suara pelan. "Pembayaran akan dilakukan melalui bank."
"Bagus. Nanti sore, artis T akan mengambil paketnya di hotel A. Aku akan mengantarnya sendiri. Tugasmu, antar pesanan artis R ke rumahnya, malam ini. Sepertinya dia sudah kehabisan stok." Sam menyampaikan perintahnya. "Apa Marni sudah datang? Suruh dia menyiapkan sarapan. Kami akan sarapan bersama di rumah mulai hari ini."
"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan." Pria berbadan besar itu segera meninggalkan Sam. Sam masih berdiri diam di depan pintunya. Stoknya juga hampir habis. Apakah dia harus memesan ulang ataukah ia benar-benar akan menghentikan usaha ilegal yang benar-benar menjanjikan keuntungan yang besar ini.
Ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Lia sudah bersiap untuk mandi. Ia menyalakan air panas ke dalam bathtube berukuran besar itu dan mulai memasukkan bubble gel dengan parfum jasmine yang lembut.
Wanita itu dengan perlahan menanggalkan kimononya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang mulai dipenuhi uap air itu. Sam menelan salivanya dengan kasar. Ia segera menyusul istri cantiknya menikmati keharuman aroma jasmine yang menguar ke seluruh ruangan.
🐧🐧🐧🐧
Sam mengunci pintu kantornya. Ia menurunkan lukisan saxofon yang tergantung di dinding. Lalu membuka brankas yang tertanam di dalamnya. Pria itu mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna coklat dan meletakkannya di atas meja kerjanya.
Ia membuka bungkusan coklat itu, di dalamnya terdapat serbuk berwarna putih yang sudah di kemas dalam beberapa kemasan kantong plastik kecil. Ia mengambil 10 kantong plastik kecil dan mengemas kembali sisanya ke dalam bungkusan coklat itu.
Sebuah ketukan di pintu mengejutkannya. Dengan terburu-buru, ia memasukkan kembali bungkusan berwarna coklat itu ke dalam brankasnya, menggantung kembali lukisan pada tempatnya dan memasukkan 10 kantung plastik berisi serbuk putih itu ke dalam laci lalu menguncinya.
Ketukan di pintu itu kembali terdengar. Kini lebih keras dengan tempo yang lebih cepat. Dengan gugup, Sam memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya sambil berjalan ke arah pintu.
Diputarnya handle pintu itu dan membukanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lia dengan nada cemas.
__ADS_1
Sam bernafas lega melihat wajah istrinya di depan pintu. "Tentu saja, apa yang akan terjadi di dalam ruang kantorku sendiri."
Lia mendorong pintu ruangan yang selalu dalam keadaan tertutup itu. Ia menebarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan dengan penuh kecurigaan.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan, Sam?" tanyanya. Entah mengapa firasatnya mengatakan ada sesuatu yang harus dia ketahui.
Sam memeluk istrinya dari belakang. Ia mengecup tengkuknya dan memutar tubuhnya menghadapnya. Pria itu menatap sepasang mata istrinya, "Tak ada yang bisa kusembunyikan darimu."
Kedua bola mata Lia menatap tajam sepasang mata suaminya, mencari sebuah kebenaran dalam ucapannya. Sam memeluk istrinya, "Apa kau mulai meragukanku?" lirihnya.
Sam menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Dengan langkah perlahan ia menghampiri istrinya. Tangannya menyingkirkan rambut panjangnya yang terurai dari wajahnya.
"Aku tak menyembunyikan apapun darimu. Bahkan hati dan perasaanku adalah milikmu," lirihnya sambil menyapukan lidahnya ke telinga wanita itu.
Lia menahan napas ketika suaminya mulai menjelajah lehernya dan mulai memagut bibirnya.
"Sam," lirihnya sambil memegang tangan suaminya yang hendak melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Tapi aku harus mengontrol coffee." Lia menjelaskan alasannya.
Sam kembali memagut bibirnya. "Kita selesaikan urusan kita dulu, sayang."
Sam mengangkat tubuh istrinya, meletakkannya di atas meja kerjanya. Ia menyingkirkan beberapa buku di atasnya dengan sebelah tangannya. Sementara satu tangan lainnya dengan tergesa-gesa membuka sebagian penutup badan istrinya.
🐧🐧🐧🐧
"Lia, nanti sore aku akan menjemputmu di coffee dan kita akan menghabiskan malam kita di hotel Arzon bersama. Menikmati matahari terbenam sambil berjalan-jalan di tepi pantai." Sam duduk di kursi kerjanya sambil mengatur nafasnya.
Lia duduk di meja kerjanya, rambutnya terlihat berantakan. Sama berantakan dengan pakaian yang dikenakannya. Sesekali dia melongok ke lantai seperti mencari sesuatu yang hilang.
__ADS_1
Sam seperti merasa terusik dengan tingkahnya. "Apa kau keberatan dengan ideku?"
"Tidak. Bukan suatu ide yang buruk. Bagaimana dengan Leon?" tanya Lia. Ia turun dari meja dan sepasang matanya sibuk mencari sesuatu di lantai.
"Aku akan menyuruh Marni menginap malam ini." Pria itu menepuk pan tat istrinya dengan kesal. "Apa yang sedang kau cari?"
"Aw-- kau terlalu kasar. Kau menghilangkan dua biji kancing kemejaku." Lia melancipkan bibirnya. Ia terlihat begitu kesal.
Sam menarik istri cantiknya ke atas pangkuannya. "Bukankah semakin kasar, kau semakin menyukainya?" lirihnya.
Perlahan-lahan wajah Lia memerah. Sam tertawa terkekeh melihat perubahan raut wajah cantik istrinya. Sepertinya ia mempunyai kesenangan baru, menggoda istri tercintanya.
"Ah-- sudahlah. Aku harus segera berangkat. Jangan lupa, kau ingatkan Bik Marni untuk menjaga Leon baik-baik. Aku tak mau terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada putra kita saat kita pergi." Lia memperingatkan suaminya. "Aku tak akan memaafkan siapapun yang menyakiti Leon."
Sam terkekeh, "Kau terlihat seperti seorang pemimpin gangster ketika mengatakan pesan seperti itu. Marni akan sangat ketakutan dan meninggalkan putramu."
Lia mengangkat kedua tangannya, "Apapun itu, aku percayakan padamu."
Wanita itu berjalan keluar dari kantor, ia harus mengganti pakaiannya sebelum berangkat menuju coffee shop nya.
🐧🐧🐧🐧
Sam meletakkan masing-masing lima kantong plastik kemasan ke dalam sebuah kotak kecil dengan sebuah pita berwarna keemasan. Ia telah menyegel dan menyimpannya ke dalam dashboard mobilnya.
Sebuah kotak lainnya telah disiapkannya pula untuk dibawa oleh anak buahnya. Entah kenapa setelah pernikahannya, bisnis ini terasa sangat lancar. Stok barang segera menipis. Hatinya tergoda untuk melakukan repeat order. Usaha ini ilegal, namun hasil yang didapatkannya sangat luar biasa. Mungkin istri cantiknya merupakan pembawa keberuntungan baginya.
Setelah membereskan semua urusannya, Sam segera menyusul Lia. Ia telah membayangkan akan menghabiskan waktu berdua bersama istrinya.
Dengan hati gembira, Sam melangkahkan kakinya ke dalam coffee. Ia memandang sekeliling ruangan coffee, tapi tak terlihat bayangan istri cantiknya di sana. Ia melangkahkan kakinya ke taman samping, kali ini darahnya mendidih. Ia
__ADS_1
melihat istrinya sedang duduk dan bercakap-cakap dengan seseorang yang dikenalnya. Dokter Radith, untuk apa dia di sini?