
“Mungkin dia cuma pura-pura saja biar bisa pacaran dengan kakak.” si pengemudi bersikeras dengan pendapatnya yang mengatakan Leon bukanlah keturunan Adipati.
Chana yang kesal ingin sekali memarahi pengemudi itu namun ia mengurungkan niatnya, karena itu semua tak ada gunanya.
“Sebaiknya bapak antar aku sesuai alamat, enggak usah banyak cerita.” Chana yang malas berdebat memilih diam hingga ia sampai di depan rumah Leon.
“Titiknya sampai sini ya kak.” ucap si pengemudi.
Chana yang menoleh ke sebelah kirinya pun melihat rumah yang mirip seperti istana dengan desain modern yang memiliki halaman luas di tumbuhi rumput hijau dan berbagai bunga yang tertata rapi di di halaman depan dan belakang rumah.
Gila, ini benaran rumah Leon? batin Chana.
Lalu ia pun turun dari atas motor dan membayar ongkosnya.
“Kakak mau di tunggu enggak? Soalnya kakak akan susah buat dapat pengemudi kalau pesannya dari sini,” ujar si pengemudi.
“Enggak usah mas, nanti saya pulang dengan pacar saya saja.” Chana menolak karena ia
tak suka dengan pengemudi tersebut.
“Ya sudah, terserah kakak saja kalau begitu.” kemudian si pengemudi pun putar arah dan melaju meninggalkan Chana.
Chana yang berdiri di depan gerbang besar rumah kekasihnya menjadi grogi.
“Mudah-mudahan aku enggak ketemu ibu atau ayahnya Leon.” Chana belum siap bila bertemu orang tua kekasihnya.
Chana yang ingin bertemu Leon pun menekan bel yang ada di tiang gerbang.
Tik!
Ting dong!
Hanya dengan 1 kali tekan suara bel itu terdengar hingga ke penjuru rumah, kecuali bagian kamar yang di rancang kedap suara.
Lalu seorang satpam keluar dari dalam pos yang berjarak 30 meter dari gerbang.
Chana yang melihat ada orang yang datang mulai mempersiapkan diri, ia tak mau di nilai buruk pada pandangan pertama.
“Sebaiknya anda datang siang kalau mau minta sedekah.” ucap sang satpam yang bernama Ardi.
Ia berkaga demikian karena yang datang ke kawasan rumah Adipati semuanya memakai mobil mewah.
“Maaf pak, saya bukan pengemis atau pun relawan bencana alam, tapi saya temannya Leon.” Chana tersenyum pada Ardi.
“Apa?” Ardi terdiam sejenak untuk melihat penampilan Chana yang memakai gaun warna biru muda dan motif bunga edelweis sepanjang lutut.
“Bajunya sih bagus, tapi kok pakai sendal jepit burung walet?” gumam Ardi.
__ADS_1
Ia pun mendekat untuk memperjelas wajah Chana.
“Kau temannya tuan atau mau melamar jadi Art?” Ardi memperjelas tujuan Chana.
Chana yang sedang datang bulan di tambah sudah emosi dari siang membentak sang satpam.
“Telinga mu tuli ya pak! Aku kan sudah bilang, aku temannya Leon! Bapak ngerti enggak sih! Belum apa-apa sudah menilai orang sembarangan!” mata Chana memerah menahan tangis.
Ia yang belum menuntaskan masalah dengan Leon membuatnya tidak tenang, sebab masa depan sekolah yang mempunyai spp 30 juta sebulan di luar uang praktik ada di tangan Leon.
“Baiklah.” seketika Ardi tersentak mendengar suara nyaring Chana.
Leon yang ternyata memantau kekasihnya dari cctv yang tersambung ke handphonenya langsung mendatangi Chana yang masih berdiri di pagar yang belum di buka menggunakan sepeda listrik.
“Tunggu sebentar biar saya panggilkan.” ketika Ardi akan balik kanan Leon telah ada di belakangnya.
“Selamat malam tuan, ada tamu untuk tuan,” ucap Ardi.
“Lalu, kenapa kau tak membawanya masuk ke dalam? Pada hal kau tahu malam ini udaranya dingin!” meski Leon marah pada Chana namun ia masih menjaga harga diri kekasihnya di hadapan pekerjanya.
Ardi yang merasa bersalah langsung membuka gerbang rumah besar itu.
Setelah itu Leon menatap Chana yang memakai baju tipis.
“Cepat naik!” Leon meminta Chana untuk duduk di kursi boncengan sepeda listriknya.
Kemudian Leon melajukan sepeda listriknya menuju rumah besarnya.
Selama dalam perjalanan Chana bingung harus memeluk Leon atau tidak.
Sebab wajah tegang Leon membuat Chana takut.
Peluk enggak ya? Nanti kalau enggak malah tambah salah lagi, batin Chana.
Ia pun memberanikan diri memeluk kekasihnya yang diam seribu bahasa.
“Lepaskan tangan mu!” pekik Leon yang hatinya masih terluka.
“Memangnya jatuh ke aspal lebih baik dari pada ke hatimu?” ucap Chana dengan santai.
“Bacot!” Leon makin marah karena di gombal oleh Chana yang baru ia saksikan bermesraan dengan laki-laki lain.
“Ya sudah! Kalau aku jatuh ke tanah dan sampai lecet kau harus tanggung jawab untuk merawat ku seumur hidup mu!” Chana yang ingin berbaikan terus menyerang Leon dengan gombalan supernya.
“Terserah!” Leon tak peduli dengan apapun yang di katakan Chana.
Kana yang ingin menarik perhatian Leon pun malah nekat menjatuhkan dirinya.
__ADS_1
Bab!
“Sakit!!!” ia pun berteriak manja berharap akan di tolong oleh kekasihnya.
Namun Leon yang patah hati tak berbalik arah atau sekedar menengok.
“Hancur sudah masa depan ku! Kalau mau pindah ke sekolah umum harus menganggur satu tahun.” Chana yang yakin jika dirinya telah di buang bangkit dari jalan aspal.
Sudahlah, ikhlaskan saja, batin Chana.
Meski menjadi apoteker adalah cita-cita terbesarnya bersama kedua orang tuanya, namun Chana yang tidak mampu tak mau memaksakan diri. Ia pun balik kanan dan beranjak pergi.
“Kira-kira tamatan SMP bisa kerja apa ya?” Chana yang biasa di manja tak tahu cara mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Ia yang hampir mencapai gerbang di hadang oleh Leon dengan sepeda listriknya.
“Ayo naik!” titah Leon.
“Enggak! Aku sudah memikirkan masa depan ku, aku akan berhenti sekolah, biar sekalian enggak lihat wajah jelek mu!” Chana yang kesal meninggalkan Leon yang sebenarnya sudah mau memaafkannya.
“Ya sudah! Jadi pengamen saja setelah berhenti sekolah!” pekik Leon.
Keegoisan keduanya membuat titik temu di antara mereka bagai terhalang selat Sunda.
Chana pun keluar dari rumah Leon dengan tekad tak akan mau menerima bantuan kekasihnya lagi.
Chana yang ingin pulang memesan ojek online, namun hingga satu jam ia tak kunjung mendapatkan pengemudi.
“Harusnya tadi aku minta masnya buat menunggu.” Chana pun terpaksa jalan kaki menuju jalan raya.
Leon yang tahu Chana akan kesulitan mencoba mengintip kekasihnya yang telah berjalan jauh dari rumahnya namun masih dapat di pantau.
Chana yang melihat mobil mewah akan melintas ke arahnya mencoba peruntungan.
Ia pun menyetop mobil itu dengan menggoyang-goyang tangannya.
Leon yang melihat aksi kekasihnya mengernyitkan dahinya.
“Berani banget dia minta bantuan sama orang yang enggak dia kenal, bodoh apa murahan sih?!” Leon makin risih pada Chana.
Sedang Chana yang membutuhkan bantuan mencoba membujuk si pemilik mobil.
Tok tok tok!
Ia pun mengetuk kaca mobil mewah tersebut dengan sangat pelan agar tidak pecah.
...Bersambung......
__ADS_1