
“Ini cash nya 5 milyar Leon! Bukan 500 ribu! Memangnya kosan yang dulu lebih besar dari ini apa?” Chana mengelus dadanya untuk menahan amarahnya yang ingin meledak-ledak.
“Yang minta tinggal di tempat kecil itukan kau sendiri? Lagi pula aku kasih kau rumah yang agak luas tapi kau tetap saja enggak mau! Jadi jangan samakan aku dengan suami pelit mu!” Leon tak suka Chana menyamakan dirinya dengan orang lain.
“Tapi dia memperlakukan aku layaknya manusia! Sedangkan kau tidak!” pekik Chana.
“Memangnya kau sendiri sudah memanusiakan anak kita yang kau bunuh?” Leon membalas kata-kata pedas Chana.
Sontak Chana ingat kekejamannya di masa lalu.
“Iya, aku memang tidak ada baiknya, dan aku menyesal, mungkin kalau aku tidak berbuat bodoh anak ku sudah SMP sekarang.” Chana mengakui kesalahannya.
Leon yang sadar kalau ia sudah menyinggung hati Chana langsung bangkit dari duduknya dan mendatangi Chana yang ada di hadapannya.
“Maaf, aku enggak sengaja mengatakannya.” Leon menggenggam kedua tangan Chana.
“Iya, enggak apa-apa, oh ya ini sudah malam, sebaiknya kau pulang jangan buat aku kena masalah dokter Leon.” Chana yang tak ingin bicara lagi mengusir Leon.
Leon yang ingin damai pun setuju untuk pergi tanpa protes lagi.
”Baiklah.” kemudian Leon meletakkan oleh-oleh sup hatinya di atas meja, kemudian ia beranjak menuju pintu yang di antar oleh Chana.
Ceklek!
Leon membuka pintu rumah dengan sangat pelan.
“Jaga diri baik-baik, jangan buka pintu untuk siapapun, kecuali aku, hehehe....” Leon tertawa seraya mengelus puncak kepala Chana.
“Gigi mu! Oh ya... hati-hati di jalan,” ucap Chana.
Saat Leon akan balik kanan tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras di sertai dengan petir yang bergemuruh tiada henti.
Zarrr!!!!
“Bahkan cuaca merestui ku untuk menginap disini malam ini,” Leon melirik Chana dengan lembut.
Lalu Chana melihat ke depannya. “Tumben banget kau pakai motor, harusnya kau bawa mobil.” Chana menghela napas panjang, karena Leon pasti Leon datang dengan motor geleng-geleng kepala.
“Aku sengaja karena aku tahu malam ini akan turun hujan jadi ku putuskan naik motor, agar aku ada alasan tidur disini, alasan lainnya karena besok kita berdua off,” ucap Leon.
“Tahu dari mana aku libur?” tanya Chana.
“Akukan bisa lihat shift kerja para dokter dan perawat, karena itu aku menyesuaikan jadwal ku dengan mu,” terang Leon.
“Astaga... Hei! Kau enggak boleh tidur disini! Kau harus pulang sekarang juga!” Chana mengusir Leon dengan sangat kasar.
“Kalau kau ikhlas aku sakit, aku akan menerjang hujan badai ini,” ucap Leon.
__ADS_1
“Terobos saja! Sakit juga kau tahu obatnya apa.” ucap Chana dengan raut wajah judes.
“Baiklah, kalau aku sampai sakit keras, kau harus tanggung bertanggung jawab untuk merawat ku.” kemudian Leon berjalan di bawah guyuran hujan dengan santai.
Jangan khawatir, diakan dokter, batin Chana.
Kemudian Leon tanpa basa-basi lagi naik ke atas motornya.
“Sampai besok calon istri ku.” Leon menggoda Chana dengan mengedipkan mata kanannya.
“Serius! Enggak banget nih orang!”
Bam!
Chana membanting pintu rumahnya karena merasa geli dengan Leon yang makin agresif padanya.
Bremm!!!
Setelah mendengar suara motor Leon pergi Chana pun mengambil sup hati yang ada di atas meja.
“Hum... harus gosok gigi lagi deh!” Chana yang ingin menghargai usaha Leon terpaksa makan malam itu.
🏵️
Keesokan harinya, saat Chana baru bangun tidur, ia pun melihat handphonenya berdering.
Namun karena Stefan terus memanggil Chana pun terpaksa menerimanya.
Halo mas... 📲 Chana.
Apa kau baru bangun sayang? 📲 Stefan.
Iya mas, oh ya... kenapa menelepon ku mas sepagi ini? 📲 Chana.
Disini dingin, jadi aku merindukan mu sayang, 📲 Stefan.
Chana mengerti maksud perkatan Stefan padanya.
Kalau begitu mas harus cepat pulang, karena aku juga sudah lama enggak di peluk tidur oleh mu mas, 📲 Chana.
Chana yang bermuka dua berpura-pura merasakan hal yang sama dengan suaminya.
Tentu saja, semoga setelah kau meminum obat yang ku bawa, kau bisa langsung hamil, 📲 Stefan.
Aamiin mas. 📲 Chana.
Sudah dulu ya sayang, jangan lupa makan teratur, 📲 Stefan.
__ADS_1
Mas juga, 📲 Chana.
Setelah sambungan telepon terputus Chana bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian Chana keluar dari kamar mandi dengan berpakaian rapi.
Selanjutnya Chana duduk di depan meja rias untuk melakukan serangkaian ritual skincare yang memakan waktu hampir 50 menit.
Pukul 07:02 Chana yang telah selesai berhias berangkat menuju mall untuk berbelanja.
Saat Chana membuka pintu ia terkejut karena Aminah dengan style elegan serta memakai kaca mata hitam di hadapannya.
“Lama tidak bertemu, Chana.” ucap Aminah seraya membuka kaca matanya.
“Ada perlu apa tante kemari?” tanya Chana dengan raut wajah tak suka.
“Apa kau tak punya sopan santun? Bisa-bisanya kau membiarkan orang tua berdiri lama-lama?” ucap Aminah.
“Maaf kalau aku salah, silahkan masuk tante.” Chana pun membuka lebar pintu rumahnya.
Kemudian Aminah masuk ke dalam rumah Chana dan sebelum di suruh duduk Aminah telah mendaratkan bokongnya ke sofa Chana yang ada di ruang tamunya.
“Apa ada masalah sehingga tante repot-repot menemui ku?” tanya Chana penuh selidik.
“Ya, saya datang untuk mengatakan jauhi anak ku, kau juga ku pecat dari rumah sakit Medika Raya detik ini juga! Jadi kau tak perlu masuk kerja lagi!” Aminah memecat Chana dengan tidak hormat.
”Huffftt!!!” Chana menghela napas panjang sebelum menanggapi keputusan sepihak Aminah.
“Maaf banget ya tan, bukannya saya lancang atau tidak sopan, yang pertama katakan pada anak tante Adipati Leon itu untuk menjauh sendiri, karena aku enggak pernah mengejar dia, yang kedua, aku enggak akan berhenti tanpa ada surat putusan dari pihak rumah sakit!” Chana yang telah dewasa tak mau begitu saja di perdaya oleh Aminah.
“Kurang ajar! Enggak tahu diri, beraninya melawan ku!” mata Aminah melotot pada Chana.
“Kalau tante sudah menyelidiki ku, pastinya tante tahu yang selalu mencari kesempatan untuk bertemu aku ya Leon, jadi kemana pun aku pergi kalau Leonnya tidak mau menjauh semua akan percuma tante,” terang Chana.
“Percaya diri sekali kau!” Aminah yang tak ingin banyak cerita lagi mengeluarkan cek kosong dan surat perjanjian dari tasnya.
“Tulis berapa nominalnya, tapi kau harus menjauh dari anak ku!” pekik Aminah.
Chana yang terus di rendahkan merasa gerah dengan Aminah yang selalu menganggarkan kekayaannya.
“Aku akan sembunyi ke tempat yang tak bisa di temukan Leon, asalkan tente menyerahkan seluruh harta kekayaan tante pada ku.” permintaan Chana yang berlebihan membuat Aminah gusar.
“Setan!” pekik Aminah.
...Bersambung......
__ADS_1