
Ia yang merasa tenang kini tak perlu lagi mengatur waktu untuk bertemu Chana.
“Saatnya jemput istri!” Stefan pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit Medika Raya.
Setelah 35 menit menempuh perjalanan ia pun melihat Chana yang sedang berdiri di pinggir jalan.
“Tepat waktu.” Stefan pun menghentikan mobilnya di hadapan Chana.
Chana yang melihat mobil suaminya merasa tak nyaman.
Ngapain sih dia kesini? batin Chana.
Meski kesal namun Chana tak bisa berbuat apapun, akhirnya ia pun masuk ke dalam mobil suaminya.
“Baru pulang kerja ya mas?” Chana menjabat tangan Stefan.
“Iya, oh ya sayang, hari ini kita pindahan ya,” ucap Stefan.
“Kemana mas?” kabar mendadak itu membuat Chana jengkel, sebab ia harus repot menyusun barang-barangnya.
“Ke rumah baru kita.” Stefan mengelus puncak kepala Chana.
“Akhir pekan sajalah mas, aku cape banget kalau harus menyusun baju-baju ku malam ini,” ujar Chana.
“Tenang saja, karena rumah baru kita perabotannya sudah lengkap, baju-baju untuk mu juga sudah ku sediakan, jadi kau hanya bawa dirimu sendiri sayang.” bujukan Stefan yang anti penolakan membuat Chana hanya mengangguk setuju.
Biarlah, lagi pula Leon juga sudah punya yang lain, batin Chana.
“Ayo mas.” Chana yang hidupnya hambar hanya pasrah mengikuti alur cerita yang di beri Tuhan padanya.
“Oke sayang.” Stefan pun melajukan mobilnya
menuju rumah Sarah.
Satu tahun lagi, setelah itu aku akan bebas dan bisa menentukan apa yang akan ku lakukan, batin Chana.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan mobil yang di kendarai Stefan berhenti tepat di depan pintu utama rumah megah berlantai dua.
Rumah itu 3 kali lebih besar dari rumah yang di tempati Chana.
Lalu keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Chana yang melihat banyak photo-photo Sarah menoleh ke arah suaminya.
“Jadi ini rumah kalian?” tatapan tak suka tergambar di wajah Chana, karena ia berpikir kalau Stefan akan membuatnya tinggal satu atap dengan madunya.
“Iya, kau suka rumahnya kan?” ujar Stefan.
__ADS_1
“Enggak sama sekali, untuk apa aku tinggal bersama kak Sarah? Otak mu sehat enggak sih mas?!” Chana membentak Stefan.
“Jangan khawatir, karena Sarah sudah pergi dari rumah ini.” pemberitahuan Stefan membuat Chana tercengang.
Mereka enggak cerai beneran kan? batin Chana.
“Pergi kemana kak Sarah?” Chana sangat penasaran dengan keberadaan Sarah sekarang.
“Entahlah, tadi malam kami bertengkar karena mu, katanya dia muak pada ku, setelah itu dia pergi begitu saja.” penjelasan dari Stefan membuat Chana lemas.
Sebab ia dan Stefan otomatis akan membina rumah tangga selamanya.
“Jadi mas enggak mengejarnya?” ucap Chana dengan raut wajah kusut.
“Tidak, untuk apa aku melakukan itu, perpisahan ini adalah kemauannya sendiri sayang.” Stefan yang tak ingin membahas Sarah lagi memeluk Chana.
“Lupakan dia, karena sekarang semua hanya tentang kita, seluruh cinta dan kasih sayang ku akan ku curahkan pada mu, Chana.” Stefan mengencangkan pelukannya.
Chana yang mendapat perlakuan istimewa itu sama sekali tidak bahagia.
“Mas aku lelah, aku mau istirahat,” pinta Chana.
“Baiklah, ayo kita ke kamar.” Stefan pun menggenggam tangan Chana menuju kamar utama rumah itu.
Ternyata kemesraan keduanya di lihat langsung oleh Lilis yang belum keluar dari rumah itu karena ia menunggu di jemput suaminya dari kampung.
“Loh, kok bisa tuan membawa perempuan lain ke kamar nyonya? Bukannya nyonya juga ada di kamar itu? Ada apa ini sebenarnya?” Lilis tak mengerti mengenai apa terjadi.
🏵️
Sesampainya di dalam kamar mata indah Chana kembali melihat photo-photo Sarah.
Perasaan Chana merasa tak enak jika harus tidur di kamat itu.
“Mas, kita ke kamar lain saja ya, aku enggak suka disini,” ucap Chana.
“Sudah, disini saja.” Stefan yang nyaman di kamar itu tak ingin ingin pindah, meski ia telah menghabisi nyawa istrinya disana.
“Baiklah.” Chana yang lelah memilih mengalah.
“Sayang.” Stefan menggenggan kedua tangan Chana.
“Apa mas?” sahut Chana.
“Ayo mandi bersama.” tanpa menunggu persetujuan Chana Stefan langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju kamar mandi.
“Mas, aku bisa jalan sendiri.” Chana merasa Stefan kekanak-kanakan sekali malam itu.
__ADS_1
“Ini adalah masa kejayaan kita, kau akan ku jadikan ratu satu-satunya di dalam hidup ku.” Stefan ingin menikahi Chana secara resmi dalam waktu dekat.
“Kontrak kita satu tahun lagi mas, dan aku minta maaf tidak bisa melanjutkan hubungan pernikahan kita ini lagi.” Chana mengutarakan keputusannya.
Mendengar perkataan istrinya Stefan menjadi naik pitam.
Ia pun menurunkan tubuh Chana di depan pintu kamar mandi.
“Kau pikir aku akan mengabulkannya?! Jangan banyak tingkah kau Chana! Ku tahu selama ini kau tak ada hati pada ku, tapi ku minta mulai sekarang kau belajar mencintai ku, jangan suka uang ku saja, karena untuk bersama dengan mu butuh pengorbanan besar!” pekik Stefan.
“Aku punya hak untuk memilih mas, tolong hargai aku!” Chana yang tegas membuat Stefan panas.
“Jangan bermimpi bisa pergi dariku! Kau harus tahu diri dan bisa bersyukur dengan apa yang kau dapatkan sekarang.” kemudian Stefan melucuti baju Chana.
“Mas, aku lagi enggak selera!” Chana menolak berhubungan badan dengan Stefan.
“Itu urusan mu, Chana! Aku ingin anak dari mu.” Stefan yang geram akan perubahan Chana langsung membawa masuk istrinya ke kamar mandi.
“Aku enggak mau mas! Aku belum siap punya anak!” pekik Chana.
“Jangan egois! Kau itu sudah cukup umur, jangan pernah menguji kesabaran ku! Chana, jangan lupa daratan!” Stefan yang murka tak mau mendengar rengekan Chana lagi.
“Lepaskan aku!” teriak Chana.
Stefan yang kewalahan pun membungkam mulut Chana dengan ciumannya.
Kau pikir bisa lepas dariku? Aku berani berbuat gila demi dirimu, enak saja kau mau pergi dengan laki-laki itu! Benar-benar wanita tak tahu malu! batin Stefan
Stefan yang gagah pun mengunci ruang gerak Chana, hingga wanita cantik itu hanya menerima setiap serangan Stefan yang ingin menanam benihnya di rahim istrinya.
“Kita bukan pasangan zina, melayani ku adalah kewajiban mu!” ucap Leon.
Aku enggak mau hamil anak mi mas, batin Chana.
🏵️
“Dok, aku sangat penasaran dengan alasan dokter mengajak ku makan malam, pada hal kita enggak banyak komunikasi sebelumnya,” ucap Lisa.
“Aku hanya ingin berteman dengan mu.” Chana yang bagai racun dunia mampu mematahkan niat Leon untuk mengajak Lisa berpacaran.
“Benarkah?” wajah Lisa terlihat kecewa saat mendengar perkataan Leon.
“Ini karena kita rekan kerja, aku ingin lebih kompak dengan mu,” ujar Leon.
“Iya dok, aku setuju dengan yang dokter katakan.” harapan Lisa untuk melepas masa lajang pupus di tengah ******.
...Bersambung......
__ADS_1