Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Bongkar Aib


__ADS_3

Bantu Author untuk selalu kasih rate 5 di setiap babnya readers.


Sedang Jesika hanya memberikan senyum manisnya pada kekasih barunya.


Sesampainya Leon ia pun meletakkan kedua tangannya di meja Jesika.


“Apa tugas mu sudah selesai?” tanya Leon dengan lembut.


“Sudah, terimakasih sudah mengingatkan ku.” Jesika tersenyum pada Leon.


Chana yang menyaksikan interaksi di antara keduanya merasa panas dingin.


Untung aku tak jadi menyapanya tadi, batin Chana.


Chana yang merasa sesak menyibukkan diri dengan mengambil satu kilo jahe dari tasnya, sebab ia ingin membuat obat antibiotik di ruang praktik setelah jam istirahat pertama selesai.


“Jadi ke gym enggak entar sore?” tanya Leon yang ingin mempertegas garis kotak-kotak perutnya.


Puk!


Chana yang syok tanpa sengaja menjatuhkan jahenya ke lantai.


Sontak Leon dan Jesika menoleh ke arah dirinya.


“Kau kenapa Chana?” tanya Jesika.


“Enggak apa-apa.” sahut Chana dengan suara bergetar.


“Oh...” lalu Jesika kembali menoleh ke arah Leon.


“Jadi, nanti jam 5 sudah disana ya,” ucap Jesika.


“Oke.” setelah menentukan waktu Leon kembali ke bangkunya.


Chana yang mengambil jahenya di lantai ingin menangis darah saat itu juga, namun ia menahannya.


Lalu ia pun melihat Leon yang telah duduk di bangkunya dengan tawa yang ceria.


Keterlaluan! Sampai sahabat ku pun ingin kau rebut dariku? batin Chana.


Ia tahu kalau hubungannya dengan Jesika akan berakhir jika keduanya sampai berpacaran.


2 jam kemudian Chana yang tak cukup uang untuk ke kantin memutuskan langsung ke ruang praktik untuk mengolah jahe yang ia bawa.


“Chana, ikut ke kantin enggak sama aku dan Leon?” Jesika mengajak sahabatnya untuk jajan.


Apa? Kenapa aku yang jadi orang lain? batin Chana.


“Enggak! Kalian saja.” Chana yang takut tak bisa menahan emosinya memilih pergi.


Lalu ia pun menatap tajam Leon yang ada berdiri di pintu.

__ADS_1


Brengsek! batin Chana.


Ia pun keluar dari kelas dengan menahan rasa sakit dalam dadanya.


Sesampainya di ruang praktik, Chana langsung memilih tempat duduk paling pojok yang sedikit jauh dengan orang lain, sebab ia tak mau berinteraksi dengan siapa pun.


Apa penyiksaan yang kau berikan belum cukup? batin Chana.


Ia yang ingin menjerit memukul dadanya dengan kuat, karena tak mungkin baginya mempermalukan dirinya yang tak punya wibawa di mata siapapun berkat Leon yang merendahkannya di mata semua orang dengan terang-terangan.


“Sabar...” kata itu selalu Chana ucapkan berulang-ulang untuk menenangkan hatinya.


Ia yang ingin mendapat nilai bagus pun mengerjakan tugas praktek yang di berikan oleh gurunya dengan sungguh-sungguh


Tet... tet.. tet...


Setelah bel berbunyi para siswa siswi menuju ruang praktik.


Jesika yang datang bersama Leon melihat Chana dengan jas putihnya sedang menumbuk jahe.


”Chana rajin ya.” Jesika memuji sahabat yang telah ia patahkan hatinya.


“Karena ini adalah cita-citanya,” ucap Leon.


“Kau benar, kalau begitu aku ke tempat dia dulu ya.” Jesika pun mengangkat roti bakar yang baru ia beli untuk sahabatnya.


“Iya.” kemudian Leon mencari bangku dan meja untuk ia mengerjakan tugasnya.


“Aku lagi puasa, bawa lagi.” Chana menolak karena ia tak ingin menyentuh pemberian Jesika.


“Untuk berbuka, jangan menolak aku tahu kau tak punya uang.” Jesika yang tahu kondisi sahabatnya yang kekurangan materi selalu memberi perhatian lebih.


Chana yang cemburu merasa apa yang di lakukan Jesika saat itu adalah bentuk penghinaan padanya.


“Untuk mu saja, ku yakin kau akan lapar sebentar lagi.” ucap Chana tanpa melihat wajah Jesika.


Jesika yang jengkel pun mengambil kasar roti bakarnya. Ia pun pergi seraya mengoceh.


“Sudah miskin, belagu lagi!” Jesika mencibir Chana yang tak punya apapun.


Chana yang mendengar itu langsung melempar sisa jahe yang belum di tumbuk ke punggung Jesika.


Puk!


“Ck!” Jesika berdecak, karena ia tak suka dengan tindakan kasar Chana.


Ia yang ingin memarahi sahabatnya langsung memutar badannya.


“Apa-apaan kau!” pekik Jesika.


Suara keras gadis cantik itu menarik perhatian orang-orang yang ada dalam ruangan.

__ADS_1


Chana yang sudah pada batas sabarnya mendatangi Jesika.


“Aku tidak akan menyalahkan mu karena sudah salah memilih jalan, yang ku minta hanya satu, menjauh dariku! Karena aku lebih memilih berteman dengan sepi dari pada bersama dengan orang yang pandai menyakiti!” Chana yang ingin mencuci wajah keluar dari ruangan.


Orang-orang yang tahu jika masalah keduanya adalah Leon memberikan beragam tanggapan.


“Enggak punya otak banget ya si Jesika! Sudah jelas Leon dan Chana masih bersama, tapi dia malah mau jadi selingkuhan laku-laki buaya itu.” Ida merasa kesal pada Jesika.


“Betul, itu sih namanya tolol bin goblok! Pengkhianat!” pekik Ani.


Kata-kata kasar itu di dengar Jesika dan juga Leon.


Aril yang ada di sebelah Leon pun tak dapat menerima perbuatan keduanya.


“Kali ini kau keterlaluan, apapun masalah mu dengan Chana, kau tak pantas berbuat sejauh ini.” Aril kecewa pada Leon yang tak mau di nasehati.


“Tenang saja, dia akan tetap bertahan.” ucap Leon dengan percaya diri.


Sementara Jesika yang mendapat pandangan buruk merasa sangat malu. Meski pun begitu ia tetap ingin melanjutkan hubungannya dengan Leon.


Awas kau! Akan ku sebar aib mu yang sudah tak suci dan pernah menggugurkan anak, batin Jesika.


Ia yang dekat dengan Chana tahu secara diam-diam sandi handphone sahabatnya.


Ia yang awalnya ingin menghina Leon yang sering selingkuh malah melihat isi pesan Chana dan Leon yang belum di hapus.


🏵️


Chana yang ada di bilik toilet lagi-lagi menangis, ia yang belum mengeringkan air matanya tiba-tiba menerima notifikasi di handphonenya.


Yang mana itu adalah pesan baru dari anonim di group chat sekolah mereka.


Mata Chana membelalak saat melihat isi percakapan lamanya dengan Leon terekspos di publik, namun anehnya si anonim mencoret nama Leon dengan garis biru.


Wanita ini benar-benar monster, apa kalian tahu kalau bayinya di gugurkan? Kalau banyak yang komen, aku akan kasih tahu siapa nama pembunuh itu, ✉️ Anonim.


Chana tahu jika Leon tidak mungkin melakukannya, ia hanya berpikir kalau kekasihnya membongkar keburukannya pada orang lain.


“Kejam!” Chana yang tak bisa melihat orang lain memutuskan untuk cabut dari sekolah.


🏵️


Leon yang juga melihat pesan itu kaget bukan main, lalu ia pun membalas di kolom komentar.


Sebaiknya kau jangan main api, atau kau akan berakhir di jeruji besi, ✉️ Anonim.


Semua orang yang memakai aplikasi group chat itu memiliki nama yang sama, hingga siapapun bisa mengirim dan berkomentar sesuka hati tanpa memikirkan resikonya bagi orang lain.


Seketika Leon menjadi kepikiran pada Chana karena kiriman itu di komentari ratusan orang.


“Chana...” Leon pun melihat ke arah kursi kekasihnya yang masih kosong.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2