
Duar!
Bagai di tembak pistol Colt M1911A1 di siang bolong saat Jesika baru menyadari bahwa yang mengirim pesan anonim padanya waktu itu adalah Chana sendiri.
“Kau benar, aku setuju.” walau benci ingin memukul wajah Chana yang telah membuat ia malu, namun Jesika tak bisa berbuat apapun.
Pasalnya ia yang salah total tak ingin di lapor ke kantor polisi.
Saat mereka ingin lanjut mengobrol seorang pramusaji yang dari tadi sibuk melayani pelanggan lain mendatangi mereka.
“Mau pesan apa kak?” tanya sang pramusaji pada mereka berdua.
“Bakmi mewah satu, banyakin ayam dan daun bawangnya ya, minumnya air mineral saja,” pinta Chana.
“Aku pesan menu yang sama,” ucap Jesika.
Ia berpikir jika salah satu rahasia kecantikan Chana makan daun bawang dengan porsi yang banyak.
“Baik kak.” sang pramusaji pun beranjak ke dapur untuk membuat pesanan mereka.
🏵️
Leon yang tak jadi libur hari itu datang ke rumah sakit untuk membaca kotak saran pasien yang di buat di atas meja yang ada di lobi utama.
Leon pun beranjak menuju ruang kerjanya sebagai CEO yang ada di lantai dua.
Sesampainya Leon ke ruangannya, ia pun duduk di atas sofa putih agar lebih santai.
“Letakkan disini saja Key.” Leon menunjuk ke arah meja kaca hitam yang ada di hadapannya.
“Baik dok.” Keysa pun meletakkan kotak saran tersebut sesuai dengan arahan Leon. Setelah itu Keysa keluar dari ruangan atasannya tersebut.
“Harusnya Chana ada disini, pasti seru.” Leon tersenyum saat mengingat sang mantan.
“Dia lagi apa ya sekarang?” Leon yang belum membaca satu surat pun malah ingin menelepon Chana terlebih dahulu.
🏵️
Chana yang baru selesai makan melihat panggilan masuk dari Leon.
Ngapain buaya hijau ini menelepon ku? batin Chana.
Ia makin benci pada Leon yang mendekatinya pada hal akan segera menikah dengan Jesika.
Apa itu Leon? batin Jesika.
“Kok enggak di angkat?” Jesika penasaran karena ia lihat Chana ragu untuk menerima panggilan itu.
“Dari Leon.” Chana yang tak punya perasaan menunjukkan layar handphonenya pada Jesika.
Lancang sekali wanita kobokan ini! batin Jesika.
Ia merasa gusar dan cemburu pada Chana yang pamer terang-terangan padanya.
“Apa dia sering menelepon mu?” tanya Jesika dengan tubuh bergetar.
“Enggak, karena aku malas mengangkat telepon darinya, mungkin kalau di ladeni bisa jadi tiap detik dia mengganggu ku.” Chana menjawab jujur pertanyaan Jesika.
__ADS_1
Jesika yang patah hati mengepal tangannya dengan sangat erat, hingga kuku patah dan melukai telapak tangannya.
“Oh... angkat saja, mana tahu itu penting, kalian kan satu tempat kerja.” lagi-lagi Jesika keceplosan.
Astaga! Aku kelepasan lagi, batin Jesika.
“Kau tahu banyak ya.” Chana tersenyum getir.
“Karena aku pernah melihat mu disana,” ujar Jesika.
“Tapi kau enggak menyapa ku? Wah... teganya.” Chana geleng-geleng kepala.
Jesika yang selalu di sudut kan mulai tak nyaman.
“Chana, aku pulang dulu ya karena aku masih ada pekerjaan penting.” ucap Jesika yang baru selesai makan.
“Cepat banget, sama-sama yuk!” Chana yang ingin mengerjai Jesika berencana menempel seharian pada sahabat lamanya itu.
“Bukannya masih harus belanja?” Jesika melirik ke troli Chana yang masih kosong.
“Benar juga, kau mau menemani aku enggak?” Chana tersenyum lebar pada Jesika yang dari tadi kegerahan.
“Mungkin lain kali karena aku sibuk banget.” Jesika yang tak ingin lebih lama bersama Chana dengan cepat keluar dari dalam restoran.
“Hahaha!!!” Chana tertawa terbahak-bahak karena Jesika terlihat sangat lucu di matanya.
Chana merasa panas saat Leon yang masih saja memanggil nomornya.
Halo! 📲 Chana.
Kenapa baru angkat? 📲 Leon.
Hei! Jangan sombong! Nanti kalau aku pergi kau menyesal loh! 📲 Leon.
Terserah kau saja! 📲 Chana.
Baiklah, pada hal sekarang aku lagi sakit, itu juga karena kau memaksa ku pulang, 📲 Leon.
Harusnya kau menuntut hujan, bukan aku, 📲 Chana.
Baiklah, jangan menangis kalau kau tiba-tiba merindukan aku, karena aku tidak akan ada untuk mu lagi, 📲 Leon.
Mana mungkin aku merindukan calon suami orang! 📲 Chana.
Setelah mengatakan itu Chana mematikan sambungan teleponnya.
🏵️
Leon yang belum mengerjakan apa-apa merasa geram karena Chana semakin seenaknya padanya.
“Dasar Chana! Kenapa jadi sok jual mahal pada ku?! Oh ya... calon suami orang katanya?” Leon dapat menebak kalau yang Chana temui adalah Jesika.
“Pasti Jesika sudah cerita macam-macam padanya,” gumam Leon.
Leon yang ingin menelpon Jesika tiba-tiba melihat kotak saran yang ada di hadapannya.
“Astaga, aku hampir lupa kalau banyak surat yang harus ku baca.” Leon pun mulai membaca satu persatu kritik dan saran orang mengenai rumah sakitnya.
__ADS_1
🏵️
Bam!
Jesika membanting pintu mobilnya karena emosi pada Chana yang berhasil membuatnya hampir gila karena cemburu.
“Awas saja! Akan ku katakan pada Sarah kalau kau sudah merebut suaminya, kita lihat saja! Apa kau masih bisa sepercaya diri sekarang!” Jesika berniat balas dendam melalui Sarah.
Setelah menentukan apa yang ia rencanakan, Jesika pun pulang ke rumahnya.
🏵️
Chana yang baru sampai ke rumah mendapat telepon dari Stefan.
Chana yang takut ada perlu pun langsung mengangkatnya.
Halo mas? 📲 Chana.
Halo sayang, sebentar lagi aku dan Sarah akan jalan-jalan, mau ku beli baju berapa pasang? 📲 Stefan.
Terserah kau saja mas, pilih yang menurut mas bagus saja, 📲 Chana.
Baiklah kalau begitu, oh ya... aku baru saja mengirim uang bulanan ke rekening mu, pergilah berbelanja sayang, 📲 Stefan.
Oke mas, terimakasih banyak, semoga rezeki mu makin berlimpah ruah, 📲 Chana.
Aamiin, aku tutup dulu ya sayang, jangan lupa makan yang banyak biar kau sehat, 📲 Stefan.
Siap mas, hehehehe, 📲 Chana.
🏵️
Stefan tersenyum bahagia setelah mendengar suara istri keduanya.
Ia yang ingin pergi ke kamar mandi yang ada di belakang sofa yang ia duduki tanpa sengaja melihat Sarah berdiri tegak di mulut pintu kamar hotel mereka.
“Sayang, sejak kapan kau berdiri disitu?” Stefan merasa jantungan, karena ia yakin Sarah mendengar percakapan mesranya dengan Chana.
“Dari tadi.” kemudian Sarah melangkahkan kakinya menuju Stefan.
“Benarkah?” Stefan menelan salivanya karena merasa tegang..
“Kau teleponan dengan siapa tadi?” pertanyaan Sarah membuat Stefan grogi dan takut.
“Mas, kau enggak tuli kan? Siapa yang tadi kau panggil sayang?” Sarah mendesak Stefan untuk buka suara.
“Itu ibu ku.” Stefan berbohong karena tak ingin dapat masalah dari istrinya.
“Oh... ku pikir perempuan lain.” kemudian Sarah menatap tajam suaminya.
“Kalau sampai itu bukan ibu mu, maka aku akan cari tahu sendiri, jika terbukti kau berbohong, kau akan tahu akibatnya.” Sarah yang tempramen dan juga posesif tidak akan membiarkan masalah itu berlalu begitu saja.
“Aku mengerti sayang, sebaiknya sekarang kita ke pergi berbelanja.” Stefan pun merangkul bahu istrinya keluar dari rumah.
Kalau sampai kau menyakiti Chana, maka kau akan menyesal telah berurusan dengan ku, batin Stefan.
Stefan yang muak pada Sarah yang semakin tua namun belum bisa memberinya anak pun merasa mantap untuk menceraikan istri pertamanya.
__ADS_1
...Bersambung......