
Jesika yang akan segera menjadi tunangan Leon merasa berhak atas rumah sakit itu.
Setelah aku menjadi istri Leon, aku akan ikut turun tangan mengurus rumah sakit ini, batin Jesika.
Ia pun berencana membuat banyak aturan agar karyawati disana tidak dekat dengan Leon.
Sesampainya di ruangan Leon, Jesika langsung meletakkan sarapan mereka berdua di atas meja kerja kekasihnya.
“Ayo makan, nanti kalau sakit, kau enggak akan bisa mengobati pasien-pasien mu?!” Jesika tersenyum seraya membuka perbekalan yang ia bawa.
Tak!
Saat Leon melihat lauk yang di bawa Jesika ia seketika teringat mantan kekasihnya yang pernah memasak telor gulung padanya.
Pada hal sudah 9 tahun, tapi aku belum juga bisa melupakannya, batin Leon.
Kemudian Leon dan Jesika duduk saling berhadapan.
“Ayo di makan.” ujar Jesika seraya memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Gap!
Saat Leon pertama kali mencicipi masakan Jesika hatinya tersentak, sebab rasanya sama persis dengan yang Chana buat padanya di masa lalu.
“Bagaimana rasanya? Enak enggak?” tanya Jesika.
“Enak sekali, tak ku sangka kau bisa membuat bekal sarapan seistimewa ini.” Leon memberi pujian pada Jesika.
“Iya dong, hehehe...” Jesika bahagia mendapat tanggapan positif dari sang kekasih.
Setelah mereka selesai makan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan Leon.
Tok tok tok!
“Masuk!” ucap Leon.
Ceklek!
Seorang bidan membuka pintu dengan sangat pelan.
“Maaf mengganggu waktunya dok, ini sudah masuk jam kerja, dan pasien sudah banyak yang mengambil antrian, bisa di mulai sekarang atau bagaimana dok?” Deli menanyakan pendapat Leon.
“Tunggu 2 menit lagi.” Leon perlu merapikan mejanya yang baru di pakai untuk makan.
“Baik dok.” sahut Deli seraya keluar dari dalam ruangan Leon.
“Hei.” Leon menatap ke arah Jesika yang sibuk merapikan kotak makan mereka.
__ADS_1
“Apa?” sahut Jesika.
“Sebaiknya kau pergi kerja, lagi pula kau syuting jam 10 kan?” Leon yang tak nyaman Jesika menempel padanya, memutuskan untuk menyuruh sang kekasih masuk bekerja.
“Tenang saja, aku tidak akan mengganggu mu.” Jesika yang masih rindu tetap ngotot untuk mendampingi kekasihnya.
“Aku janji nanti malam kita pergi dinner, untuk sekarang kau boleh pulang, aku tidak mau ada rumor miring karena mu yang bukan karyawan rumah sakit ini.” Leon yang ingin terlihat profesional bersikap tegas pada Jesika yang malas bekerja.
Jesika pun menyunggingkan bibirnya, ia tak suka dengan Leon yang mengusirnya dari ruangan itu.
Namun apa boleh buat ia yang takut Leon pergi darinya terpaksa menuruti perkataan kekasihnya.
“Baiklah! Tapi jangan ingkar janji ya, nanti malam jemput aku ke stasiun tv Saya_muchu,” ucap Jesika.
“Iya, aku pasti akan datang.” Leon merasa senang karena Jesika mau menuruti permintaannya.
Setelah Jesika selesai berkemas, ia pun keluar dari ruangan Leon, tapi sebelum itu gadis cantik itu memberi 1 kecupan di pipi kanan Leon.
“Selamat bertugas pak dokter umum!” Jesika melakukan kiss bye pada sang kekasih.
Leon yang tak romantis sejak putus dengan Chana hanya tersenyum dengan tingkah lucu Jesika.
Setelah Jesika pergi Leon pun duduk di kursinya seraya menekan tombol yang ada di sebelah mejanya.
“Nomor antrian A satu di persilahkan masuk ke ruangan tiga.” ucap mesin otomatis yang menjadi pemanggil urutan pasien untuk bertemu dokter.
“Selamat pagi nek,” sapa Leon.
“Pagi dok.” sahut si nenek dengan wajah masam.
“Ada keluhan apa nek?” tanya Leon seraya memegang kursor komputernya.
“Saya demam dok, mual, sesak nafas, pusing yang luar biasa.” si pasien mengatakan keluhannya seraya duduk di kursi pasien yang ada di hadapannya.
“Sejak kapan bu demamnya?” tanya Leon kembali.
“Sudah dua hari, dan sekarang tenggorokan saya juga gatal, apa mungkin saya kena penyakit kronis dok?” wajah panik dan khawatir si nenek membuat Leon tersenyum kecil.
“Ayo kita periksa dulu ya nek.” Leon menuntun si nenek menuju ranjang pasien.
Setelah si nenek merebahkan tubuhnya, Leon pun memasukkan stetoskopnya ke dada dan perut si nenek.
“Apa saya hamil dok?” tanya si nenek dengan raut wajah serius. Hal itu pun membuat Leon hampir tertawa.
“Tenang ya nek, nenek hanya demam biasa, tapi disertai maag dan juga radang tenggorokan, untung nenek datang cepat, kalau enggak radang nya bisa jadi batuk nih,” terang Leon.
“Kok bisa saya kena maag ya dok, selama ini saya sehat-sehat saja kok.” si nenek tidak yakin kalau ia mengidap penyakit yang biasa di idap semua orang itu.
__ADS_1
“Itu karena sering terlambat makan, sering makanan pedas dan berminyak, telatnya makan bisa menyebabkan masuk angin yang berujung sesak nafas,” terang Leon.
“Oh... dokter benar juga, pola makan saya memang tidak teratur, bahkan saya makan pagi selalu di atas jam 11 siang, pagi-pagi saya juga suka minum kopi.” si nenek menerangkan kebiasaannya.
“Nah! Karena itu nenek harus lebih perhatian sama diri sendiri ya nek, ini saya tuliskan resep, nanti nenek tebus ke bagian farmasi ya.” Leon pun menulis beberapa obat yang harus di konsumsi nenek tersebut.
“Ini nek.” Leon memberikan resep obat pada si nenek.
“Terimakasih banyak ya dok.” si nenek pun menerimanya lalu keluar dari ruangan Leon.
Hari itu Leon bekerja dengan sangat semangat, terlebih dirinya bekerja di negara sendiri, berbeda saat ia mengabdi di rumah sakit London.
Pada pukul 19:00 Leon yang telah menyelesaikan tugasnya beranjak untuk pulang, karena ia masih ada janji makan malam dengan Jesika pukul 20:00 malam.
Ia yang selesai berkemas menjinjing tasnya lalu keluar dari ruangannya.
Saat Leon akan keluar dari pintu karyawan tiba-tiba ia merasa perutnya perih.
“Ya ampun, maag ku kambuh lagi.” Leon yang sibuk menangani pasien sampai lupa menjaga kesehatannya.
“Coba aku ambil obat dulu.” Leon memutuskan ke farmasi terlebih dahulu sebelum menjemput Jesika.
Sesampainya di farmasi Leon pun meminta obat pada Apoteker yang berjaga.
“Rantin 150 gram sekotak,” pinta Leon.
“Harganya 765.000 ya pak,” ucap sang apoteker.
Sontak Leon menoleh ke kaca pembatas antara pembeli dan penjual, matanya pun membelalak sempurna saat ia melihat wajah apoteker yang berjaga mirip dengan sang mantan kekasih.
Begitu pula dengan si apoteker, ia terlihat kaget melihat Leon.
“Hei, Chana! Cepat berikan obatnya!” Rena mencolek pinggang rekan kerjanya.
“Ah, iya...” Chana merasa syok sebab ia tak menyangka bertemu orang yang ia hindari selama ini.
“Ini pak.” Chana menyerahkan obat dalam plastik bertuliskan nama rumah sakit itu pada Leon.
“Jam berapa kau pulang?!” pekik Leon.
Rena yang berdiri di sebelah Chana merasa heran, sebab sang pemilik rumah sakit terlihat kenal pada Chana.
“Saya shift malam pak,” ujar Chana.
“Loh, bukannya sebentar lagi kau pulang?” ucap Rena yang satu shift bersama Chana.
Chana pun menatap marah pada Rena yang memberitahu jam pulang kerjanya.
__ADS_1
...Bersambung......