Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Histeris


__ADS_3

Bagi like dan rate 5 ya readers tersayang, biar author makin semangat update.


Chana hanya tersenyum menanggapi pendapat Rena.


Setelah kedua apoteker itu selesai makan siang mereka pun kembali bekerja.


Apa dia sudah makan? batin Chana.


Chana jadi memikirkan Leon, sebab sang mantan terindah tak terlihat dimana pun hari itu.


🏵️


Aminah yang sedang makan siang bersama suaminya mulai membahas masa depan putra mereka.


“Yah, Leon kan sudah cukup umur, kapan kita menikahkan dia dengan Jesika?” Aminah ingin Pratama membantunya untuk bicara pada anaknya.


“Kalau memang Leon sudah siap, pasti dia akan mengatakannya pada kita,” ujar Pratama


“Ayah ini gimana sih?! Ayah tahu sendirikan kalau anak kita sudah perjaka tua! Tapi anehnya Leon itu belum ada niat untuk menikah, ayah mikirin perasaan ibu enggak sih? Ibu khawatir kalau anak kita enggak laku-laku.” Aminah kesal pada suaminya yang terlihat santai.


“Biar saja bu, Leon itu sudah dewasa, dia tahu apa yang terbaik untuknya.” Pratama yang super sibuk malas untuk mengurus soal jodoh anaknya.


“Ayah sadar enggak sih, kalau ayah cuma punya anak satu? Itu juga, dia enggak mau jadi penerus ayah, memangnya ayah rela memberikan jabatan ayah pada orang lain?” Aminah memberitahu salah satu ke khawatirannya.


“Kau benar juga.” Pratama merasa apa yang di katakan istrinya benar.


“Kalau dia menikah lebih cepat, kita akan dapatkan cucu, nah! Anak Leon yang kita arahkan agar mau menjadi seorang pebisnis, ayah... jangan sampai perusahaan jatuh ke tangan Adipati yang lainnya.” Aminah memperingati suaminya.


“Baiklah, aku mengerti, nanti ayah akan bicara pada Leon.” Adipati yang merasa was-was ingin segera menikahkan putranya, kini malah ia lebih bersemangat di bandingkan Aminah.


🏵️


Chana yang akan pulang kerja terus melihat ke arah koridor ruangan Leon.


Kok dia enggak datang juga ya? Apa dia sakit karena pulang hujan-hujanan kemarin? Atau lagi sibuk? batin Chana.


Ia menjadi penasaran dengan kondisi Leon, tapi Chana yang bukan siapa-siapa Leon lagi tak dapat menanyakannya secara langsung.


Akhirnya malam itu Chana pulang dengan tenang tanpa ada gangguan dari Leon.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa saat, Chana pun sampai di rumah.


Ia yang turun dari motornya lagi-lagi melihat ada kotak segi 4 di depan pintunya.

__ADS_1


“Apa ini teror lagi?” Chana yang takut melihat sesuatu yang menyeramkan memutuskan untuk membuang kotak itu ke tong sampah.


“Besok aku akan membuat pagar rumah ini.” Chana yang merasa merinding bergegas masuk ke dalam rumahnya, sebab ia takut jika ada orang yang mencelakainya jika berlama-lama ada di luar apa lagi saat itu telah malam.


“Astaga! Aku tegang banget!” Chana yang merasa lapar langusung bergegas ke dapur untuk makan.


Saat ia mencuci tangan di wastafel pencuci piring, tanpa sengaja Chana merasakan angin malam dari jendela kaca yang ada tepat di hadapannya.


“Astaga! Ternyata belum di kunci?” Chana pun bergegas menutup rapat jendelanya.


Setelah itu Chana mengambil piring dan juga gelas dari rak piring yang ada di sebelah wastafel.


Kemudian Chana mengambil nasi dan juga lauk di atas meja makan, selanjutnya Chana menyantap semua makanan yang ada di piringnya.


Setelah selesai makan Chana beranjak ke kamarnya.


Chana yang ingin membersihkan wajahnya melihat ada yang aneh di meja riasnya.


“Bukannya parfum ini enggak pernah ku keluarkan?” Chana memasukkan kembali parfum itu ke dalam laci meja riasnya.


Selanjutnya Chana masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk.


🏵️


Leon yang baru pulang dari Bandung bertemu ayahnya di ruang tamu yang memang sengaja menunggunya.


“Ada apa yah?” Leon pun duduk di sebelah Pratama.


“Minggu depan kita ke rumah Jesika, papa ingin kita segera melamarnya.” Pratama yang butuh cucu ingin anaknya segera menikah.


“Ayah bercanda ya?” Leon tak habis pikir dengan rencana mendadak ayahnya.


“Ini serius, ayah ingin kau menikah sebelum akhir bulan,” ujar Pratama.


“Enggak mau, kenapa ayah tiba-tiba jadi sok sibuk?” Leon menolak keputusan Pratama.


“Leon, ayah tidak mau tahu, pokoknya kita harus melamarnya secepatnya,” ucap Pratama.


“Aku enggak akan menikah dengan orang yang tidak ku cintai ayah.” Leon tetap menolak meski itu perintah dari ayahnya.


“Baik, ayah enggak akan memaksa mu untuk menikahi Jesika, tapi kau wajib membawa colon menantu untuk ayah paling lama awal bulan depan, dengar! Itu wajib, jangan karena mu yang terlalu santai melajang perusahaan ayah jadi hancur, Leon... ayah butuh penerus, dan kau tidak memenuhi harapan itu.” pernyataan Pratama membuat Leon sadar.


“Baik ayah.” Leon pun merasa bersalah pada kedua orang tuanya, apa lagi ia adalah anak satu-satunya di keluarganya.

__ADS_1


“Sudah, kembalilah ke kamar mu,” titah Pratama.


“Iya ayah.” kemudian Leon beranjak ke kamarnya dengan perasaan kacau.


Sesampainya di kamar, Leon duduk di atas sofa yang ada di dekat jendela.


“Bagaimana bisa aku lupa kalau aku adalah anak tunggal?” Leon menjadi bingung, sebab orang satu-satunya yang ia cintai hanyalah Chana seorang.


“Andai dia mau cerai dari suaminya, pasti langsung ku lamar.” Leon masih berharap Chana mau berpisah dari suaminya.


Leon yang ingat akan Jesika pun memutuskan untuk menelepon kekasihnya tersebut.


Halo, kau lagi apa? 📲 Leon.


Halo, lagi santai saja, ada apa sayang? 📲 Jesika.


Begini Jes, sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada mu karena sampai saat ini aku belum bisa menjadi laki-laki yang baik untuk mu, 📲 Leon.


Kau mau bilang apa sih? Kenapa sampai minta maaf? 📲 Jesika.


Jes, aku enggak bisa untuk melanjutkan hubungan kita lagi, karena sampai detik ini aku belum dapat mencintai mu, maafkan aku. Seperti yang ku katakan dulu, apabila hati ku belum tergerak juga, kau harus ikhlas menerima kalau kita harus mengakhiri hubungan ini, 📲 Leon.


Mendengar keputusan Leon yang begitu mendadak membuat Jesika syok.


Ia tentu saja tak bisa menerima keputusan Leon meski mereka berdua telah memiliki perjanjian di masa lalu.


Apa ini semua karena Chana? 📲 Jesika.


Tidak, ini Murni karena hati ku yang belum siap, jangan salahkan orang lain Jesika, 📲 Leon.


Oh, begitu ya? Baiklah, aku mengerti, 📲 Jesika.


Terimakasih atas pengertiannya, ku harap kau masih mau jadi teman ku, 📲 Leon.


Tentu saja, aku juga akan selalu setia pada mu, kapan saja kau ingin kembali jangan pernah ragu, karena pintu hati ku selalu terbuka untuk mu, 📲 Jesika.


Iya, kalau begitu aku tutup dulu, 📲 Leon.


Setelah sambungan telepon terputus Jesika langsung berteriak sekencang-kencannya.


“Akhhh!!!!” Jesika yang patah hati jadi gila, ia pun menyiksa dirinya sendiri dengan cara menampar wajahnya dan menarik-narik rambut panjangnya.


“Jahat!! Pada hal aku tak pernah selingkuh darinya, 9 tahun aku menunggu, tapi dia tak pernah menghargai semua usaha ku, hiks!” Jesika menangis histeris.

__ADS_1


...Bersambung......



__ADS_2