
“Kau pikir uang bisa mengatasi segala?” ucap Chana seraya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar lobi utama.
“Bisa!” jawab Leon.
“Kau salah, andai kata orang yang kau pecat tukang bedah, memangnya gantinya akan datang sekejap mata? Apa yang baru bisa seperti yang sebelumnya? Jangan-jangan yang kau terima belum pernah pegang pisau lagi,” terang Chana.
“Kalau begitu aku akan potong gajinya, tapi... kalau mereka mencibir ku karena mendekati mu aku bisa terima,” ucap Leon.
“Kenapa begitu?” Chana pikir Leon ingin menyusahkan nya lagi.
“Karena aku ingin mereka tahu, untuk mendapatkan mu itu tidak mudah, alasan lainnya adalah, yang pantas menjadi pendamping mu hanya lelaki kelas atas seperti ku,” terang Leon.
“Xixixixi... kalau kau katakan itu sebelum aku menikah mungkin aku akan luluh meski pun aku sudah tak punya muka untuk melihat masyarakat bumi terutama orang tua mu. Leon... alasan lain aku tak mau pada mu, itu karena ibu mu juga ikut menyusahkan aku.” Chana geleng-geleng kepala karena ia merasa Leon terlalu konyol.
“Apa maksud mu?” seketika Leon menjadi penasaran karena Chana membawa-bawa ibunya.
“Apa aku harus bilang?” ucap Chana seraya duduk di halte rumah sakit.
Kami sudah sampai di luar? batin Leon.
Ia tak sadar karena asyik mengobrol dengan mantan kekasihnya.
“Katakan!” Leon yang penasaran pun duduk di sebelah Chana.
“Ibu mu mem-blacklist ku dari segala perusahaan yang ada di negara ini, hanya rumah sakit ini yang mau menerima ku, dulu hati ku sempat merasa rindu dan ingin kembali pada mu, tapi ibu mu yang punya banyak uang itu ingin mengirim ku ke luar negeri, hum!” Chana menyunggingkan bibirnya.
“Jelas saja aku enggak mau, memangnya ibu siapa? Presiden bukan, pemilik Indonesia ini juga bukan! Ibu mu benar-benar membuat aku kembali ke jalan dosa, Lein.” Chana merasa benci jika mengingat kenangan itu.
Mengetahui ibunya ikut campur dalam urusan pribadinya Leon merasa gusar.
“Apa kau ingin tahu apa yang ku lalukan?” ucap Chana.
“Tidak! Itu urusan mu.” Leon menolak karena tak sanggup mendengar cerita yang telah di lalui kekasihnya selama ini.
“Aku menikahi suami orang saat masih berusia 19 tahun.” pengakuan Chana membuat Leon tercengang.
__ADS_1
“Kenapa kau enggak pernah berubah?” Leon marah karena kekasih jadi perebut suami orang.
“Aku enggak dapat kerja dimana-mana, aku gengsi kalau harus jadi pengemis, aku takut ketagihan kalau harus jual diri seperti yang pernah ku lakukan pada mu, bukannya lebih baik jadi istri simpanan?” Chana tersenyum melihat ekspresi marah Leon.
“Kenapa kau tak temui aku, aku pasti membantu mu! Kau tahu, kapan pun aku siap menikahi mu, kenapa kau malah mengikat janji dengan dengan orang yang telah beristri?” Leon memijat pelipisnya yang terasa sakit.
“Itu karena kau suka main wanita! Bahkan Jesika kau serong juga! Apa menurut mu kau yang sudah tidur dengan banyak perempuan bisa di jamin setia? Lalu apa beda mu dengan suami ku? Rasanya dia jauh lebih baik dari pada kau, karena dia hanya punya dua wanita di hidupnya!” Chana meluapkan kekesalannya pada Leon.
“Kau benar, aku memang pencinta wanita, tapi... yang pernah tidur dengan ku hanya kau seorang, yang lainnya hanya sebatas peluk dan cium.” Leon mengatakan kenyataan yang sebenarnya.
“Hanya kau dan Tuhan yang tahu kebenarannya.” Chana tetap tak percaya meski pun Leon telah jujur padanya.
“Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku tidak berbohong pada mu,” ucap Leon.
“Baiklah, ku hargai pengakun mu. Leon... aku mau saja menjadi teman mu, tapi untuk bersama lagi itu benar-benar enggak mungkin.” kemudian Chana bangkit dari duduknya karena ia melihat busway sudah datang.
“Aku hidup di dunia ini hanya untuk menjadi pendamping mu?” ucap Leon.
“Dasar tamak!” Chana yang takut ketibggalan bis segera naik ke dalam busway.
Setelah Chana pergi, Leon pun bangkit dari duduknya.
Setelah itu ia pulang ke rumah dengan hati panas membara.
30 menit kemudian Leon pun sampai ke rumah, ibunya yang ingin masuk kamar melihat kehadiran Leon yang terlambat pulang.
“Segera ganti baju, terus makan,” ujar Aminah.
“Aku mau bicara bu,” ucap Leon.
“Ibu juga mau bicara, tapi besok saja.” Aminah yang lelah ingin segera tidur.
“Tapi aku mau sekarang, ayo duduk di ruang tamu sebentar bu.” Leon yang emosi tak ingin menunda sampai esok hari.
“Ya ampun... ada apa sih!” Aminah pun mengikuti kemauan anaknya. “Ayo!” pekik Aminah dengan raut wajah kusut.
__ADS_1
Setelah keduanya duduk, Leon pun mulai mengutarakan apa yang ingin ia katakan.
“Kenapa ibu mematikan rezeki Chana?” Leon bertanya tanpa berbasa-basi lagi pada ibunya.
”Maksud mu Chana mantan pacar mu?” tanya Aminah tanpa ada perasaan bersalah pada orang yang ia sakiti.
“Iya! ibu tahu, karena ulah ibu aku jadi kehilangan dia! Pada hal aku sangat mencintainya sampai sekarang! Kenapa ibu melakukan itu padanya? Hidupnya benar-benar kesusahan karena ibu!” Leon membentak Aminah yang telah melahirkannya.
“Karena ibu tidak menyukainya! Terlalu kotor! Ibu tidak akan pernah mengizinkan mu untuk menikah dengannya!” pekik Aminah.
“Aku akan tetap menikahinya!” pekik Leon kembali.
“Leon!”
“Ibu! Aku suka yang kotor-kotor! Karena aku sendiri tidak suci! Jangan paksa aku menikahi Jesika, karena aku sama sekali enggak ada perasaan padanya! Ibu mengertikan?!” mata Leon memerah karena emosinya yang meledak.
“Dasar anak durhaka, ini sebabnya ibu tak mengizinkan mu menikah dengannya, karena kau jadi anak kurang ajar!” Aminah masih saja menyalahkan Chana atas kenakalan selama ini.
“Aku enggak akan kurang ajar kalau ibu tidak ikut campur, cukup restui! Dan tunggu cucu yang banyak dari kami!” ucap Leon.
“Kau!” Aminah yang ingin marah mengurungkan niatnya, sebab Leon mengatakan sesuatu yang janggal di telinganya.
“Hei Leon! Siapapun boleh, kecuali pelacurr itu! Tapi kalau kau enggak punya calon! Jesika wajib kau nikahi! Dengar ya, setelah ayah mu pulang dari Meksiko, kita akan ke rumah Jesika untuk melakukan lamaran, mau tidak mau, suka tidak suka! Kau wajib ikut!” Aminah menekan putra satu-satunya.
“Aku akan ikut, kalau Jesika kita lamar untuk ayah.” Leon yang terus melawan membuat Aminah jengkel.
“Anak setan!” Aminah mengambil pas bunga dari sebelahnya.
Puk!
Ia yang ingin memecahkan kepala putranya harus gagal karena Leon menangkap benda pecah belah yang ia lempar.
“Bu, susah senang aku yang rasakan, jujur saja ku katakan, cinta ku tak pernah luntur padanya meski sudah 9 tahun berpisah, kalau ibu mencintai ku, biarkan aku memilih pasangan hidup ku,” ucap Leon.
...Bersambung......
__ADS_1