Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Menemui Leon


__ADS_3

Pada suatu hari, Chana yang baru selesai menggoreng merasa heran, sebab tak ada orang yang memborong gorengannya lagi.


Chana yang takut Mirna marah terpaksa membawa 5 macam gorengan penuh di atas nampan ke lampu merah yang ada di depan warung mereka.


“Gorengan! Gorengan!” Chana begitu bersemangat menawarkan dagangannya.


“Hei, Chana!” Laras memanggil nama keponakannya dengan lantang.


Sontak Chana menoleh ke sebelahnya, ia pun melihat keluarga tantenya dalam mobil peninggalan ayahnya.


“Ku kira kau sudah sukses setelah kabur dari rumah kami, ternyata cuma jadi penjual gorengan, hahaha!” Laras meledek Chana.


“Yang penting halal, dari pada kalian, makan harta anak yatim piatu, enggak kebayang, siksa kubur dan nerakal yang akan kalian dapatkan! Hahaha!” kata-kata menohok Chana membuat Laras ingin keluar dari dalam mobilnya.


“Mama sudahlah, enggak usah ladeni orang miskin itu! Nanti kalau kau bersentuhan dengannya, mama malah ketularan nasib susahnya lagi!” Hariman menatap remeh keponakannya.


“Tunggu sebentar pa.” Laras pun keluar dari dalam mobil, kemudian menarik kasar nampan Chana hingga gorengannya berhamburan ke jalan.


“Dengar ya jalangg! Jangan pernah bicara macam-macam lagi pada ku dan keluarga ku! Atau ku buat hidup mu susah! Orang yang tak memiliki masa depan seperti mu tak layak bicara sembarangan pada kami orang terpelajar dan bermartabat!” Laras yang jijik melihat keponakannya langsung meludahi wajah gadis cantik itu.


“Cuih! Najis!” Pekik Laras.


Chana yang marah menatap tajam wajah tantenya.


“Sudah ma, malu di lihat orang!” sikap kasar Laras di saksikan banyak orang yang sedang menunggu lampu hijau.


“Oke pa.” ketika Laras akan masuk mobil, Chana yang tak terima dengan sikap kasar Laras langsung menjambak rambut Laras yang sedang di sanggul.


“Orang tua sialan!” kemudian Chana melepas jambakannya dan mengambil nampannya.


Puk! Puk! Puk!


Chana pun memukul kepala Laras dengan keras. Hariman dan kedua putrinya yang melihat hal itu langsung keluar dalam mobil.


Sedang orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu memberikan beragam reaksi, ada yang tertawa, ada juga yang memanas-manasi.


“Mati kau!” Chana memukul kepala Laras tanpa ampun.


Ketika Hariman, Meri dan Mita ingin membalas pukulan Chana, orang-orang yang ada di tempat itu pun memisahkan mereka.


Keluarga Hariman yang takut di giring ke kantor polisi pun dengan cepat masuk ke dalam mobil karena kebetulan saat itu sudah lampu hijau.


Sedang Chana yang masih di tempat perkara merasa sakit hati.

__ADS_1


Aku harus melanjutkan sekolah ku, aku harus meraih cita-cita ku, aku wajib jadi apoteker sukses! batin Chana.


Ia yang terkendala di biaya pun terpaksa mendatangi Leon yang terlanjur kaya.


Chana yang kotor dan bau asap pulang ke kosannya.


Kemudian ia pun mandi dan memakai baju terbaiknya, selanjutnya Chana memesan ojek online menuju rumah Leon.


Setelah sampai Chana menekan bel, lalu Ardi mendatanginya.


“Kau lagi?” Ardi menatap tak suka pada Chana.


“Cepat buka pagarnya! Aku ada perlu dengan Leon!” Chana yang tak ingin di remehkan bicara dengan lantang.


Kemudian Ardi yang tersentak pun membuka pagar untuk kekasih tuannya.


Setelah itu Chana masuk dan berjalan lurus menuju pintu utama kediaman keluarga Adipati.


“Astaga! Kenapa pintunya jauh banget sih!” Chana mengeluh sebab kakinya terasa lelah berjalan di tambah dengan terik matahari yang membakar tubuhnya.


Para Art yang melihat kedatangan Chana menatap aneh, sebab itu pertama kalinya ada tamu yang datang dengan berjalan kaki.


“Apa pacar ku di dalam?” Chana memperjelas posisinya agar urusannya lebih mudah untuk bertemu Leon.


“Dianna Chana, sampaikan padanya aku rindu.” kata-kata berlebihan Chana hampir membuat 5 art yang sedang bekerja di teras tertawa.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Helena pun masuk ke dalam rumah dan menemui Leon yang sedang berpulukan dengan Titik kekasih barunya.


“Permisi tuan, ada Dianna Chana di depan, dia juga menyuruh saya untuk bilang kalau dia rindu pada tuan.” Helena menyampaikan apa yang di katakan Chana.


“Siapa itu?” Titik melepas pelukannya dari Leon.


“Pacar ku.” jawab Leon dengan jujur.


“Kau selingkuh?” Titik menatap marah pada kekasihnya.


“Iya, tapi yang selingkuhan itu kau, bukan dia,” ujar Leon.


“Enggak jelas banget sih jadi cowok?! Buaya! Ku pikir aku satu-satunya, ternyata salah satunya!” Titik yang emosi bangkit dari sofa.


“Kau pilih aku atau dia?” Titik memberi pilihan.


“Kalian berdua,” sahut Leon.

__ADS_1


“Enggak! Harus satu!” Titik tak menerima jika cintanya di bagi.


“Dia.” Leon yang masih sayang tak ingin berpisah dari cinta pertamanya.


“Brengsek! Kau pikir sudah keren karena punya banyak pacar? Enggak! Justru murahan dan enggak pantas di pilih untuk jadi pendamping hidup. Sini upah ku!” Chana meminta gajinya pada Leon.


“Ngoceh-ngoceh tetap mau uang juga, kenapa harus ribut kalau alasan mu bersama ku karena materi, Titik?”


Leon pun mentransfer uang ke rekening kekasihnya melalui handphonenya saat itu juga, sebab itu adalah hak wanita cantik itu.


“Karena segalanya butuh uang, bukan cinta atau pun ketulusan! Kau sendiri pun pasti tahu manfaat uang untuk dirimu sendiri seperti apa, mulai sekarang kita putus, walau aku gila uang, tapi aku masih waras, aku tidak akan pernah menerima laki-laki yang suka main perempuan.” Titik yang telah mendapat maunya meninggalkan Leon yang duduk di atas sofa.


Leon menghela napas panjang, karena sepanjang perjalanan cintanya, ia belum menemukan wanita yang menolak uangnya.


“Bukan pelit tapi aku hanya penasaran, ada enggak ya wanita yang mau pada ku kalau aku miskin?” ternyata Leon masih memikirkan yang tulus untuknya.


🏵️


Pada saat Titik keluar dari pintu utama, ia pun berpapasan dengan Chana.


“Oh, jadi kau pacarnya?” Titik menatap tajam Chana dari ujung kepala sampai kaki.


Chana yang melihat Titik dapat menebak, jika itu adalah pacar baru kekasihnya.


“Iya, akulah orangnya.” meski hatinya sakit namun Chana mencoba menegar kan diri, sebab ia tak ingin terlihat lemah di hadapan wanita lain.


“Jelek!” Titik menyunggingkan bibirnya, kemudian pergi meninggalkan rumah mantan kekasihnya.


Chana pun memperhatikan gaya Titik yang terlihat elegan, apa lagi gadis cantik itu menaiki mobil sport mahal.


Keren banget dia, batin Chana.


“Ada perlu apa?” tanya Leon yang kini berdiri di belakang Chana.


Kemudian Chana menoleh ke arah Leon dengan tatapan penuh makna.


Wanita itu baru saja menyentuh mu, batin Chana.


“Untuk apa kau kesini, Chana?” tanya Leon kembali.


“Aku mau kita bersama lagi, Leon.” Chana harus menelan harga dirinya demi mencapai cita-citanya.


“Apa? Aku enggak salah dengar nih?” Leon tertawa getir pada kekasihnya yang selalu jual malah.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2